catatan

Hidayah

13.11.00

id.wikipedia.org

Saat SMA, suatu ketika saya pernah berbincang dengan seorang teman. Katanya waktu itu, dia ingin berubah, menjadi seseorang yang lebih baik. Tak tahu saya apa yang menghampirinya waktu itu, mengingat teman saya ini, layaknya teman-teman saya yang lain, dan juga seperti saya sendiri, agak nggak bener tingkahnya. Mungkin ada beberapa bagian sel otaknya yang lambat diregenerasi, atau mungkin ada sinapsis yang putus dan selubung mielin yang terbuka di antara sel-sel otaknya sehingga dia gagal menghubungkan data dengan seharusnya.

Teman saya itu suka menyanyi-nyanyi dengan keras di depan kelas waktu jam pelajaran kosong, dia punya teman khayalan, seperti ‘Samirin’, teman gelembung, dan seterusnya. Kadang kala dia juga bercanda sampai di luar batas dengan orang tuanya sendiri. Maka tak pelak, ketika dia bilang begitu, sisi nyinyir saya tampak kaget. Ini anak kenapa kok tiba-tiba ngomong begini? Tapi di sisi lain saya juga merasa senang, akhirnya berkurang satu orang jiwa-jiwa yang tersesat di kelas saya waktu itu.
Namun perkataan berikutnya membuat saya harus menarik kembali harapan yang telah pupus.

“Tapi tunggu hidayah dari Tuhan dulu.”

*

Tidak sekali saja saya dikecewakan oleh seseorang. Dan tidak sekali pula saya mengecewakan orang lain.

Tapi dalam kesempatan ini, mari kita fokus dulu pada kekecewaan saya.

Tidak sedikit sebenarnya, orang-orang yang menggunakan kata hidayah itu untuk ‘mempertahankan’ perilaku-perilakunya yang bikin sebel orang lain. Misalnya saja saya, selalu menggunakan kata tersebut ketika teman saya bertanya, ‘Kapan kau tobat dari menghutang tanpa mengembalikan Bim?”

“Aku menanti hidayah Tuhan, bro.”

Sambil mengeluarkan air mata dari kedua mata yang kata seseorang indah ini (baca: diri sendiri waktu bercermin), saya  memegang pundak sahabat saya itu, lalu berlutut seolah-olah meminta ampunan pada Tuhan. Dan berikutnya selalu mudah tertebak, dengan rasa sebal yang ditahan dan dengan berbesar hati, dia mengatakan pada saya, “Ya sudah, sudah, cukup sudah.” Mungkin dalam hati dia juga berkata bahwa sakitnya dia itu di sini.

Dari kejadian itu saya jadi penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya hidayah itu. Sebab bila tidak diluruskan, seolah-olah untuk menjadi baik itu harus menanti instruksi dulu dari Tuhan. Bila diperdalam, seolah-olah Tuhanlah yang menghendaki apakah seseorang itu jadi baik atau buruk. Dan bukan manusia yang menanggung perilaku yang dia lakukan itu, sebab bila Allah ingin dia baik, ya pasti dia memberikan hidayah to? Padahal saudara-saudara, perilaku seperti ini, pernah dilakukan oleh orang-orang Quraisy yang menantang dakwah Muhammad saat di Mekkah, dengan maksud untuk menantang Allah dan Rasulnya. Apa respons Allah? Woho, silakan liat di Al Qurang, bagaimana Allah mengecam dan mencela orang-orang itu.

Sebenarnya dari pernyataan itu secara implisit juga ada anggapan bahwa hidayah merupakan sebuah bentuk perilaku Allah untuk mengubah kondisi hati atau jalan hidup manusia agar menuju pada kebaikan. Oleh karenanya mereka menunggu hidayah Tuhan, dalam arti menunggu tindakan Allah untuk mengubah keadaan mereka yang katakanlah masih berada dalam keburukan menjadi baik. Apakah betul demikian? Menurut saya tidak. Masalah inilah yang akan saya angkat pada tulisan ini. Bagi yang sudah agak pusing silakan menepi sebentar, supaya tidak bertambah pusingnya. Jangan lupa makan ya? *Kok nyambung ke sini?

Nah sekarang kembali ke hidayah lagi. Sebenarnya, ketika saya mengok kamus besar Bahasa Indonesia, pengertian hidayah itu seperti ini.
Hidayah (n), petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.
Dari sini ada satu hal yang kita tahu bahwa hidayah merupakan sebuah petunjuk atau bimbingan, namun subjek yang memberikan hal ini, spesifik yaitu Tuhan. Artinya, petunjuk atau bimbingan yang tidak datang dari Tuhan tidak dapat disebut sebagai hidayah. Jadi misalnya temanmu memberikan petunjuk tentang bagaimana memasak risoles yang baik dan benar, itu tidak dapat disebut dengan hidayah. Baru misalnya bila kita mendapatkan petunjuk masak risoles langsung dari Allah, itu bisa disebut dengan hidayah.

