catatan

Global Warming: Waktu untuk Merevitalisasi Transportasi Umum

21.29.00

Pasca menulis di melekin.id saya sempat hiatus beberapa saat, hingga saya melihat film terbaru Leonardo DiCaprio. Leonardo Dicaprio, aktor tampan yang banyak dikenal karena berperan dalam salah satu film romantis "Titanic" itu, dalam film dokumenter terbarunya tampak berpidato di hadapan para pemimpin dunia. Artis terkenal itu rupanya ikut dalam sidang PBB. Jauh hari sebelumnya, dia sudah berkeliling dunia, ke India, Indonesia, Amerika, Eropa, dan lain-lain untuk menjadi aktor sekaligus narator dalam sebuah film dokumenter, "Before the Flood". The message here is short and simple. Global warming is real, global warming itu nyata. Melihat film itu membuat saya tergugah--meski film itu tidak lepas dari banyak kritik--. Wah, sepertinya topik ini akan bagus untuk diulas jadi sebuah tulisan. Maka jadilah tulisan ini, dan kemungkinan beberapa tulisan berikutnya, yang akan membahas tentang global warming. Pada tulisan ini saya akan membahas apa itu global warming dan salah satu solusi yang saya pikir dapat menjadi alternatif untuk mengatasi masalah global warming.

Apakah Global Warming itu Nyata?

Global warming, menurut saya dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dan sebuah keadaan. Sebagai sebuah proses, global warming adalah sebuah runtutan peristiwa atau kejadian yang menyebabkan keadaan suhu bumi meningkat, menjadi lebih hangat dan lebih panas dari pada kondisi sebelumnya. Sebagai sebuah keadaan, global warming adalah sebuah kondisi, a state, di mana suhu bumi secara umum relatif panas sehingga menyebabkan perubahan-perubahan iklim dunia. Dua definisi ini saling berkaitan, dan menurut saya saling melengkapi.

Berdasarkan dari pengamatan NASA, sebenarnya bumi kita ini memang mengalami pemanasan dan pendinginan secara teratur, alias memiliki siklus natural warming-and-cooling. Kita memiliki ‘gas rumah kaca alami’ yang ada di atmosfer bumi[1]. Bumi kita yang kecil ini mendapatkan cahaya dan energi panas dari matahari. Sekitar 30% dari cahaya dan energi panas matahari itu terpancar kembali ke luar permukaan bumi, sementara sisanya diserap oleh batu-batuan, tanaman, air, udara, gedung dan lain sebagainya. Benda-benda yang menyerap energi panas matahari di permukaan bumi ini, akan kembali memancarkan atau meradiasikan energi panas ke luar dari dalam dirinya, salah satu arah pancarannya adalah menuju atmosfer. Di atmosfer kita terdapat gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana dalam jumlah tertentu. Gas-gas pengikat energi panas ini, akan menyerap energi panas yang dipancarkan dari permukaan bumi tersebut. Saat mereka mendapatkan energi panas itu, molekul-molekul gas-gas tadi akan berubah menjadi semacam penghangat kecil, yang membuat mereka juga akan memancarkan kembali energi panas itu, sekalipun bila tidak ada api. Akhirnya kembalilah energi panas tadi ke permukaan bumi.

Bayangkan saja kita sedang bermain dakon. Biji dakon itu anggaplah sebagai energi panas, sementara cekungan-cekungan alias lubang dakon itu sebagai tempat energi panas itu dapat menetap. Anggap saja salah satu anggap saja bumi. Nah, gas rumah kaca itu, adalah tangan kita yang mengembalikan energi panas yang kita ‘ambil’ dari bumi, lalu kita kembalikan lagi ke ‘lubang’ bumi lagi setelah berkeliling dari lubang-lubang lainnya.

Bila jumlah gas rumah kaca yang ada di atmosfer sangat banyak, maka radiasi energi panas yang kembali ke bumi juga akan sangat banyak, sehingga terjadilah peningkatan suhu bumi yang cepat, alias global warming[2].
Grafik jumlah karbon dioksida dan metana dari tahun ke tahun hingga tahun 2000. Terlihat bahwa jumlah karbon dioksida dan metana terus mengalami peningkatan, kecuali metana untuk tahun 2000 terlihat mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sumber: earthobservatory.nasa.gov 
Dalam salah satu mosi debat bahasa Inggris yang pernah saya ikuti, keabsahan global warming ini sempat dipertanyakan. Dan perdebatan ini pun juga ada di dunia nyata. Dari filmnya si Leonardo itu, digambarkan ada salah satu ilmuwan yang didiskreditkan karena menyimpulkan bahwa bumi semakin memanas, dan bahwa global warming adalah sesuatu yang nyata dan berbahaya. Bila kamu browsing di dunia maya dengan keyword ‘climate change denial’ pun akan banyak fenomena yang bisa dipaparkan mbah google tentang adanya perdebatan tentang global warming itu sendiri.

Perdebatan itu tentu bukan tanpa alasan. Bila secara ilmiah diakui bahwa global warming itu nyata, maka implikasi atau pengaruhnya akan merembet pada banyak hal. Kebijakan politik, perjanjian internasional, alokasi anggaran pemerintah, dan lain-lain akan menyesuaikan dengan pengetahuan yang diakui oleh pemerintah. Seperti misalnya, terjadinya kesepakatan Paris, untuk mengurangi tingkat emisi dunia-dunia yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Dalam hal ekonomi, bahan bakar yang berkontribusi besar dalam proses global warming ini tentunya akan cenderung dihindari oleh masyarakat global. Pola konsumsi akan berubah secara masif. Sebut saja produksi C02 (karbon dioksida), CH4 (metana), N02 (nitrogen oksida), akan sebisa mungkin dihindari. Tingkat konsumsi daging sapi misalnya, pasti akan mengalami penurunan sebab bila kita banyak mengonsumsi daging sapi, begitu buang air besar maka metana yang kita keluarkan akan banyak. Dan karena itulah, salah satu saran yang diusulkan oleh ilmuwan dalam film ‘Before The Flood’ itu adalah mengganti konsumsi daging sapi dengan daging ayam bagi orang-orang di Amerika. Siapa yang rugi? Tentu saja mereka yang punya kepentingan untuk mendapatkan uang dari situ.

Sejak tahun 1920, suhu bumi kita diketahui semakin meningkat, bila pun ada penurunan, rata-rata terjadi peningkatan suhu yang lebih tinggi[3]. Dalam prediksi tingkat panas yang paling tinggi, pada abad ke 21 ini akan terjadi peningkatan suhu sampai sekitar 4.8 derajat celcius[4]. Penelitian pada tahun 2015 yang dipublikasikan di jurnal Science oleh Karl et al., menambah kuat dugaan bahwa global warming itu tetap terus terjadi hingga abad ke 21 ini, dan pemanasan global itu akan semakin meningkat apabila kita tidak bertindak[5].
Grafik peningkatan suhu dari hingga tahun 2000. Terlihat bahwa mulai dari tahun 1920 terjadi peningkatan suhu bumi, dan sempat mengalami penurunan sekitar tahun 1950, namun mulai tahun 1980 meningkat secara drastis hingga 2000. Sumber: earthobservatory.nasa.gov

Apakah Global Warming Berbahaya?

Sekarang pertanyaan berikutnya, seberapa berbahayakah global warming itu? Apakah perubahan suhu bumi yang semakin memanas itu membahayakan kita? Jawabannya, iya. Perubahan suhu bumi yang semakin memanas akan menghasilkan dampak-dampak tertentu yang buruk bagi para penghuni bumi, termasuk kita sebagai spesies manusia yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur bumi ini.

Dampak pertama adalah mencairnya es di kutub utara atau kutub selatan. Mencairnya es ini (dan sampai sekarang terus terjadi), akan meningkatkan permukaan air laut. Oleh sebab itu, maka potensi banjir di daerah tepi pantai akan semakin meningkat[6]. Pulau-pulau kecil bisa jadi tenggelam, dan lahan di daerah pantai bisa berkurang karena air laut meninggi.

Dampak berikutnya adalah daerah basah, alias sering hujan akan semakin basah, sementara daerah kering seperti daerah rawan curah hujan akan semakin kering[7]. Hal itu terjadi karena saat suhu bumi semakin panas, maka proses penguapan air akan semakin cepat. Di daerah yang curah hujannya tinggi alias tersedia banyak air di permukaan tanah, maka air akan cepat menguap, siklus hujan akan cenderung cepat terbentuk, maka hujan akan cepat turun pula. Sementara di daerah yang curah hujannya rendah, alias kering, yang memiliki jumlah air cenderung kecil, akan semakin sulit untuk menemukan air karena air di permukaan akan semakin cepat menguap. Dengan demikian, pada daerah yang basah, jumlah air akan semakin banyak, potensi banjir akan semakin meningkat. Pertanian atau perkebunan akan terpengaruhi oleh keadaan ini. Kegagalan panen akan semakin meningkat karena banjir dapat merusak tanaman mereka. Sementara pada daerah kering, air akan semakin sulit didapatkan. Kesulitan mendapatkan air ini tentu berdampak pada kesehatan dan harapan hidup orang yang berada di daerah tersebut. Memasak akan sulit, mandi akan sulit, minum pun juga pasti akan sulit.

Dampak berikutnya adalah potensi terjadinya heat waves, atau gelombang panas, juga akan semakin tinggi. Tidak hanya intensitasnya, kualitas dari gelombang panas yang terjadi pun juga tinggi. Heat waves adalah sebuah kondisi di mana suhu di sekitar kita terasa sangat panas, bahkan di malam hari sekalipun[8].  Bayangkan bila selama seminggu kita beraktivitas dengan kondisi lingkungan sekitar yang sangat panas, sampai 45 derajat celcius, bahkan lebih. Bayangkan bila heat waves yang terjadi di Mitribah, Kuwait[9], saat suhu lingkungan mencapai 54 derajat celcius kita alami selama satu minggu? Pernah lihat teman kita yang jatuh pingsan saat upacara bendera karena kepanasan? Kira-kira seperti itulah yang bisa kita alami. Yang paling buruk, kita bisa mati karena kepanasan.