Mari kita perdalam. Karena hidayah adalah petunjuk atau bimbingan dari Tuhan, apakah petunjuk atau bimbingan itu sebenarnya?

Petunjuk menurut mbah kamus lagi artinya adalah:
1. sesuatu (tanda, isyarat) untuk menunjukkan, memberi tahu, dan sebagainya:
Dalam pengertian pertama ini makna ‘petunjuk’ dekat dengan sebuah tanda atau isyarat, di mana isyarat atau tanda itu berfungsi untuk menunjukkan, memberi tahu, atau yang lain. Artinya, petunjuk adalah sesuatu berupa tanda atau isyarat yang bila kita lihat atau kita tahu akan mengantarkan kita pada sebuah pengetahuan yang diwakili dari sesuatu itu. Misalnya penggunaan kata ‘petunjuk’ dalam pengertian pertama ini adalah pada kalimat seperti ini.

Lampu-lampu di lapangan itu dipakai sebagai petunjuk pesawat terbang yang akan mendarat pada malam hari.

Kata petunjuk dalam kalimat di atas merupakan keterangan fungsi dari kata ‘lampu-lampu di lapangan itu’. Artinya, lampu-lampu di lapangan itu memiliki sebuah makna yang dapat dipahami bagi pesawat terbang yang akan mendarat di lapangan tersebut, seperti menjadi tanda batas lebar lintasan, panjangnya, dan lain sebagainya sehingga pesawat itu dapat mendarat dengan aman.
2. ketentuan yang memberi arah atau bimbingan bagaimana sesuatu harus dilakukan; nasihat;
Pada pengertian yang kedua ini kata ‘petunjuk’ lebih dekat pada pengertian pengetahuan mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu hal. Misalnya kalau kita sedang masak nasi goreng lalu kita lihat buku resep, di sini buku resep tersebut berfungsi sebagai ‘petunjuk’, atau sebuah buku yang mengandung ketentuan mengenai bagaimana kita harus memasak nasi goreng itu. Atau misalnya bila kita sedang masak nasi goreng sambil di awasi Ibu kita, dan beliau berkata, “eh minyaknya kurang itu, seharusnya kamu tambahi biar enak Dek”. Nah, perkataan Ibu itu juga merupakan sebuah ‘petunjuk’, dalam arti bisa menjadi nasihat atau bimbingan yang beliau berikan pada kita untuk memasak nasi goreng itu.
3. ajaran
Dalam pengertian ketiga ini, kata “petunjuk” lebih dekat pada makna ajaran, atau sebuah pengetahuan normatif tentang bagaimana kamu harus hidup, apa yang harus kamu lakukan, apa yang harus kamu cita-citakan, dan seterusnya. Misalnya adalah “petunjuk Tuhan” yang dapat berarti ajaran dari Tuhan.
4. tuntunan; ilham
Nah di sinilah uniknya. Pada pengertian ini kata petunjuk lekat dengan ilham, yang dalam makna kamusnya adalah petunjuk yang timbul di dalam hati manusia. Saya menduga kemungkinan besar inilah yang seringkali menjadi alibi untuk mempertahankan perilaku yang kita lakukan. Kita merasa belum muncul petunjuk dalam hati kita untuk berubah. Namun untuk tulisan kali ini, akan saya fokuskan pada tiga pengertian di atas, sementara untuk pembahasan ilham ini saya akan mengalokasikan waktu dan tulisan tersendiri untuk membahasnya. Oke, deal ya?

Sejauh ini maka secara besaran ada tiga makna kata petunjuk yang bisa disimpulkan. Yaitu petunjuk yang merujuk pada sebuah tanda atau isyarat, petunjuk yang merujuk pada suatu bimbingan atau ketentuan atau nasihat mengenai bagaimana melakukan suatu hal, dan petunjuk yang bermakna ajaran.

Dengan demikian, maka ‘hidayah’ dapat kita maknai sebagai sebuah tanda atau isyarat, bimbingan atau ketentuan atau nasihat mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu, serta ajaran yang berasal dari Tuhan.

Dari sini sudah jelas bahwa hidayah itu bukan perilaku.

Oke baiklah, tapi itu menurut saya masih kurang untuk menjawab ‘tunggu hidayah dari Tuhan’, karena artinya dia sedang menunggu adanya tanda atau isyarat, bimbingan atau nasihat mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu atau ajaran yang berasal dari Tuhan. Pertanyaan berikutnya yang akan saya ajukan oleh karenanya adalah, apakah iya hidayah dari Tuhan itu memang belum datang pada manusia, atau bila sudah datang apakah ia hanya berlaku untuk satu orang tertentu atau dapat berlaku bagi semua manusia?

Ada satu pendekatan yang akan saya gunakan untuk menjawab masalah ini. Yaitu merujuk pada kitab ajaran agama yang datang pada kita. Oleh karena saya seorang muslim, saya akan melihat Al Quran.
Adakah petunjuk yang datang pada manusia?








Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Al Baqarah:2)

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa Kitab yang dijelaskan, atau yang dibacakan kepada Muhammad pada waktu turunnya merupakan sebuah petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Artinya kitab Al Quran itu merupakan sebuah tanda atau isyarat, bimbingan atau nasihat atau ketentuan mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu serta ajaran dari Allah untuk orang-orang yang bertakwa atau mereka yang muttaqiin.






Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al Baqarah:5)

Pada ayat ini dapat diketahui bahwa orang-orang yang disebutkan pada ayat sebelumnya, yaitu pada ayat 1 sampai 4 merupakan orang yang tetap mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Artinya orang-orang yang demikian (mereka yang percaya pada apa yang tidak terlihat, melaksanakan salat, dan seterusnya) tetap mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Artinya bila kita ingin mendapatkan petunjuk dari Tuhan, berdasarkan teks ini, maka kita juga perlu menjadi orang-orang yang disebutkan pada ayat ini.






(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (Ali ‘Imran:138)

Dari ayat ini dapat diketahui, bahwa Al Quran (dalam penafsiran) adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Memang secara teks Al Quran adalah sebuah penerangan bagi seluruh manusia. Namun menurut saya sendiri, kata 'penerangan' bermakna sebuah kiasan. Sebab Al Quran secara materiilnya bukanlah sesuatu yang mampu menghasilkan cahaya untuk menerangi kegelapan, misalnya. Sehingga makna kata penerangan ini tentunya merupakan makna konotatif atau kiasan. Apa yang dirujuk dengan kata ini, menurut saya juga tidak berbeda jauh bahwa Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh manusia. Ada yang menarik sebenarnya, mengapa Allah menjelaskan Al Quran untuk seluruh manusia adalah 'penerangan', sementara bagi mereka yang bertakwa disebutkan sebagai 'petunjuk' dan 'pelajaran'. Namun saya tidak akan membahas hal itu di sini.





Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (Ali ‘Imran:96)

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa Baitullah atau lebih tepatnya Ka’bah dalam bahasa kita sekarang ini juga menjadi petunjuk yang diberikan bagi semua umat manusia.





Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf:112)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mencantumkan kata huda/hudan (petunjuk), dan seterusnya.[1]
Sejauh ini pertanyaan apakah datang petunjuk pada manusia, sudah terjawab. Dalam beberapa ayat juga sekaligus dijelaskan bahwa petunjuk itu adalah untuk mereka yang bertakwa, beriman, dan lain sebagainya. Namun ada pula petunjuk yang berlaku untuk manusia secara umum, seperti pembangunan kakbah.

Bila dicari dengan kata kunci 'tanda' atau isyarat', maka kita juga dapat menemukan bahwa Allah telah memberikan tanda bagi manusia di luar hal-hal yang telah disebutkan di atas. Misalnya terlihat dari ayat ini,

Already there has been for you a sign in the two armies which met - one fighting in the cause of Allah and another of disbelievers. They saw them [to be] twice their [own] number by [their] eyesight. But Allah supports with His victory whom He wills. Indeed in that is a lesson for those of vision. (3:13)

Ayat ini menunjukkan adanya tanda pada pertemuan dua pasukan yang saling bertarung. Tanda di sini dalam pandangan saya merujuk pada bantuan Allah dalam bantuan yang diberikan oleh Allah dalam pertempuran yang dialami oleh umat Muslim pada waktu itu. Melihat dari kronologis dan sejarah, ayat ini kemungkinan besar turun di masa sekitar perang Uhud. 

Atau, 


And how many a sign within the heavens and earth do they pass over while they, therefrom, are turning away. (12:105)

Ayat ini lebih bermakna umum, maksudnya tanda di sini dijelaskan oleh Allah tersebar di antara langit dan bumi, di mana pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang melihat tanda-tanda itu setelah melewatinya berpaling ke belakang. 