Alhamdulillah pada tahun 2014, dalam laporan penilaian kelima Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), disimpulkan bahwa kemungkinan besar pengaruh manusialah yang menjadi faktor dominan terjadinya pemanasan (bumi) yang telah diamati sejak pertengahan abad ke 20[10]. In short, dari situ telah diakui bahwa terjadi pemanasan global, yang lebih lanjut diduga disebabkan oleh faktor manusia. Dalam Sustainable Development Goals, target ke 13 yang dicanangkan pun juga berkaitan dengan isu perubahan iklim, yang artinya, para pemuka dunia telah mengakui ada masalah perubahan iklim yang akan terjadi beberapa tahun ke depan[11]. Perjanjian Paris, yang berbicara masalah perubahan iklim dan tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasinya, juga telah disepakati oleh berbagai negara di dunia.

Global warming itu nyata, dan berbahaya. Kita adalah aktor yang menyebabkan hal tersebut, maka seharusnya kita pula yang melakukan tindakan untuk mengatasinya. Bukankah begitu?

Revitalisasi Transportasi Umum

Kota Tallinn di Estonia menerapkan transportasi publik tanpa biaya. Sumber: theguardian.com
Transportasi umum atau transportasi publik, dalam pandangan saya adalah kendaraan bukan milik pribadi atau milik pribadi yang digunakan untuk kegiatan bepergian oleh masyarakat umum dengan memberikan biaya sewa tertentu sebagai balas jasanya. Definisi ini saya ambil dengan melihat kenyataan di Indonesia, seperti penggunaan bus, taksi, ojek dan lain sebagainya. Sementara di negara lain, pengertian dengan biaya sewa tertentu itu bisa saja tidak berlaku, sebab public transportation bisa jadi gratis, seperti yang ada di Tallinn, ibu kota negara Estonia, atau Hasselt, Belgia[12].

Kendaraan yang biasa kita gunakan, seperti motor, mobil, dan lain sebagainya, merupakan salah satu sumber adanya karbon dioksida yang akhirnya berkelana ke atmosfer bumi kita. CO2 dihasilkan sebagai hasil pembakaran dari bahan bakar fosil (bensin, solar, dan seterusnya) dan aktivitas pabrik. Sekitar 65% gas rumah kaca adalah gas karbon dioksida[13]. Karbon dioksida merupakan gas rumah kaca paling banyak yang dihasilkan di dunia. Di Amerika Serikat sendiri, penyumbang terbesar kedua emisi CO2, berasal dari sektor transportasi, yaitu sebanyak 31%. Sementara dari hasil aktivitas elektronik sebanyak 37%[14]. Selain Amerika, China juga menjadi salah satu negara yang memberikan sumbangan terbesar dalam produksi CO2.

Secara prinsip, apabila kita mampu mengurangi jumlah kendaraan yang kita gunakan, atau mengganti kendaraan yang menghasilkan gas buang berupa CO2 dan sejenisnya, maka kita juga dapat mengurangi produksi CO2. Dampaknya adalah, lambat laun kita dapat mengurangi jumlah gas rumah kaca yang ada di atmosfer, dan mengembalikan atau menjaga suhu bumi kita agar tidak semakin panas lagi. Bagi saya sendiri, gagasan ini patut untuk diperjuangkan. Tentu saja dengan melakukan tindakan-tindakan lain yang juga akan berperan besar untuk mengurangi produksi gas rumah kaca, seperti mengurangi tingkat konsumsi bahan bakar fosil dan lain sebagainya.

Kendaraan di Indonesia

Di Indonesia, data terakhir dari BPS pada tahun 2015 menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 121.394.185 unit[15]. Dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, terus terjadi peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia. Sejak tahun 2009, peningkatan kendaraan bermotor kurang lebih mencapai 10 juta per tahun dan terus konsisten hingga terakhir di tahun 2015. Peningkatan paling tinggi selalu dialami oleh sepeda motor. Bahkan, sejak tahun 1996, sepeda bermotor sudah berjumlah 10 juta, paling tinggi dibandingkan dengan kendaraan lain yang didata oleh BPS. Jumlah itu secara konsisten terus mengalami peningkatan hingga tahun 2015. Walaupun demikian, jumlah mobil penumpang juga banyak, sekitar 13 juta di akhir tahun 2015. Jumlah kendaraan sebanyak itu, saya rasa menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia lebih menyukai menggunakan kendaraan pribadi untuk mendukung berbagai aktivitas kesehariannya. Bahkan sejak sekolah, anak-anak kita sudah diajari dan diperbolehkan untuk membawa motor sendiri untuk bersekolah bukan?

Melekatnya kendaraan dengan kehidupan kita sehari-hari bukanlah tanpa sebab. Di jaman modern ini, kita dituntut untuk semakin cepat, efisien, dan menghasilkan banyak karya dalam waktu yang sedikit. Kerja dari jam 8 pagi, pulang jam 5 sore, di rumah mengerjakan deadline untuk esok hari. Anak-anak yang masih sekolah pun, juga memiliki rutinitas yang sama. Tuntutan tepat waktu dan disiplin membuat kita harus memiliki teknologi yang mampu membuat kita berpindah tempat dengan cepat, dan fleksibel sesuai dengan keinginan kita. Sangat menyulitkan bukan, apabila kita harus berangkat ke sekolah atau bekerja jam 8 pagi, namun tidak memiliki kendaraan dan harus mengantre lama di bis? Beruntung kalau sampai di kantor atau sekolah tepat waktu, kalau sudah menunggu dan antre dari pagi namun sampainya kesiangan, ya itu namanya cobaan hidup. Efisiensi dan kemudahan itulah yang membuat kendaraan pribadi, khususnya motor di Indonesia menjadi pilihan utama bagi mayoritas masyarakat kita.

Mewujudkan Transportasi Umum yang Menarik

Apa yang membuat masyarakat mau dan senang menggunakan transportasi publik? Tentunya apabila mereka juga mendapatkan kemudahan dan efisiensi yang serupa dengan apabila mereka menggunakan kendaraan pribadi. Semakin jauh jarak yang harus mereka tempuh, rata-rata masyarakat akan memilih untuk menggunakan kendaraan umum seperti kereta api, pesawat, dan lain sebagainya. Kecuali apabila mereka memiliki mobil sendiri, biasanya masyarakat kita akan lebih memilih menggunakan mobil itu untuk bepergian. Hal ini menunjukkan bahwa kenyamanan dan fleksibilitas masih menjadi pilihan utama dari masyarakat kita.

Bagaimana caranya, agar masyarakat mau mengubah pola berkendara mereka?

Tentunya, transportasi publik harus menjadi nyaman untuk masyarakat. Kenyamanan itu bisa datang dari banyak hal, baik dari segi fisik kendaraan itu sendiri, atau dari segi pelayanan yang diberikan, atau yang lain. Dari segi fisik, misalnya, tempat duduk harus nyaman. Jarak antar penumpang tidak boleh terlalu sempit. Ruang kendaraan juga harus bersih, bahkan wangi, dan juga adem alias tidak gerah. Sopir harus ramah, bahkan kalau bisa lebih ramah dari mbak-mbak penjaga kasir di pasar-pasar. Faktor harga juga tidak kalah penting. Harga boleh mahal asalkan pelayanannya nyaman, tapi secara alami, semakin murah pasti akan semakin banyak orang yang membeli.

Berikutnya adalah masalah tata kota. Banyak orang menggunakan kendaraan itu untuk bekerja, belanja, mengantarkan anaknya sekolah, dan lain sebagainya. Untuk memangkas faktor jarak, maka posisi kantor, sekolah, tempat berbelanja, dan lain sebagainya dapat ditata sedemikian rupa sehingga tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh sekali jalan. Memang untuk merealisasikannya dapat dipastikan membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun sebaiknya pemerintah yang merintis pembangunan di daerahnya memerhatikan penempatan ruang-ruang publik tersebut.

Untuk menjembatani masalah di atas, maka perusahaan atau sekolah dapat memberikan fasilitas antar jemput dengan menggunakan kendaraan yang dimiliki oleh sekolah atau perusahaan itu. Apabila di tengah kerja mereka harus pergi mendadak, dapat dijembatani dengan memberikan kendaraan umum yang dapat disewakan pada para karyawannya. Dengan demikian mereka masih tetap dapat bepergian dengan fleksibel walaupun di tengah jam kantor.

Fleksibilitas memang faktor paling utama yang membuat masyarakat memilih kendaraan pribadi untuk menunjang kenyamanannya berkendara. Namun, saya percaya sebagian besar masyarakat kita masih memiliki kesadaran yang tinggi dan masih memiliki kepedulian yang besar untuk menjaga lingkungan kita agar tidak rusak. Sosialisasi dan penyadaran, melalui lembaga-lembaga pendidikan, sosial media, peraturan pemerintah, dan jalan lain saya ras mampu untuk meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga lingkungan kita agar tidak terjadi kerusakan alam.

Secara prinsip, ada banyak pihak yang harus berperan. Pemerintah menyediakan infrastrukturnya, perusahaan atau sekolah atau ruang publik lain dengan kebijakannya masing-masing, serta masyarakat dengan kerelaannya untuk mengubah gaya hidup saat ini menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai salah satu manusia yang mengemban amanah untuk mengelola lingkungan, saya berpikir inilah saatnya untuk menjaga keseimbangan alam.