Dari sini hidayah itu kita identifikasi dalam berbagai bentuk (sejauh data yang saya paparkan), yaitu:
  • Al Quran
  • Tanda yang tersebar di antara langit dan bumi
  • Pertolongan Allah (pada kaum muslim yang berperang)
  • Kakbah 
Bila ditelusuri dalam ayat-ayat yang lain, saya meyakini kita akan menemukan bentuk-bentuk hidayah yang lebih banyak lagi. 

Dari beberapa penelusuran di atas dapat saya menyimpulkan bahwa hidayah Tuhan itu sudah tersedia di sekitar kita. Artinya, kita sudah tidak perlu lagi menunggu adanya 'hidayah' itu. Sebab hidayah itu sendiri sudah tersebar di sekitar kita. Dengan demikian, tanggung jawab untuk mengubah perilaku kita, dengan demikian, ada pada diri kita sendiri. 

Saya meyakini bawa selama pintu hati kita masih kita buka, sekali lagi, masih kita buka, kesempatan untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik selalu tersedia.

Sebab hanya mereka yang ‘tuli’, ‘bisu’, dan ‘buta’ yang tidak dapat kembali. Ada pula ayat yang menyebutkan tentang ‘tertutupnya pintu hati’ yang kemudian membuat manusia tidak dapat memahami jalan yang benar.

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ 
(Al Baqarah, 18) 


Lalu bagaimana dengan hidayah sebagai ilham? Tunggu tulisan berikutnya.


[1] Lebih lengkapnya teman-teman bisa melihat di http://corpus.quran.com/search.jsp?q=guidance, atau bisa juga silakan dilihat di Al Quran masing-masing. 

catatan

Memupuk Rasa Ketakjuban

13.24.00

by @esmeraldaanissa

*
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. ~ Al Baqarah : 164

*
SAYA pernah memiliki seorang teman. Sebut saja namanya Bunga. Dia adalah seorang laki-laki tulen yang macho dan keren seperti Abu Jahal, eh tidak deh, terlalu tua dan jahat itu mah.

Jadi, Bunga ini, termasuk pemuda yang dulu berawal dari lingkungan yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan, sering terpapar pergaulan bebas, tidak pernah memikirkan apa yang akan di lakukan di masa depan nanti, mengalir saja inginnya, dan dia juga memiliki ketergantungan pada nikmat-nikmat tertentu yang melampaui batas. Tidak hanya Bunga saja, ada banyak, bahkan mungkin lebih ekstrem daripada yang Bunga alami. Tapi ada banyak pula, orang-orang seperti Bunga yang kemudian berupaya untuk berubah. Saya rasa, membutuhkan usaha yang luar biasa untuk mampu berubah total menjadi seseorang yang melandaskan seluruh kehidupannya pada nilai-nilai tauhid, dari latar belakang seperti itu. Bukannya tidak mungkin, namun ada jalan-jalan tertentu yang harus ditempuh agar hal itu bisa tercapai. Sahabat Rasul pun, suatu ketika pernah bertanya kepada beliau, bagaimanakah caranya agar mereka tetap sadar akan Allah, ketika disibukkan dengan urusan duniawinya. Di situ Rasul menunjukkan doa keselamatan dunia dan akhirat yang kemudian sering kita lantunkan setiap habis salat dan setiap habis berdoa. Hal itu menunjukkan betapa godaan itu senantiasa datang menghampiri, berusaha untuk menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketuhanan.

Bayangkan, itu saja masih di jaman Rasul, ketika belum ada internet, instagram, telegram, ambigram, pictogram, dan gram-gram lainnya, jadi belum bisa stalking-stalkingan yang bisa memicu khalwat secara tidak langsung. Tapi godaan sudah ada dan bahkan sahabat pun merasakan adanya kesulitan. Belum pula ada lazada (bukan nama sebenarnya), buka lapak (bukan nama sebenarnya juga), indomaret (masih bukan nama sebenarnya), alfamaret dan yang lain. Kemampuan kapasitas produksi dan pengolahan manusia akan bahan-bahan alam di jaman sekarang sudah semakin besar. Dari segi fisik, saya berani bertaruh lebih banyak perempuan dan laki-laki yang rupawan di jaman ini dibandingkan pada jaman Rasul, yang menyebabkan godaan pasangan semakin besar. La bagaimana tidak, sekarang sudah ada axe dan ponds broh, wong hanya pakai axe saja bidadari bisa ngibrit kok, apalagi kamu. Materialisme dibantu dengan kapitalisme dan liberalisasi pasar semakin menjadikan godaan material itu semakin besar. Saudara-saudara, selama produk-produk terus diproduksi, selama itu kita akan selalu diuji dengan beli atau tidak yaaa?

Secara pribadi, saya sepakat dengan perkataan salah satu orang yang saya hormati, bahwa memahami jalan Allah sebagai jalan yang benar saja tidak akan cukup untuk membuat manusia bertahan di jalan tersebut. Kita membutuhkan dorongan afeksi yang besar, untuk tetap bertahan. Dan bagi teman saya itu, hal ini benar-benar berlaku. Dia berjuang melawan masa lalu dan kebiasaannya dulu sembari berupaya bertahan di jalan ini. Betapa banyak orang yang tahu mana benar dan mana salah, namun tetap bertahan di jalan yang salah karena dia merasakan kenikmatan di jalan tersebut? Sebut saja, koruptor, para penyontek ketika ujian (nah lo, ini pasti kamu ya), para penembak SIM biar cepat lulus (ini juga pasti kamu ya), dan lain sebagainya. Memang, permasalahan ini bukanlah hal yang sederhana. Tidak sesederhana memilih pakaian di lemari loker saya yang hanya itu-itu saja modelnya. Dan tidak pula sesederhana membalikkan telapak kaki kita.

Ada perbedaan antara mengubah kepercayaan dan keyakinan, atau katakanlah pandangan hidup seseorang, dengan membuat mereka bertahan pada jalan hidup tersebut. Ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa sekalipun pandangan hidup mereka sudah berubah, namun nyatanya mereka tidak bertahan. Penyebabnya sendiri bisa banyak, antara lain karena menemukan penilaian baru bahwa pandangan hidup yang baru itu salah, atau karena tidak merasakan kenikmatan pada jalan tersebut, atau karena dipaksa kembali pada jalan yang lama oleh pihak-pihak tertentu, sebagaimana pernah terjadi pada jaman Rasul, sahabat yang dipaksa mengakui adanya Ilah selain Allah dengan siksaan yang begitu berat, bahkan ada pula yang kemudian orang tuanya dibunuh.

Dari sini saya akan memusatkan tulisan ini untuk membahas masalah yang kedua, yaitu kegagalan bertahan karena tidak mampu merasakan kenikmatan di jalan tersebut. Menumbuhkan kenikmatan pada gaya hidup yang baru menurut saya sendiri cukup membutuhkan usaha yang keras dan konsisten, kalau tidak ingin jatuh dalam godaan yang menyebabkan kembali pada kebiasaan lama yang menurut pengalaman rasa yang dilalui sebelumnya merupakan hal-hal yang nikmat. Secara umum untuk bisa merasakan kenikmatan, dapat dilalui melalui berbagai jalan, misalnya mencari hikmah dari jalan yang ditempuh dan apa manfaatnya untuk kita kelak. Namun, untuk memperkuat hal tersebut, saya rasa, termasuk saya sendiri, juga membutuhkan perasaan cinta kepada Tuhan. Dengan kata lain, saya memerlukan pengenalan yang dalam terhadap Tuhan untuk bisa bertahan di jalan tersebut. Mengapa? Untuk menumbuhkan rasa takjub, rasa sungkan, dan rasa malu bila akhirnya saya melanggar aturannya. Kadang kala, dan ini sering terjadi, saya mengetahui nilai penting sebuah perintah, namun saya melanggarnya. Tidak perlu saya sebutkan dosa apa yang saya lakukan, semoga Allah mengampuninya. Namun yang jelas, saya merasa bahwa hal itu terjadi karena saya tidak benar-benar meyakini, mencintai, dan merasa ada keharusan untuk mengikuti segala yang dia perintah. Atas dasar ini, maka bagi saya pribadi, saya perlu mengenal Allah dan mencintainya dalam-dalam, agar saya memiliki rasa malu dan rasa sungkan serta rasa bangga dan senang bila terus berada di jalan yang dia ridai.

Tapi bagaimana? Saya sudah meniatkan akan mengirimkan surat lewat pos, eh tapi alamat Allah katanya di ‘Arsy. Selain sulit pergi ke sana, biayanya juga pasti mahal. Pakai motor apa ya untuk bisa ke sana. Duh ini nanti malah bisa jadi merepotkan. Lalu alternatif berikutnya, sepertinya saya harus menjalin komunikasi batin dengan Allah. Lah tapi itu pun juga susah. Toh saya ini siapa, bukan rasul dan bukan sihir, eh maksudnya bukan nabi. Belum lagi tidak ada kepastian apakah Allah nanti membalas balik, dalam arti secara langsung seperti layaknya saat saya ngobrol dengan kamu. Pernah pula terpikirkan untuk stalking di instagram, lah belio nggak punya akun IG, terus aku kudu piye? Lalu saya harus bagaimana? Bagaimana saya bisa mencintai diri-Nya?