----

[1] Global Warming, 20:24 WIB, 5 April 2017.
[2] Global Warming, 20:24 WIB, 5 April 2017.
[3] Global Warming, 20:20 WIB, 5 April 2017.
[4] IPCC Fifth Assesment Report, 2013, hlm. 20. Diakses dari 20:00 WIB, 5 April 2017.
[5] Karl et al., "Possible artifacts of data biases in the recent global surface warming hiatus", Jurnal Science, vol. 348, isu 6242, hlm. 1469-1472, 26 Juni 2015. Didapatkan dari sini, diakses pada 20:33 WIB, 5 April 2017.
Penelitian ini, menurut John J. Bates adalah penelitian yang tidak absah karena menggunakan data-data yang ‘terlalu dipaksakan’. Pembaca bisa melihat pendapat beliau di sini. Namun peneliti lain membela hasil penelitian Thomas R. Karl ini, pembaca dapat melihat di sini.
[6] Global Warming 101, 19:40 WIB, pada 6 April 2017.
[7] Are effects of global warming really bad? 19:53 WIB, pada 6 April 2017. 
[8] Heat Waves Details, diakses pukul 20:08 WIB, pada 6 April 2017.
[10] IPCC Fifth Assesment Report, 2013, hlm. 16, 20:00 WIB, 5 April 2017.
[11] Sustainable Development Goals, 20:34 WIB, 5 April 2017.
[13] Global Emissions by Gas, 21:17 WIB, 6 April 2017.
[14] Overview of Greenhouse Gases, 21:21 WIB, 6 April 2017. 


catatan

Koridor

19.21.00

*
Beberapa hari yang lalu, di suatu sore, saya yang belum mandi sejak pagi tidak memiliki seorang kawan pun untuk di ajak berbicara. Hanya aku dan diriku sendiri, huu. Mau mengajak ngobrol seseorang lewat media sosial, juga tidak bisa saya lakukan karena rupa-rupanya akun media sosial saya tidak bisa dibuka. Saya lupa kata kunci dan nama akun saya sendiri. Kalau dipikir-pikir lagi, di media sosial pun saya juga tidak punya kawan untuk diajak bicara sih. Sebabnya, di saat sore hari macam kemarin, saya yakin banyak orang yang sedang repot untuk menyiapkan acara tahun baruan. Maklum, walaupun saya (sedikit) tua, kawan-kawan saya (hampir) semuanya merupakan anak-anak muda yang tidak jengah juga untuk terus mengikuti tren walaupun kadang hanya sepintas saja berlalu di dalam angan, tanpa ada hikmah yang didapatkan. 

Karena tak ada kegiatan, pikiran juga sudah suntuk bila mau terus membaca Behavior Anaysis and Behaviour Modification karya Richard Mallot, Mary Tillema & Sigrid Glenn, maka saya memilih untuk jalan-jalan keliling kota. Jangan salah, saya jalan-jalan betulan lo, alias menggunakan kedua kaki saya ini untuk menyusuri setiap jengkal lahan di kota Madiun yang sudah banyak mengalami perubahan. Em, ya tidak setiap jengkal juga sih, hanya melewati beberapa jalan di kota saja. Dengan jaket hitam dan celana OSIS SMA yang masih saya pakai buat sekalipun, dan kebetulan juga sudah saya pakai lima hari berturut-turut, perjalanan sore itu saya mulai. Ada banyak hal yang saya temui di jalanan, dari kucing yang sedang mengamati manusia yang sliwar-sliwir di depannya, sampai beberapa polisi yang mengawasi dan sepertinya mencurigai saya sebagai teroris yang hendak ngebom markas polisi karena kejadian yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini.

*

Mendung memayungi saya, sore itu. Tampaknya sebentar lagi akan hujan. Namun itu tidak menghentikan saya untuk merasakan kenikmatan yang saya rasakan saat berjalan kaki. Pertama, saya bisa berolahraga dan menjaga badan ini setelah seharian penuh duduk dan tidur-tiduran. Pekerjaan saya sehari-hari memang lebih banyak berkutat dengan laptop ataupun meja tulis. Saya pun jarang menggerakkan badan saya. Dari satu jam saya duduk, paling hanya sekitar satu menit saja saya berdiri dan berjalan kaki. Semakin lama saya jadi merasa seperti pohon, batang dan daunnya hanya bergerak bila tertiup angin sementara akarnya hanya bergerak untuk mencari makan. Padahal bila tidak dijaga dengan betul, di masa tua saya yakin saya bisa mati karena penyakit komplikasi. Entah itu kanker prostat campur jantung koroner, entah itu paru-paru jebol campur multiple sklerosis, entah itu kanker kulit, panu, gagal jantung, dan gagal ginjal. Sebagai sosok yang penakut dan inginnya bahagia di masa tua, saya tidak ingin merasakan penderitaan-penderitaan semacam itu. Saya putuskan untuk banyak bergerak. Bahkan resolusi saya di tahun 2017 adalah saya harus rajin olahraga setiap hari. Entah resolusi itu akan bertahan atau tidak. Bukankah banyak resolusi yang hanya sekedar ucapan? 

Angin kota yang bertiup tidak terlalu kencang pada sore hari itu pun membuat saya terasa dimanjakan. Badan saya yang sudah berhari-hari tidak tersentuh air, serasa seperti habis minum larutan penyegar. Pikiran saya terasa sejuk, dan masalah-masalah yang sebelumnya saya pikirkan sampai beberapa helai rambut saya jadi putih untuk beberapa saat terasa ringan. Mungkin saya belum bisa menemukan solusi saat itu juga. Namun bila otak saya rileks dan tenang seperti itu, berpikir menjadi lebih mudah dan jiwa juga bisa lebih optimis menatap masa depan, halah. Di tambah dengan jalanan kota yang sudah mulai sepi, saya bisa menikmati keheningan lebih dalam, seolah-olah keheningan sore itu memeluk saya dari belakang. 

Saya pun menyadari, ada pula keuntungan berjalan kaki lainnya. Kita jadi lebih leluasa dan lebih jeli mengamati jalanan yang kita lalui. Sungai yang saya kira kotor karena airnya cokelat dalam sekilas pandang itu, ternyata di dalamnya terdapat ikan-ikan kecil yang menari-menari mengikuti arus air. Walaupun berwarna cokelat, masih saja ada ikan yang bisa hidup, rupanya. Apa memang biasanya seperti itu? Saya pun tidak mengerti. Mungkin ikan-ikan itu sebagaimana beberapa orang jaman sekarang. Mereka terus menerus mencari rezeki di tengah impitan hidup. Kalau tidak dimakan ikan yang lebih besar, mereka bisa mati karena tidak kebagian udara.

Selain itu, ternyata arus sungai di sekitar jalan Setia Budi ini lumayan deras walaupun volumenya sedikit. Di pojok bawah jembatan banyak sampah yang entah kapan akan dipindahkan oleh dinas kebersihan. Saluran air kotor atau got bawah tanah yang selama ini saya kira tidak lagi digunakan ternyata sudah ditempati oleh para tikus yang tergusur dari kantor. Dan di tengah itu semua, Kota Madiun sudah semakin ramai dengan orang-orang dan industri, namun semakin sepi dari anak-anak kecil yang main bola sepak di tanah lapang seperti saya dulu. Yah, tapi masa lalu memang masa lalu. Saya harus bisa move-on dari kenangan indah waktu SD saat menendang bola sampai berhasil masuk ke rumah orang waktu mereka sedang masak, misalnya. Walaupun saya sangat ingin anak-anak saya kelak bisa main bola tanpa harus masuk stadion.

*

Karena jalan-jalan kemarin itulah, saya baru tahu bahwa saluran air di pinggir jalan dekat markas brimob itu memiliki dua tingkatan. Yang paling bawah adalah saluran untuk mengalirkan air dari barat ke timur, atau sebaliknya. Jadi semacam sungai kecil begitulah. Kebetulan saat saya lihat kemarin, tidak ada air yang mengalir, justru tumbuh rindang rumput-rumput dan lumut-lumut di sepanjang saluran. Sementara di pinggir saluran itu terdapat bangunan semacam dinding yang tampaknya menjadi tempat mengalirnya air yang datang dari seberang jalan sebelum ikut dalam arus lapisan yang paling bawah itu. Tidak ada lapisan yang menutupinya, karena itulah saya bisa berjalan di dalam got tersebut. Lumut yang berwarna hijau gelap dan jaring laba-laba banyak sekali di sana. Lubang-lubang yang terdapat di lapisan kedua itu sepertinya akan menjadi saluran mengalirnya air dari saluran di seberang jalan. Atau bisa jadi sebaliknya, saluran itu adalah tempat mengalirnya air menuju sungai bila debit air yang masuk sudah terlalu besar dan tidak dapat lagi di tampung di saluran kecil itu. 

Sembari berjalan di tengah got itu, mata saya terpikat akan pemandangan para (sepertinya) polisi yang tengah bermain sepak bola. Diam-diam saya kepingin merasakan sensasi menendang bola dan menjebol gawang, atau menepis tendangan dari lawan lagi. Jangan salah, dulu-dulu saya termasuk pemain sepakbola yang ahli dalam berlari. Ya, berlari saja, lainnya saya tak ahli. Dari jauh, di sebelah timur, empat orang petugas tampak mengamati saya. Saya pun segera melanjutkan perjalanan agar tidak dicurigai sebagai orang yang tidak-tidak. Singkatnya saya pun lolos dari kecurigaan mereka setelah melenyapkan diri saya dari tempat itu, untuk menuju sebuah jalan kecil yang letaknya tak jauh dari situ. 

*

Kaki saya terus berjalan; dan mata saya terus memandang sekeliling. Kabel dan tiang pancang rupanya kian banyak; dinding-dinding bangunan sering membuat saya tak bisa memandang lebih dari 20 meter. Semoga pandangan hati saya tidak sependek itu, sehingga saya buta akan kearifan yang dulu sempat kami tinggalkan. Semoga selalu ada koridor-koridor yang masih terbuka sebagai jalan kembali pada keheningan di tengah hiruk pikuk jaman ini.

catatan

Lima Belas Ribu untuk Simbah

18.43.00

‘Kota’ Caruban semakin hari semakin berkembang. Pembangunan jalan tol, alun-alun kabupaten, hingga pembangunan kantor pemerintah. Tak jauh dari sekolah SMA saya dulu, lahan sawah di sebelah utara jalan yang semula luas membentang harus mengalah sedikit dengan kemajuan zaman. Sejak saya masih kelas 11, lahan sawah yang ada di utara jalan itu sudah mulai diubah untuk mengikuti tata ruang pembangunan daerah.

Walaupun perubahan semakin menjadi, ada pula yang masih tetap seperti dulu. Perubahan-perubahan lainnya antara lain; adanya lampu merah di perempatan sesudah toko buah, dekat dengan lapangan yang sering dibuat untuk pasar malam; di dekat pertigaan jalan di samping kiri SMAN 1 Mejayan sekarang pun juga sudah dibangun lampu merah; sebagian tempat yang dulu merupakan pasar Caruban, sekarang sudah disulap menjadi taman kota. Sepertinya tak lama lagi Caruban akan menjadi pusat ekonomi di Kabupaten Madiun. Sepertinya sih begitu. 