Untunglah, setelah saya meminum air minum dan setelah sekian detik berpikir, akhirnya telah kutemukan salah satu hal yang bisa menjadi jawabannya. Yaitu: memikirkan tentang alam semesta yang dia ciptakan. Kok?

*


*

Hasil dari perkuliahan studi Al Quran yang saya tempuh, salah satunya menunjukkan bahwa di dalam Al Quran, Allah menegur, mengingatkan, dan menyampaikan peringatan kepada manusia melalui informasi-informasi yang berkaitan dengan alam semesta. Sebut saja, tentang hujan, tumbuhnya tanaman, kematian tanaman lewat keringnya rerumputan (ini pernah saya tulis dalam sebuah tulisan tersendiri, mungkin beberapa hari ke depan akan saya pos juga setelah pasti ditolak oleh pihak yang saya kirimi naskah, huhu, sedihnya...). Orientasi dari penyampaian itu adalah untuk membuat manusia berpikir dan menghayati kembali tentang alam semesta, dan menurut pemikiran pribadi saya, juga agar mereka semakin yakin pada kebesaran dan keagungan Allah. That he is the only one. Sebenarnya lewat informasi kisah umat terdahulu pun juga dapat digunakan atau diorientasikan untuk hal yang sama, walaupun ada penekanan yang berbeda. Namun menurut saya, yang lebih enak untuk dilakukan adalah dengan mengamati alam semesta. Mengapa?

Sebenarnya ini bersifat dugaan, tapi melihat intensitas teman-teman satu perjuangan yang sangat sering memposting tentang panorama alam semesta di instagram mereka, atau di facebook, menunjukkan bahwa mengamati alam adalah hal yang menyenangkan dan menyegarkan pikiran. Coba deh kamu amati, hijaunya pepohonan dan sawah-sawah, kepakan sayap merpati, semilirnya angin yang menyapa wajahmu, atau dedaunan yang jatuh terbawa angin menuju kelopak matamu, bahkan bisa juga dari yang terkecil; semut yang menggeliat dan menjajah kulit-kulit tanganmu, nyamuk-nyamuk yang selalu mengganggu waktu mau tidur, dan seterusnya, dan seterusnya. Tidak membutuhkan banyak berpikir, pada tahap pertama, karena yang kamu perlu lakukan adalah melakukan sensasi. Ya, kamu hanya perlu mengamati dulu. Gunakan kedua bola matamu yang indah itu untuk melihat dan mengamati bentuk, tekstur, warna, kesimetrisan, dan aspek-aspek penglihatan lain dari alam semesta ini. Gunakan telingamu yang mungil nan lentik itu untuk mendengarkan detak jantung alam ini. Gunakan kedua tanganmu untuk merabanya dan merasakan kebesaran Allah yang terpancar dan membekas pada setiap sudut ciptaanNya, serta gunakan lidahmu yang lentur nan tak pernah kering itu untuk mencicipi manis dan kecutnya buah-buah yang senantiasa tumbuh tanpa perlu kau tarik dari akarnya. Kamu hanya butuh merasakannya, baru setelah itu menghayatinya. Siapa yang bisa menciptakan semua ini?

Nah kalau level segitu sudah terlampaui, cobalah untuk menghayati lebih dalam lagi dengan menambah pengetahuan kita tentang alam semesta ini dari segi yang paling kecil. Misalnya, coba kita perhatikan bakteri, virus, vitamin, protein, enzim, dan seterusnya. Saya pun belum banyak tahu, tapi sejauh yang saya baca, pada ciptaan-ciptaan yang sangat mikro itu, terdapat hal-hal luar biasa yang bahkan bisa membuat dirimu sendiri takjub. Bakteri, yang katanya organisme paling sederhana itu, memiliki berjuta-juta nukleotida yang dimampatkan dalam bakteri yang sebenarnya sudah sangat-sangat kecil. Panjangnya nukleotida pada bakteri berkisar sekitar 1,400 micron, sementara ukuran sel bakteri hanya sekitar 2-3 mikron![1] Bayangkan betapa sumpeknya di dalam sana. Kalau dalam manajemen kependudukan sudah pasti kepadatan penduduknya sangat tinggi! Bakteri juga termasuk organisme yang sangat bandel, bahkan ada yang ditemukan berumur sekitar 700 tahun di dalam batu-batu garam.[2] Kalau mau tahu lebih dalam tentang enzim supaya kamu juga bisa lebih sehat, bacalah bukunya Dr. Hiromi Shinya. Lebih lanjut silakan baca dan mengamati sendiri deh, saya takut nanti malah jadi guru biologi. Prinsipnya, dari situlah kita bisa merasakan betapa agungnya sosok yang menuntun kita itu.

Jadi, apakah sudah kau merasakan kebesaran Allah?

*

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
~ Adz-Dzariyaat 20-21.

*

Semoga tulisan ini mampu memberikan jalan keluar bagi mereka yang sulit merasakan kehadiran Allah dalam setiap nafas kehidupannya. Dan semoga kamu semakin sering mengamati alam semesta, syukur-syukur ngesare di sosial media baik instagram ataupun yang lain, supaya orang-orang yang nggak sempat hunting foto alam semacam saya ini bisa kecipratan ketakjubanmu kepada Tuhan. Terima kasih khususnya pada @esmeraldaanissa, @nurfeby_07, yang telah mengizinkan saya menggunakan foto hasil jepretan mereka untuk membuat tulisan ini. Selamat berjuang menempuh deadline yang masih tersisa. :)

Surabaya,  18 September 2016.




[1] Harun Yahya, “The Microworld Miracle”, hlm.26.
[2] Ibid, hlm. 40.

catatan

Kurban

10.46.00

Didapatkan dari : www.fotothing.com/foxhouse/photo/8048c3c67608c8748464ce383c4af5c9/

*

Sejak beberapa hari yang lalu, jalanan di sekitar ITS, Mulyosari, Kenjeran, dan sekitarnya, sudah mulai dibanjiri oleh para pedagang sapi ataupun kambing kurban. Lapak-lapak dagang yang tidak terpakai, atau wilayah kebon yang ada di pinggir jalan raya ditebangi dan ditata sedemikian rupa menjadi sebuah ‘pasar bebas’ mini untuk menjual kambing dan sapi-sapi kurban itu. Di satu sisi efek dari momentum hari kurban dimanfaatkan dengan sukses oleh pasar untuk menarik investor agar membiayai program seperti kurban untuk daerah-daerah terpencil. Memang, umat Islam akan segera menyambut hari yang penting, hari raya Kurban. Umat Islam beramai-ramai mempersembahkan pengorbanannya untuk Allah.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari Idul Kurban ini bila bergantung dari pengalaman hidup saya. Waktu kecil saya hanya biasa melihat-lihat saja, prosesi penyembelihan kambing-kambing dan sapi-sapi yang dengan ikhlasnya disembelih, dari kejauhan. Sejak SD hingga SMA saya tidak pernah satu kalipun memegang pisau atau kapak untuk menyembelih hewan kurban. Sekarang saya jadi menyesal, karena tidak memiliki skill menyembelih hewan. Duh, apa kata dunia. Tapi cukup sampai di sini saya bermelo-melo, mari kembali fokus ke hari raya Kurban. 

Pada umumnya hari raya ini dilekatkan dengan kisah dua Nabi yang terkenal, lebih terkenal dari Donald Trump atau Hillary Clinton yang sedang pada sibuk kampanye, yaitu Nabi Ibrahim dan Ismail. Secara singkat, kisah tentang beliau berdua dikisahkan dalam beberapa surat, salah satunya dalam As-Saffat ayat 100 hingga 107:

(Ibrahim berdoa) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Ismail merupakan anak pertama Ibrahim. Ibrahim memang sudah lama sangat mengharapkan seorang anak. Sudah sewajarnya bagi seorang laki-laki mengharapkan adanya seorang anak yang akan menjadi penerusnya, menyampaikan risalahnya, menggantikan posisi sebagai kepala keluarga, dan seterusnya. Oleh karenanya Ibrahim pun berdoa, meminta anak kepada Allah, agar dia dikaruniai seorang anak. Satu saja nggak papa deh, mungkin begitu. Gayung pun bersambut, lahirlah Ismail yang ternyata dalam perkembangannya dari yang masih chubby-chubby sampai remaja menjadi anak yang sesuai dengan harapannya. Salah satu sifat yang dimiliki Ismail, sebagaimana disebutkan oleh Allah, bahwa dia adalah seorang anak yang amat sabar. Memiliki anak yang shaleh seperti itu, tentu sangat menggembirakan bagi seorang ayah. Lantas apa gerangan yang membuat Allah memberikan perintah untuk menyembelih Ismail? Apakah Allah iseng saja ingin menjahili Ibrahim?