Sementara yang masih tetap keadaannya pun tak kalah banyak. Jalan Raya Ngawi di depan RSUD Caruban, masih ramai dengan truk dan bis. Di jalan Raya Ngawi itu ada sebuah kompleks pertokoan. Berjejer-jejer dari ujung ke ujung berbagai macam toko; dari toko telepon genggam, pakaian, sablon, dan lain sebagainya. Ada pula pedagang kaki lima yang mengadu nasibnya dengan berjualan di depan kompleks toko yang sedang tutup. Memanfaatkan tiadanya pemilik toko itu untuk menyulap kompleks pertokoan yang saya kira pasti mahal harganya itu, menjadi sebuah atap dadakan bagi para pembeli.

Siang tadi, setelah pulang dari Madiun melalui jalan raya Wonoasri yang juga tak luput dari pembangunan, saya sempat mampir di salah satu toko telepon genggam  di jalan raya Ngawi itu untuk membeli sim card baru. Kartu sim yang saya pakai selama ini, sangat sulit mendapatkan sinyal bila saya sedang berada di rumah. Akibatnya aktivitas-aktivitas yang memerlukan koneksi internet sangat sulit saya lakukan. Padahal, saya termasuk orang yang tergantung dengan internet. Tanpa internet hidup saya hampa, halah. Tidak seekstrem itu juga, sih. Tapi memang tanpa internet saya agak kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Sambil menunggu mas-mas yang sedang mengaktifkan kartu sim yang baru saya beli, kedua mata saya tergiur oleh segarnya es oyen yang sedang dibungkusi oleh si kakek penjual untuk pembelinya. Porsinya cukup besarlah, tidak terlalu sedikit. Dengan harga 5000, lebih murah seribu rupiah dari pedagang di tempat lain, saya rasa sudah cukup pantas. Kakek itu merupakan salah satu pedagang keliling yang sepertinya cukup sering berada di tempat ini. Sebabnya yang membeli cukup banyak; ada tiga orang seingat saya yang sedang antre ketika saya mengamati beliau. Kalau tidak sering berada di sini, tidak mungkin ada banyak orang yang antre. 

Namun tidak berhenti di situ mata saya jelalatan. Di samping kakek ini, ternyata terdapat pedagang asongan lainnya yang juga tengah mengadu nasib dengan berjualan banyak hal; kerupuk beras, tape, singkong, dan lainnya. Beliau mengenakan baju khas perempuan Jawa (seperti batik itu, aduh lupa namanya) berwarna biru laut. Dengan jarik cokelatnya dia duduk bersandar di pintu geser toko yang sedang tertutup. Di kepalanya terlilit sebuah kain berwarna abu-abu. Saya menduga itu adalah sebuah selendang, atau entah apa.

Kulit nenek itu sudah berwarna cokelat kehitam-hitaman. Wajahnya sudah sangat keriput, tulang pipinya sampai terlihat. Rambutnya juga sudah banyak beruban, bahkan tidak tersisa warna hitam di kepalanya. Semua rambutnya berwarna putih keabu-abuan. Bibirnya berwarna merah pucat, bahkan cenderung abu-abu hitam. Giginya sudah banyak yang ompong, tersisa sekitar empat atau lima gigi di sisi depan yang terlihat seperti tombak runcing yang sudah rapuh. Barang-barang yang ia jual di letakkan di atas sebuah kardus minuman gelas yang sudah tidak terpakai.

“Piroan mbah?” 

Ujar saya dalam bahasa Jawa Ngoko. Artinya kurang lebih berapaan Nek?. 

“Opone le?”

Balasnya dengan sedikit menyipitkan matanya sambil melihat ke arah saya. Apanya Nak, kira-kira begitu yang beliau katakan. Dia menggeser tubuhnya mendekati saya. Mungkin suara saya terlalu lembut sehingga beliau sulit mendengar apa yang saya ucapkan. 

Dengan telunjuk tangan kanan saya menunjukkan bahwa yang saya maksud adalah kerupuk beras yang beliau jual. Bukannya menjawab berapa harganya, saya malah ditanya tersisa berapa. Maka saya pun menghitung jumlah bundelan kerupuk beras yang ada. Rupanya jumlahnya sepuluh bungkus. 

“Sepuluh Mbah.”

“Oooh, sepuluh.”

Setelah itu beliau malah terdiam. Karena bingung apa yang mesti saya lakukan, maka langsung saja saya bertanya, “Sepuluh ribu Mbah?”

“Wooh, ya jangan.”

“La terus berapa Mbah?”

“Seperti biasanya. Kalau yang buat perempuan, seribu lima ratus satu bungkus. Berarti sepuluh dikali seribu lima ratus.”

“Lima belas ribu berarti ya Mbah?”

Saya baru mengerti bahwa sebenarnya nenek ini berharap saya akan membeli seluruh kerupuk beras yang ia jual. Saya berpikir, jangan-jangan memang hanya sepuluh bungkus ini saja yang ia jual. Sebab dari tali rafia yang ia gunakan untuk mengikat bungkus-bungkus kerupuk beras itu, terlihat sangat pas untuk sepuluh bungkus kerupuk. Dan tidak ada tanda-tanda ada bungkusan kerupuk yang sudah diambil sebelumnya. 

“Rumahmu di mana lo?”

“Saya? Saradan Mbah. La kalau Simbah di mana?”

“Ooh, aku Dumpil le. Sudah pernah ke sana?”

Saya tidak asing dengan kata ‘Dumpil’, namun saya lupa tempat itu ada di mana. Menurut adik saya yang lebih familier dengan daerah sekitar Caruban. Rupanya Dumpil adalah salah satu nama daerah di Balerejo. Balerejo dengan tempat ini, saya kira jaraknya lumayan jauh. Paling tidak kalau berjalan kaki bisa pegal lah. 

“Hahaha. Belum Mbah. Ya nanti kapan-kapan saya ke sana ya Mbah.”

Saya merogoh saku kanan jaket hitam saya. Ternyata hanya terdapat selembar sepuluh ribuan dan beberapa koin yang tidak terdefinisikan jumlahnya. Tidak enak karena sudah membuat beliau berharap, maka saya pun mencari-cari uang lain di dalam tas kecil yang saya bawa. Alhamdulillah, ada satu lembar lima ribuan yang sudah sangat kumal seperti wajah saya. 

“Lima belas ribu ya Mbah.”

Kemudian saya menyerahkan dua lembar uang itu. 

Oleh karena beliau tidak memastikan lagi berapa jumlah bungkus kerupuk beras yang saya beli, maka saya sendiri yang menghitung ulang benarkah jumlah kerupuk beras yang ada di hadapan saya itu berjumlah sepuluh bungkus. Satu per satu saya hitung kembali, dan untungnya tepat sepuluh sebagaimana yang saya bilang sebelumnya. Dari situ, maka saya menduga nenek yang saya hadapi saat ini juga menderita rabun. Dari bola matanya yang sudah sayu itu, memang kelopak mata hitamnya cenderung berwarna abu-abu, tidak hitam sepenuhnya. Dengan kata lain, nenek itu sebenarnya tidak tahu betul berapa jumlah kerupuk beras yang ada dan memercayakan sepenuhnya pada saya untuk menghitungnya. Waduh saya jadi khawatir, kalau-kalau saya salah menghitung, sudah pasti nenek itu akan terdzalimi. 

“Nggak beli tapenya sekalian Nak? Satu saja deh, delapan ribu gitu.”

Sekejap saya langsung menolak. Bukan karena tidak ingin membeli, namun karena saya sudah tak punya uang. Dua ratus ribu pemberian ibu sudah lenyap saya belikan bensin; kartu sim; dan headset yang harganya lumayan menguras kantong. Setelah itu kami sedikit tawar menawar; berapa saja deh, itu yang ada di kantong sini buat simbah; nggak usah ya mbah; dan seterusnya. Pada akhirnya, perdebatan saya menangkan. Hohoho. 

“Sudah itu saja ya Mbah. Saya pamit dulu.”

“Iya le. Iya.”

Dengan membawa sepuluh bungkus kerupuk beras itu saya pulang. Sementara nenek itu masih terus berjuang menunggu dagangannya laku terjual. Semoga modernisasi kota Caruban ikut pula membawa jaminan hari tua yang lebih layak bagi mereka yang saat ini kesulitan menyambung hidup. Semoga ada orang lain yang segera membeli tapemu, Nek.

cerpen

Serial Sudarmardi #1 - Adimas Kanjeng

09.40.00

Darmadi, pria 30 tahun berkacamata dengan gigi geraham yang sudah berlubang itu nampak gusar. Dibolak-baliknya lembar koran pagi yang dia baca itu dengan cepat. Bukan karena klub bola kesayangannya kalah sehingga ia gusar; namun headline koran itu yang membuatnya berkeringat sedari pagi. ‘Adimas Kanjeng Pengganda Uang dari Desa Sukadunia’, begitu tulisan yang terpampang di halaman depan koran itu.

“Kenapa sih Mas?”

Istrinya datang membawakan secangkir jus mangga. Dia memang bukan penikmat kopi, ataupun teh.
Darmadi tidak menjawab istrinya yang sejurus kemudian duduk di sebelahnya. Dia hanya memandang kedua bola mata yang sejak 10 tahun yang lalu selalu membuatnya merasa teduh.

“Kalau ada masalah itu bicara, bukan memandangiku terus.”

Digesernya koran itu, lalu diperlihatkannya pada istrinya.

Tak butuh waktu lama bagi Maryam, istrinya untuk menyadari, rupanya kabar tentang pemuda yang beberapa bulan pindah ke salah satu desa di kabupaten mereka itu sudah jadi berita nasional.

*

Aslinya, Darmadi itu punya pekerjaan di pemerintahan. Mengawali kariernya dari asisten dosen ekonomi universitas tempat dia bekerja, kemudian ikut meneliti di lapangan, kemudian memegang jabatan staff perumus kebijakan daerah di kabupatennya. Kariernya sangat moncer, sampai akhirnya dia ditugaskan ke daerah pelosok di Jawa ini dengan tantangan besar; mengubah paradigma masyarakat desa yang tidak mau mengikuti perubahan zaman. Dalam waktu 10 tahun terhitung dari 3 tahun lalu, dia diberi target untuk bisa setidaknya membuat orang tua dan warga di sekitarnya untuk tidak lagi menggantungkan diri pada klenik, mau menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal, bisa mandiri dan tidak lagi menggantungkan diri pada para tengkulak. Beruntung bagi Darmadi, Maryam, adik kelasnya di jurusan yang sama, begitu setia mendampinginya sampai sekarang. Padahal sebenarnya hidup mereka tak nikmat-nikmat betul. Baru-baru ini saja, mereka bisa dengan rutin menikmati waktu pagi bersama. Sebelumnya? dari pagi hingga malam, Darmadi harus selalu di kantor, menghabiskan waktu untuk merumuskan kebijakan yang diminta bosnya.

Masalah Adimas Kanjeng ini, bukan masalah pertama yang dia hadapi di Kabupaten Majumundur ini. Ini merupakan kasus ke sekian yang dia anggap sebagai masalah.

Masih ingat betul dia akan kasus pertamanya; seorang anak remaja yang susah mencari kerja di berbagai tempat diminta oleh keluarganya sendiri untuk disucikan, katanya dia digandrungi oleh dedemit. Berikutnya pohon di pinggir jalan desa yang memang berukuran besar itu tak boleh dipotong oleh warganya karena katanya menyimpan tetuah dari para leluhur, padahal pohon itu sangat membahayakan bila hujan deras karena akan rawan tumbang. Belum lagi kasus Markonah dan Sajali, dua pemudi yang katanya membantu teroris Sasanto. Tidak terbayang olehnya, masalah yang dia hadapi akan serumit ini. Belum lagi kasus beberapa bulan yang lalu, di mana dia harus menghadapi ketua RT yang lama karena ada indikasi kuat dia korupsi dengan mengatakan bahwa dana desa itu dilalap oleh leluhur dan sialnya semua orang desa Sukadunia ini mempercayainya. Dan akhirnya yang terbaru, muncullah kabar bahwa ada seorang pemimpin padepokan yang mampu menggandakan uang dari desanya yang jadi berita hits seantero negeri.

*

“Apa yang kamu khawatirkan Mas? Kamu tahu aku akan mendengarkannya.”

“Aku bingung Dek, apa yang harus kulakukan kali ini. Kamu tahu sendiri, begitu banyak orang desa yang sekarang percaya pada dirinya karena kata mereka, Dimas itu benar-benar bisa menghasilkan uang.”

“Masih banyak sekali kesyirikan di desa ini ya, Mas.”

Darmadi mengangguk. Dipandangnya istrinya yang entah kenapa, baginya tak pernah berubah kecantikannya sejak 10 tahun dia mengenalnya.

“Mungkin kita, atau pemerintah, atau orang lain, punya andil dalam memelihara kemusyrikan ini.”
Maryam meninggikan alisnya.

“Maksud Mas?”

Darmadi menyeruput jus mangga bikinan istrinya itu.

“Kamu tahu semua orang butuh uang, dan pemerintah kita sulit menyediakan uang itu untuk orang-orang di sini. Mereka terlalu mementingkan angka-angka makro, dengan sedikit memerhatikan indikator-indikator mikro. Padahal dari teori dasar ekonomi pun, kesenjangan pendapatan itu bisa menjadi momok sebuah negara. Kamu mengerti bukan?”

“Iya Mas. Tapi menurutku tidak lantas karena itu akhirnya mereka harus memalingkan diri pada bantuan jin ataupun setan. Apalagi dengan kedok karomah. Adek sama sekali tak percaya kalau kemampuan Dimas itu merupakan karomah dari Allah. Buat apa Allah memberikan karomah yang bisa menyebabkan inflasi besar-besaran? Abu Dujanah, sahabat Nabi yang berperang mati-matian hingga punggungnya terpanah melindungi Nabi di perang Uhud saja tak pernah punya karomah. La si Dimas ini, amal apa yang dia lakukan sampai punya karomah sedemikian itu?”

“Hush, tak baik Dek bicara seperti itu. Kita harus tahu dulu seperti apa sebenarnya aktivitas di padepokan Adimas itu.”

“Iya Mas, maaf ya. Kalau begitu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan mengirim Huda untuk mengamati aktivitas di sana. Aku perlu informasi, dan tidak mungkin aku akan datang sendiri. Terlalu berbahaya Dek. Kamu tahu sendiri sekarang hubunganku dengan warga khususnya di desa Sukadunia itu cenderung memburuk. Aku juga perlu menghubungi Pak Broto, kepala desa Sukadunia itu, dan mungkin menghubungi Pak Zaenal dulu. Pekerjaanmu sudah selesai?”

“Belum Mas, masih ada beberapa draft yang perlu direvisi. Tapi ini kan hari Minggu, biar dululah. Aku membantumu dulu untuk mengatasi masalah ini saja.”

“Kalau begitu aku minta tolong kamu hubungi Huda ya, aku keluar sebentar untuk menemui Pak Zaenal, tadi sudah sempat janji sih.”

“Huda disuruh ke sini jam berapa?”

“Jam 9 saja. Aku tidak lama kok ketemu dengan Pak Zaenal, hanya setengah jam saja. Kamu di rumah sendiri, tidak papa kan?”

“Tentu saja Mas.”

Mendengar hal itu, Darmadi segera mengambil sepeda motornya, lalu pergi sambil memandang istrinya yang melepas kepergiannya sambil tersenyum.

*

“Kabarnya Pak Presiden juga pernah mengundang Adimas ke istana.”

Ucapan Zaenal itu bagaikan petir di siang bolong.

“Maaf Pak, Pak Presiden mengundang Adimas ke Istana? Apa benar?”

Lelaki yang sudah berumur sekitar 60 tahunan itu hanya menggerakkan bahunya tanda tak yakin.

“Kabarnya pengikutnya juga banyak. Ada anggota ICMI, MUI, bahkan dengar-dengar sih doktor dan juga beberapa pakar di daerah kita yang menjadi pengikutnya dan mengamini karomah yang dia miliki.”

Darmadi diam seribu bahasa. Kabar ini semakin membuatnya tak percaya; bagaimana bisa orang-orang yang seharusnya lebih paham fiqh, lebih paham sejarah Rasul, lebih paham kitab dan ajaran agamanya, dengan mudahnya memercayai adanya karomah pada seseorang yang tak jelas bagaimana asal usulnya dan apa yang sudah dia lakukan untuk orang-orang di sekitarnya.

“Kamu harus hati-hati Mad, mungkin kamu berhasil di desa-desa yang lain, tapi untuk desa ini kamu perlu pendekatan yang berbeda.”

“Saya tahu Pak. Tapi saya pribadi menganggap ini sudah masuk ke kejahiliahan yang besar. Tapi saya perlu data yang lebih valid lagi.”

“Ya sudah. Yang jelas bila kamu gagal mengatasi masalah ini, kami tidak akan memindahkanmu. Tapi cukuplah mengubah masyarakat di sini menjadi masyarakat yang baik sebagai hukuman sekaligus upaya yang perlu kamu lakukan seumur hidupmu sampai tuntas.”

“Baik Pak.”

Zaenal pun pergi meninggalkan Darmadi yang masih mematung di warung kopi mbah Jani di perbatasan Sukadunia dan Sukamaju.

Dari belakang tiba-tiba terdengar suara nenek-nenek yang berbicara dengan keras menagih lelaki yang baru saja keluar dari warungnya karena dia belum membayar kopi dan tiga gorengan yang barusan dia makan.

*

Darmadi sampai di rumah lebih cepat dari yang dia kira. Di dapur tampak istrinya yang lebih muda dua tahun dari dirinya itu sedang memasak ikan tongkol dengan bumbu cabai yang harum bumbunya sudah tercium dari depan.

“Sudah sampai Mas? Cepat sekali ketemu sama Pak Zaenal.”

“Iya Dek. Huda sudah kamu hubungi?”

“Sudah. Bentar lagi mungkin dia akan datang.”

Tak lama setelah itu suara motor bebek dua tak yang sudah lama tak diganti olinya membuyarkan pembicaraan Darmadi dan istrinya.

“Pak Dammadi! Assalamualaikum!”

Darmadi segera ke depan dan membuka pintu.

“Waalaikumsalam. Kalau bertamu itu salam dulu baru manggil orangnya Hud.”

Pemuda yang mengenakan kopiah miring karena terkena angin selama perjalanan itu hanya terkikik geli.

“Maklum Pak, terlalu senang karena dipanggil oleh Pak Bos. Ada apa ya Pak kok cari saya?”

“Sudah, masuk dulu. Kita bicara di dalam saja. Itu motormu dimasukkan saja sekalian, kalau hujan biar tidak kehujanan.”

Mendung menghiasi pagi hari itu.

“Wah, baiklah Pak. Sebentar ya Pak saya masukkan dulu motornya!”

Darmadi mengangguk pelan, lalu dia masuk ke dalam dan mengambil beberapa cemilan untuk tamunya kali ini.

*

“Kamu tahu Adimas Kanjeng, Hud?”

Huda yang asyik mengemil kacang goreng itu, tersedak begitu Darmadi bertanya padanya.

“Loh, kenapa kamu? Pelan-pelan kalau makan Hud, masih banyak kok masih banyak.”

“Bu-bukan begitu Pak, tapi saya kaget, kok pas sekali saya juga ingin ngomong sama Bapak tentang itu.”

“Tunggu sebentar, panggil saja aku Mas lah. Aku masih muda lo. Dan biasanya kan dirimu juga memanggilku begitu.”

Huda tersenyum nyengir.

“Ya, Mas Darmadi memang masih muda, tapi secara pengalaman kan sudah sepuh, hahaha. Jadi begini Mas Dam,” Huda memang tidak bisa memanggil Darmadi dengan nama panggilan Darmadi. Dia lebih suka menghilangkan huruf ‘r’ di nama Darmadi dan menggantinya dengan huruf ‘m’. 

“Saya dengar cerita dari teman di desa itu, katanya ada padepokan yang mengajarkan shalawat fulus, buat cari uang, dan bahkan orang-orang di sana rela memberikan uangnya untuk digandakan, dan katanya pula, isu yang saya dengar, sebenarnya di situ terjadi pembunuhan dua orang anggota padepokan itu lo Mas.”

“Yang benar Hud? Kamu sudah pastikan?”

“Nah itu masalahnya Mas. Saya belum memvalidasi lebih lanjut. Jangan-jangan Mas memanggil saya ini untuk meneliti masalah padepokan itu ya?”
Darmadi mengangguk pelan.

“Sebenarnya aku ingin kamu ke sana. Teliti apa saja yang bisa kamu teliti. Cari sebanyak mungkin informasi dan sampaikan padaku, apa saja yang menurutmu ganjil. Kamu harus mengikuti acara yang mereka lakukan, dan lainnya. Kamu paham kan?”
Huda membetulkan pecinya yang mau jatuh.

“Jadi ini semacam misi rahasia begitu, Mas?”

“Kau bisa menyebutnya demikian.”

Dari bola matanya yang berbinar, Darmadi bisa tahu kalau Huda tampak senang. Dia memang suka dengan misi-misi semacam ini.

“Kalau begitu mulai besok saya akan beraksi Mas.” Ujarnya sambil mengacungkan jempol.

“Tapi kamu harus hati-hati ya. Jangan sampai tertangkap atau bahkan dilenyapkan.”

“Tentu Mas. Saya selalu mendahulukan kehati-hatian di mana pun saya berada.”

Darmadi tersenyum, sambil tetap mengkhawatirkan keselamatan Huda.

*

“Bagaimana Mas? Sudah bicara dengan Huda?”

“Sudah Dek. Dia sudah paham apa yang kutugaskan kepadanya.”

“Kalau begitu kamu tidak perlu secemas tadi kan? Ini makanlah dulu. Aku sudah menyiapkan makanan buat kita.”

“Oh, sudah siap? Memang kau luar biasa sekali.”

Maryam hanya tersenyum; memandang mata suaminya itu lekat-lekat.

*

Huda segera pulang ke rumah.

Dia hafal betul apa yang harus dia lakukan, sesuai perintah Darmadi. Tak ada keraguan lagi pada Darmadi bagi Huda. Dia merupakan orang yang mampu menyelamatkan desanya dari kekacauan karena kepercayaan bahwa dirinya harus dikorbankan supaya desa bebas dari penyakit, dua tahun yang lalu. Sekarang dia masih sehat, dan warga desa pun percaya kalau tidak ada lagi itu namanya penyakit karena setan dan jin penunggu rumah itu mengamuk dan meminta sesajen. Sekarang dia yakin bahwa seberapa besar kemampuan jin dan setan, Allah jauh lebih dekat padanya. Walaupun tak pintar-pintar amat, Huda ahli betul dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Dia orang yang supel dan ramah, namun awas dan waspada.

Berbekal beberapa pakaian dan uang yang diberikan oleh Darmadi, serta kamera berbentuk kancing yang juga diberikan oleh Darmadi, Huda berangkat menuju desa Sukadunia. Memulai misinya menguak kebenaran tentang Adimas Kanjeng yang katanya mampu menggandakan uang itu. Ini adalah misi ketiganya, dan dia ingin terus berhasil.

*

Berbondong-bondong orang mendatangi padepokan itu sambil membawa tas koper yang berisi uang. Ada yang pecahan 10 ribuan, ada yang seratus ribuan, ada yang berpuluh-puluh juta mereka bawa. Datang dengan niat yang sama; memperbanyak uang yang ada di tangan.
Dari kejauhan Huda melihat mereka sambil memegang telepon di tangan.

“Buset Mas, banyak betul yang datang! Pak Bupati saja datang Mas!”

*

Serial ini adalah fiktif belaka. Kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lain sebagainya, mungkin disengaja dan mungkin tidak disengaja oleh penulis. 

catatan

Kolam Renang dari Misil

20.09.00


ibtimes.co.uk

*

In memory of my grandpa, who taught me that one kindness can fill a whole heart. 
And for you my best friend, I am sorry and thank you.

*

Sebenarnya saya tidak sering membaca berita, khususnya berita-berita internasional. Namun karena beberapa kali ikut membantu persiapan debat teman sejawat, sebagai lawan sparring yang setidaknya harus bisa mengimbangi saat latihan, maka mau tidak mau saya harus membaca-baca berita juga. Hal itu karena mau tidak mau saya harus punya bahan untuk dapat membuat argumen baik jadi tim yang pro atau yang kontra dengan topik yang sedang didebatkan. Ada banyak topik, yang secara menyeluruh sampai sekarang pun masih sulit saya pahami. Oleh karena selain luasnya topik yang diperdebatkan, juga karena sedikitnya waktu untuk benar-benar mendalami tiap bidangnya. Salah satunya berkaitan dengan masalah hubungan internasional. Salah satu tema yang menurut saya sendiri, benar-benar susah bila dijadikan motion debat karena biasanya menyangkut banyak sekali wawasan baik politik, ekonomi, relasi negara, militer, dan lain sebagainya. Motion secara sederhana adalah topik yang akan didebatkan. Tim government memiliki tugas untuk mendukung topik itu apapun caranya, dan tim opposition memiliki tugas untuk menjatuhkan topik itu apapun caranya.

Kasus-kasus konflik internasional, seperti yang terjadi di Suriah saat ini, menjadi salah satu motion debat internasional yang sering muncul dan menjadi momok. Pada tahun 2011, seingat saya, motion dengan judul This House Would invade Zimbabwe, menjadi  motion yang didebatkan World Universities Debating Championship. Viktor Finkel, debater favorit saya dengan timnya mampu memenangkan kompetisi tersebut. Kasus Zimbabwe, secara prinsip tidak sederhana. Ada kemiskinan struktural, tekanan pemerintah, kasus kesehatan, dan lain sebagainya. Di topik ini kita harus berperan layaknya organisasi nonpemerintah kelas dunia yang hendak bertindak mengatasi kasus yang ada di Zimbabwe, atau bisa juga berperan layaknya perkumpulan negara-negara tertentu atau suatu negara tertentu. Jadi misalnya kita berperan sebagai Indonesia, dari mosi itu kita meyakini bahwa Indonesia harus menginvasi Zimbabwe. Pertanyaan yang harus dijawab, apa yang menjadi dasar invasi layak dilakukan dan bagaimana bentuk invasi yang dilakukan itu?

Tapi saya tidak ingin membahas itu lebih jauh, karena selain masih minim pengetahuan saya tentang hal tersebut, sebenarnya saya lebih ingin menunjukkan kepada pembaca tentang apa yang terjadi di luar sana. Barang kali akan menunjukkan kepada para pembaca, sisi-sisi dunia yang mampu menjadi pemicu untuk merumuskan apa yang sebaiknya kamu lakukan di tempatmu sekarang.

Jadi sejak beberapa saat yang lalu saya memfollow sebuah akun yang sering memberikan reportase mengenai bagaimana keadaan orang-orang sipil di kota Aleppo, Suriah. Aleppo merupakan kota yang dikuasai oleh para oposisi pemerintahan Bashar Al-Assad. Pemerintah Suriah ingin menggempur para pasukan oposisi yang sebenarnya terdiri dari berbagai kelompok yang juga memiliki kepentingan masing-masing. Mereka disebut oposisi karena tujuannya secara prinsip memiliki kesamaan yaitu menggulingkan pemerintah Bashar Al-Assad. Kelompok-kelompok oposisi ini secara tidak langsung didukung oleh Amerika, yang memandang sang pemerintah Suriah tidak lagi menghormati hak-hak demokratis warganya dan harus dilengserkan sementara pemerintah Suriah sendiri didukung oleh Rusia. Masih banyak lagi kelompok yang terlibat, seperti para pejuang Kurdistan, Iran, dan lain sebagainya. 

Jadi ceritanya, kota-kota di Suriah itu berada dalam kekuasaan berbagai kelompok yang berbeda. Pemerintah Suriah, kelompok oposisi, pejuang Kurdistan, ISIL/ISIS, Jabhat Fathah al Sham, dan lain sebagainya. Mereka saling berebut wilayah, terutama menguasai jalur-jalur atau tempat-tempat yang penting untuk dimanfaatkan sebagai media mendapatkan bantuan dari pihak luar yang mendukung mereka. Nah ceritanya, menurut beberapa informasi yang saya baca, para oposisi di Aleppo pun mendapatkan suplai dari eksternal, dan karena itulah pemerintah Suriah membumi hanguskan jalur-jalur yang berpeluang untuk menjadi media pengiriman bantuan bagi para kelompok oposisi yang ada di situ.

Aleppo menjadi kota yang mungkin menjadi saksi bagaimana peperangan berbagai kelompok itu pada akhirnya menyengsarakan penduduk yang masih ada di sana. Saya sendiri masih belum tahu mengapa para penduduk di Aleppo tidak segera pindah begitu saja dari kota tersebut. Kenapa tidak pindah saja dari kota yang menjadi battleground pemerintah dan para oposisi itu? Mungkin saya terlalu naif, sebab terbatasnya data yang saya tahu dan pisau analisis yang saya punya, pertanyaan itu sampai sekarang belum terjawab. Yang ada hanya sebatas dugaan saja. Mungkin ada yang tahu? Saya sangat berterima kasih bila ada yang mampu menunjukkan hal tersebut.

Tapi yang jelas, para penduduk di sana, menurut beberapa surat kabar internasional, sebut saja Deutsche-Welle, Reuters, CNN, Guardian, Associated Press, Independent, dan lain-lain, ikut terlibat menjadi pihak yang terkena serangan, atau dalam pemaknaan saya pribadi, menjadi korban perang. Bangunan yang ada di sekitar rumah mereka luluh lantah karena rudal. Rumah sakit[1] dan saluran air[2] juga ikut hancur karena serangan militer pemerintah yang ingin sesegera mungkin melenyapkan kelompok oposisi. Bantuan internasional dari berbagai macam pihak yang ingin membantu, sebut saja PBB kesulitan masuk ke sana pada masa genjatan senjata karena tidak mendapat izin seperti yang dinyatakan oleh PBB[3]. Bahkan pada masa akhir gencatan senjata selama satu minggu kemarin pun, konvoi pembawa bantuan sipil malah hancur karena serangan udara yang entah dijatuhkan oleh siapa.[4] Ada yang bilang Rusia, ada yang bilang milik pemerintah Suriah. Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas kegetiran yang terjadi.

Mereka kehilangan banyak hal; rumah, pasangan, keluarga, aset-aset penting, bahkan mungkin kebahagiaan dan waktu untuk sekedar tidur nyenyak pun hilang. Hari-hari mereka, saya bayangkan dipenuhi dengan kekhawatiran akan keselamatan diri mereka sendiri. Makanan enak, kalaupun ada, pasti sulit untuk dirasakan kebahagiannya. Memang betul, kondisi lingkungan pun mempengaruhi apakah bisa kita merasakan kebahagiaan atau tidak. 

Tapi di tengah-tengah hal itu, di timeline instagram saya, dari sebuah akun yang fokus pada perkembangan konflik Suriah, terdapat sebuah video yang membuat saya terkagum-kagum pada para penduduk yang masih ada di sana, khususnya pada para anak-anak. Dalam video tersebut diperlihatkan bagaimana, anak-anak, yang kebanyakan masih muda belia itu, bermain di tengah kolam yang terbentuk dari bekas jatuhnya misil dari serangan udara. Air yang berasal dari pipa bawah tanah yang patah menggenangi lubang tersebut, mengalir sedikit demi sedikit hingga kemudian membentuk sebuah kolam kecil. Di tengah kolam berdinding tanah itu, anak-anak itu bermain dengan riang.

Mereka bahkan bisa menjelaskan dengan lugas, bagaimana kolam itu terbentuk. Sebuah misil jatuh ke sini, kata mereka. Sebelumnya satu keluarga mati di sebelah sana, katanya sambil menunjuk ke bagian kanan dari tempat ia diwawancarai. Begitu dia ditanya apakah dia merasa bahagia, sambil tersenyum menunjukkan gigi-giginya yang putih (gigi saya kuning, by the way), dia berkata bahwa tentu dia merasa bahagia. Sampai detik ini saya masih terngiang akan kata-kata tersebut.

Saya jadi merasa linglung. Sepertinya saya terlalu sempit dalam melihat sesuatu. Sepertinya saya masih terlalu naif, memandang bahwa segalanya baik-baik saja hanya karena saat ini saya bisa merasakan kebahagiaan, sementara di sisi yang lain banyak terjadi konflik yang butuh solusi. Baru saja kemarin saya membaca berita Suriah ini, eh tahu-tahu hari berikutnya saya membaca konflik di perbatasan Kashmir antara India dan Pakistan yang juga sudah menelan korban. Itu belum selesai, saya juga baru tahu ada kasus penggusuran Bukit Duri di Jakarta yang menurut beberapa berita dan opini yang saya baca melawan keputusan pengadilan negeri alias melanggar hukum. Dan baru minggu lalu saya juga baru tahu tentang kisah perlawanan masyarakat Sedulur Sikep, alias Masyarakat Samin, di daerah Kendeng, melawan pendirian pabrik semen yang berpotensi menghancurkan daerah mereka. 

Saya cukup memahami paradigma pembangunan industrialisasi yang dipakai pemerintah. Kemungkinan besar paradigma pembangunan yang dibangun berasal dari teori modernisasi. Akumulasi kapital dipandang perlu dan menjadi prasyarat perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, karenanya kran investasi dan barang-barang kapital alias alat-alat produksi yang mampu menghasilkan barang produksi yang penting seperti misalnya pabrik, jalan raya, dan lain sebagainya harus segera didirikan. Alam harus bisa dieksploitasi sedemikian rupa karena manusia menggunakan hal itu untuk membuat barang-barang ekonomi yang bisa dikonsumsi. Tapi, terlepas dari itu semua, ada orang-orang yang disakiti. Duh, kok saya malah berganti topik pembahasan.

Kembali ke kolam renang kecil tadi. Sepertinya saya perlu belajar pada mereka bagaimana bisa menikmati hidup di tengah kondisi seperti itu. Dari mereka, saya bisa belajar untuk menerima keadaan dan menertawakannya; ikuti saja permainan para pemimpin yang zalim itu sambil berjuang untuk terus hidup; lalu meruntuhkan dan mengubah keadaan sedikit demi sedikit.

Sementara di sisi lain, buat kamu yang sedang belajar, belajarlah yang rajin. Karena ilmumu dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang hadir dan nyata di luar sana; sekalipun sekarang kamu belum merasakannya.

Sekian.

*


[1] Russian, Syrian missiles pound Aleppo, destroy hospital: rebels and aid workershttp://www.reuters.com/article/us-mideast-crisis-syria-idUSKCN12133Z
Lihat juga, “Syria's war: Aleppo hospital bombed again
[3] Patrick Wintour, Julian Borger, “Syrian regime is blocking aid from entering eastern Aleppo, claims UN” 
[4] Julian Borger, Spencer Ackerman, “Russian planes dropped bombs that destroyed UN aid convoy, US officials say”

catatan

Berandai tentang Alas Saradan

11.50.00

Mulustrasi hutan. Sumber : harianindo.com

Sebagai orang Madiun asli, yang lahir dan besar di kabupaten sambil sesekali main ke kota, saya termasuk orang yang ingin mengembangkan daerah ini. Mau bagaimanapun, untuk membangun kehidupan masyarakat yang baik, harus dimulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Sejujurnya saya punya rasa malu juga lo karena tidak tahu potensi daerah saya sendiri. Dulu waktu lomba SD, ketika di tanya di daerah saya ada tempat rekreasi apa, saya hanya ndelongop sambil merem-merem cantik karena tak tahu sama sekali *duh kau hidup di mana saja selama ini nak!. Kembali ke kata-kata petuah sebelumnya, sama halnya, kalau ingin membangun negara yang makmur sejahtera, tidak bisa tidak harus dimulai dari sektor yang paling kecil, kemudian baru ke sektor yang lebih besar. Gampangnya, seperti kata-kata motivasi itu, untuk mengubah dunia kita harus mulai dari diri sendiri. Tapi saat ini saya tidak ingin membahas dari unit sekecil itu. Saya ingin membahas dalam skala yang lebih luas; berupa kecamatan atau desalah, kurang lebih.

Bagi orang asli Madiun, terutama yang tumbuh besar di daerah timur, tepatnya di kecamatan Saradan, sudah pasti pada tahu tentang alas Saradan yang lumayan luas itu. Tepatnya di sekitar daerah Sukowati, Lemahbang, dan sekitarnya. Kalau dari arah Madiun menuju ke Nganjuk, setelah melewati daerah Kaligunting, di sepanjang kanan atau kiri jalan teman-teman akan melihat hamparan hutan (dengan jati yang tumbuh dominan, sepanjang pengamatan saya) yang membentang sepanjang perjalanan hingga mencapai daerah perbatasan dengan kabupaten Nganjuk. Saat ini, secara pribadi, saya merasa daerah itu kurang dimanfaatkan dengan baik oleh kita. Walaupun ya, sekarang ini tempat itu banyak dimanfaatkan untuk produksi kayu. Kabar terakhir Perum Perhutani KPH Saradan berhasil mencapai pendapatan sebanyak 45 miliar rupiah dari hasil penjualan kayu.[1] Tapi di sisi lain, banyak sampah dedaunan yang berserakan dan cukup tertimbun lumayan banyak, warung kecil yang didirikan di dekat situ pun sangat sepi pembeli, plang luas daerah yang sudah lama tidak diperbarui (kelihatan lapuk dan tulisannya sudah cukup sulit terbaca), sebagian daerah digunakan untuk membakar sampah, dan lain-lain. Tapi lebih dari itu, melihat beberapa berita tentang permintaan pasar yang kadang kala turun untuk permintaan kayu jati atau kayu rimba (dua-duanya diproduksi pula di Saradan)[2], saya rasa kita perlu menyesuaikan beberapa hal tertentu. Selain itu, saya juga berpijak pada kenyataan bahwa banyak warga sekitar yang kurang mendapatkan manfaat secara langsung dari hutan yang ada di sekitar mereka. Jadi, singkatnya saya ingin warga sekitar juga mendapatkan cipratan dari potensi ’45 miliar’ itu, sekaligus membuat pemerintah tetap mendapatkan keuntungan yang sama. Dengan luas wilayah sebanyak 24.869 hektare, ada banyak potensi yang bisa kita kembangkan, menurut saya sih.[3] Dari data yang saya dapatkan, komposisi penggunaan wilayah KPH Saradan itu 6% sebagai hutan perlindungan, 78% persen untuk produksi, 6% untuk perlindungan, 9% persen untuk penggunaan lain.[4] Artinya, ada sekitar kurang lebih 216 ha untuk penggunaan lain, walaupun masih belum jelas apa itu. Saya berpikir daripada membiarkan hal itu terus berlanjut, mungkin ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah atau kita untuk memperbaiki keadaan itu yang nantinya akan bermanfaat untuk lingkungan ataupun masyarakat sekitar secara umum dalam bidang ekonomi. Artinya menggunakan 9% yang tersisa untuk penggunaan yang lainnya. Kok bisa bermanfaat begitu? Mari kita lanjutkan.

Salah satu hal yang terpikirkan dalam benak saya adalah mengubah sebagian alas Saradan menjadi sebuah tempat pariwisata. Diisi apa saja? Bisa bumi perkemahan, tempat outbond, wisata horor (yang ini agak maksa sih), dan, ehm, apalagi ya, mari kita pikirkan sambil berjalan. Menyulap alas Saradan menjadi bumi perkemahan adalah salah satu hal yang bisa menjadi alternatif. Pertama, lingkungan hutan yang cukup luas, bisa menjadi pilihan untuk menset-up tempat itu menjadi lingkungan untuk mengadakan perkemahan bagi para pramuka, PMR, atau organisasi lainnya. Terlebih, ada banyak sekolah, dari SD sampai SMA khususnya dari daerah Saradan-Mejayan sendiri yang memilih pergi ke daerah di luar kabupaten kita sendiri untuk mengadakan kemah, seperti pergi ke daerah Magetan, Kresek, dan lain sebagainya atau kalau tidak ya kemah di sekolah sendiri (yang pastinya sih kurang greget, betul begitu kan? *pertanyaan yang berasal dari orang yang tidak pernah ikut kemah seumur-umur hidupnya kecuali saat di SD, itu pun malamnya pulang ke rumah). Akibatnya, kalau menyewa di daerah lain, sudah pasti dana yang digunakan juga masuk ke daerah tersebut. Atau setidaknya masuk ke perusahaan yang menjadi pengelola tempat pariwisata itu. Tidak ada dana yang masuk ke daerah kita secara langsung. Wah ini eman sekali. Dengan menyediakan tempat perkemahan sendiri, dan bila berhasil menarik orang-orang yang ingin berkemah ke daerah kita, akan ada potensi peningkatan dana yang masuk ke kas daerah atau setidaknya ke para pengelola bumi perkemahan itu. Dengan sisa 216 ha lebih, masak kurang sih untuk membuat bumi perkemahan? *ini pertanyaan murni lo, bukan retoris ya!

Menyulapnya menjadi bumi perkemahan juga akan membuka lapangan pekerjaan baru yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Seperti terbukanya lahan menjadi penjaga bumi perkemahan, pemandu, pengawas dan penyedia akses air bersih dan sejenisnya, petugas bersih-bersih atau orang yang merawat agar tidak kotor, memangkasi rerumputan liar yang terlampau panjang, dan seterusnya. Secara tidak langsung hal itu akan memicu pula perubahan kondisi penjual yang ada di sekeliling tempat itu untuk meningkatkan kualitas tempat jualannya, agar jadi lebih bersih, produk yang dijual terjamin masih layak dipakai, dan seterusnya. Kenapa? Karena semakin banyak potensi pembeli yang datang dan membutuhkan produk-produk mereka agar bisa melanjutkan ‘kehidupannya’ di bumi perkemahan. Mungkin perubahan yang terjadi tidak akan berlangsung secara dramatis, namun perlahan-lahan. Karena mau bagaimanapun kesan atas tempat dan pelayanan penjualan merupakan salah satu servis atas pelanggan yang menentukan terjual atau tidaknya produk mereka, sehingga berdasarkan sudut pandang ini kemungkinan besar akan terjadi perubahan kualitas pada para penjualan yang saat ini berada di sekitar alas Saradan *economic hitman mode: on!. Tentu saja ini juga akan menghasilkan masalah baru, yaitu masalah irigasi, pembuangan sampah dan seterusnya. Namun saya berpikir itu masih bisa diatasi dengan banyak hal. Walaupun kelihatannya juga akan menjadi comfort-zone tersendiri dengan set-up seperti itu, menurut saya masih tidak masalah karena untuk melepaskan dari comfort-zone masih bisa diatasi dengan cara yang lain, seperti mengatur agenda perkemahan yang menguatkan kemandirian dan keberanian bagi para peserta kemah seperti; agenda wawancara dengan warga sekitar, membantu warga sekitar untuk dapat kelulusan atau poin, dan selainnya.

Misalnya sampah-sampah yang dihasilkan dari bumi perkemahan, baik dari para penjual ataupun adik-adik yang berkemah serta tanaman-tanaman yang jatuh dapat digolongkan menjadi sampah-sampah tersendiri, seperti sampah organik, anorganik, dan sejenisnya. Sampah-sampah organik dapat dimanfaatkan ulang menjadi pupuk. Bisa dikirim pada para produsen pupuk, atau bisa pula mendirikan tempat pembuatan pupuk tersendiri. Kebanyakan sampah organik yang ada di sana memang daun jati yang jatuh berguguran, tapi masih terdapat pula tanaman lain yang daun-daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk. Akibatnya akan melahirkan spesialisasi pekerjaan baru, yaitu para pembuat pupuk serta para pengirim pupuk, manajemen pembuatan pupuklah biar lebih keren didengar. Dari situ bisa dikembangkan lagi untuk melahirkan membuka lapangan pekerjaan baru, menambah wahana dan tempat rekreasi yang berisi wisata pengetahuan pembuatan pupuk, serta membantu mengurangi jumlah sampah dan juga membantu para produsen pupuk serta bila mau diteruskan membantu pula para petani yang membutuhkan pupuk untuk menumbuhkan tanamannya dengan harga murah (karena biaya produksi yang dilakukan bisa ditekan dengan harga produksi yang lebih rendah karena baik bahan baku, tempat, ataupun sumber daya sudah tersedia di tempat bumi perkemahan tersebut).

Sisi negatifnya, mungkin adalah musim kemah yang tidak datang setiap saat. Artinya akan ada sesi di mana pendapatan bisa-bisa turun sama sekali dan tidak ada pemasukan lain. Tapi oleh karena itulah kita perlu menyiapkan sulap lain untuk menjaga agar hutan bisa terus dinikmati dan bermanfaat bagi masyarakat. Seperti menyediakan produksi pupuk di atas. Walaupun itu juga bisa menghasilkan pertanyaan baru, seberapa besar animo akan pengetahuan pupuk di masyarakat sih? Atau kalau begitu kita tambahan wahana lain saja. Biar sekalian menyaingi Jatim Park, hohoho.

Opsi yang lain adalah mendirikan tempat bermain dengan tema sentral bermain di alam, atau biasanya sih disebut out-bond di alas Saradan. Bisa kita isi dengan permainan memanjat pohon, berjalan di antara dua pohon, wall climb, lapangan bermain soft gun, dan lainnya. Salah satu hal yang menghambat mungkin adalah posisi alas Saradan yang dekat dengan jalan raya mungkin akan menghasilkan kesan kurang natural, dan juga bising dengan suara lalu lalang kendaraan yang melintas. Alternatif yang bisa dilakukan adalah membuat area sepanjang pinggir jalan, selebar 500 meter (kalau perlu ya lebih, tinggal dihitung saja berapa frekuensi yang dihasilkan dari kendaraan yang lewat dan berapa jauhnya sampai frekuensi itu turun, mirip cara menghitung efek doppler itu lo) untuk parkir kendaraan, dan bumi perkemahan atau tempat bermain diletakkan di dalam sehingga meminimkan potensi gangguan kendaraan dengan aktivitas di dalamnya. Untuk masalah tata letak dan konten outbond, sepertinya saya tidak bisa banyak menyumbangkan ide karena sejauh saya menulis tulisan ini, gambaran detail dari hutan Saradan dan permainan apa yang layak ditempatkan di sana masih belum saya dapatkan dengan baik. Tapi setidaknya, hal ini patut dipertimbangkan mengingat banyaknya sekolah di daerah Saradan sendiri. Biasanya momen liburan panjang, atau rekreasi keluarga, dihabiskan di tempat-tempat yang natural (kecuali yang hobinya main ke tengah kota). Sekolah Ibu saya dulu pun, waktu rekreasi, jauh-jauh pergi ke Magetan untuk melihat Taman Ria. Dengan membangun sentra outbond sendiri, saya kok merasa layak dicoba ya. Walaupun kita pasti memerlukan usaha yang lebih untuk menyaingi tempat lain yang secara posisi, iklim, dan lain sebagainya lebih menguntungkan; sebut saja daerah Malang dengan dingin dan pemandangan yang ditawarkan dari puncak-puncak bukit atau gunungnya (begitu pun dengan Magetan dengan Sarangannya), dan sejenisnya.

Adanya perubahan penggunaan atas wilayah alas Saradan itu mungkin memang akan menghasilkan dampak pada berkurangnya 45 miliar pendapatan yang berhasil ditorehkan tahun sebelumnya lewat produksi kayu jati dan kayu rimba. Memang lahan yang tersedia sangat cocok untuk ditanami tumbuhan tersebut. Kurang lebih 13.000 meter kubik kayu jati berhasil dihasilkan pada tahun lalu. Gagasan untuk mengalihfungsikan sebagian lahan alas Saradan tentu akan berpotensi menurunkan produksi tersebut. Tapi, dalam pandangan saya, menggantungkan pada pendapatan produksi kayu semata-mata akan menyulitkan kita sendiri dalam jangka waktu yang lumayan panjang. Sebabnya, menurut saya ini, pendapatan dari kayu hanya bisa mungkin bila ada permintaan pasar yang besar untuk kayu jati. Sejauh ini yang saya tahu, kayu jati bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah, meja, atau yang lain. Pertanyaannya, seberapa besar permintaan pasar untuk kayu jati? Apakah akan terus meningkat dan bertambah? Harganya bagaimana? Menurun atau meningkatkah?

Memang untuk melakukan perubahan tidak pernah berawal dari kemudahan. Seperti ini, kalau gagasan ini benar kita terapkan maka akan ada potensi gagal dan bahkan justru menurunkan pendapatan daerah. Tapi potensi keberhasilan mengubah wilayah itu menjadi sentra permainan dan perkemahan yang baru juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Ya mau bagaimana pun, masih diperlukan analisis yang lebih mendalam tentang kelayakan ide yang saya jabarkan di atas untuk diterapkan. Tapi setidaknya kita sudah menyumbang ide. Lha daripada mengutuk-ngutuk terus, capek dan nggak sehat untuk diri kita sendiri bro.

Oh iya kelupaan. Sepertinya saya tidak jadi mengusulkan ide menyulap jadi wisata horor deh. Lha wong sekarang saja Indonesia ini sudah penuh dengan ke-horor-an, kenapa ditambah-tambah segala?

Sekian.



[1] “Perum Perhutani KPH Saradan lampaui pendapatan hingga Rp45 Miliyar”, RRI, http://www.rri.co.id/post/berita/233575/ekonomi/perum_perhutani_kph_saradan_lampaui_pendapatan_hingga_rp45_miliyar.html
[2] Lihat misalnya di http://gaul.solopos.com/produksi-kayu-perhutani-jateng-penebangan-kayu-sesuaikan-permintaan-681698. Sebagai data pembanding, menurut statistik dari BPS (https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/862), produksi kayu hutan memang selalu meningkat. Artinya kesediaan kayu jati bisa berpotensi semakin banyak seiring tahunnya. Hal itu bisa berpotensi untuk menurunkan harga kayu produksi hutan. Ingat lo, masih potensi saja. Penurunan harga bergantung pada banyak hal selain jumlah kesediaan barang. Mengingat selain Indonesia, ada pula India dan negara lain yang juga menjadi pemasok kayu hutan. Melihat hal itu, perlu dipertanyakan seberapa besar sumbangsih produksi kayu dalam jangka panjangnya. Khususnya untuk daerah Saradan yang relatif kecil bila dibandingkan dengan daerah lain. Dibandingkan dengan produksi di Jateng yang mencapai 100 ribu kubik lebih kayu misalnya (bandingkan dengan 13 ribu produksi terakhir KPH Saradan), jelas proporsi produksi hutan Saradan relatif lebih kecil.
[3] http://www.madiunpos.com/2016/01/05/perhutani-kph-saradan-panen-13-000-m3-kayu-rp45-miliar-ditangguk-677691
[4] http://humaskphsaradan.blogspot.co.id/p/blog-page_11.html

Terjemahan :
Ndelongop : Bengong sambil membuka mulut.
Merem : Memejamkan mata