Tentu tidak, pasti ada sesuatu yang mampu menjadi pelajaran bagi kita. Untuk bisa memahami hikmah dari kisah Ibrahim dan Ismail, mau tidak mau menurut pandangan saya kita harus memahami konteks yang melingkupi kondisi saat itu, sehingga dapat diketahui mengapa Allah menyuruh Ibrahim menyembelih Ismail. Salah satu masalah yang mungkin muncul adalah adanya kemungkinan kecintaan Ibrahim terhadap Ismail tersebut sudah terlalu tinggi, bahkan mungkin hampir sama atau setidaknya mendekati kadar cinta Ibrahim terhadap Allah. Di satu sisi, memang dapat dipahami bahwa kerinduan dan harapan Ibrahim akan seorang anak, sangat mungkin membuatnya mencintai Ismail dengan kadar yang sangat tinggi. Bila sudah sampai pada titik itu, maka kecintaan terhadap Ismail berpotensi untuk menghambat Ibrahim dalam menjalankan tugasnya untuk menyampaikan risalahnya. Saya membayangkan misalnya, suatu ketika Ismail sakit, lalu Allah menyuruh Ibrahim untuk berdakwah, terus beliau meminta untuk diberi kesempatan merawat Ismail dulu sehingga dakwahnya terlambat. Tentu saja ini hanya khayalan saya, bukan kenyataan. Tapi setidaknya ada kemungkinan bahwa kecintaan Ibrahim terhadap Ismail itu bisa membuat lemah dirinya dalam jalan perjuangannya menyampaikan risalah ketuhanan.

Maka di sinilah Allah memberikan perintah untuk Ibrahim agar menyembelih Ismail, atau dengan kata lain untuk mengurbankan Ismail. Ada beberapa sudut pandang yang bisa digunakan untuk memaknai ini. Pertama, perintah tersebut adalah media untuk menghilangkan sumber kecintaan yang melalaikan bagi diri Ibrahim. Kedua, perintah itu sebagai ujian untuk menilai apakah Ibrahim akan tetap pada jalan Allah atau dia menyimpang dari jalan Allah. Dari segi pertama dapat kita maknai bahwa salah satu jalan yang ditunjukkan oleh Allah apabila kita sudah terlalu mencintai sesuatu hingga membuat kita mengurangi kadar kecintaan terhadap Allah adalah dengan menghilangkan atau memusnahkan hal tersebut, sehingga kita bisa kembali pada Allah. Kedua, dari sini terlihat bahwa sosok seperti Nabi Ibrahim pun, mendapatkan ujian untuk tetap menilai apakah beliau benar-benar orang yang beriman, sekalipun sebelumnya beliau sudah melalui berbagai banyak cobaan dan membuktikan dirinya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Dia diharuskan menyembelih sesuatu yang sangat dia cintai, yang sudah sangat dia harapkan diwujudkan oleh Allah. Tapi begitu terwujud, rupanya Allah menghendaki bahwa dia harus diambil kembali. Mungkin karena itulah Allah menegaskan bahwa kejadian itu memang benar-benar ujian yang nyata, ujian yang benar-benar sangat berat yang dihadapi oleh Ibrahim.

Namun berikutnya, berkat keteguhan, kesabaran, dan kesadaran yang tinggi bahwa memang Allah adalah sesembahan mereka, maka baik Ibrahim dan Ismail pun melaksanakan perintah tersebut. Namun begitu terbukti bahwa mereka benar-benar akan melaksanakannya, Allah pun membalas mereka dengan menggantikan Ismail dengan seekor sembelihan yang besar, dalam arti Ismail tidak jadi disembelih, dan Ibrahim pun disuruh untuk menyembelih sembelihan yang lain. Hal ini mengarahkan kita pada hikmah kedua, bahwa kurban yang kita lakukan tidak harus menghancurkan apa yang kita cintai hingga dia tidak lagi berfungsi, namun bisa sementara, dalam arti menjauhkan apa yang kita cintai beberapa saat untuk menjaga agar kecintaan yang kita miliki terhadapnya tidak bertambah menjadi cinta yang berlebihan, dan bila sudah kita dapat kembali menemui apa yang kita cintai itu. Sebagaimana Ibrahim setelah peristiwa itu kembali melaksanakan perintah Allah bersama dengan Ismail.  

Sebenarnya kisah pengorbanan atas sesuatu yang dicintai, juga pernah dilakukan oleh Nabi Sulaiman dan ini pun diabadikan oleh Allah di dalam Al Quran. Tepatnya dalam surat Saad, ayat 30 hingga 34:

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan". "Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.

Sulaiman adalah seorang nabi sekaligus raja yang memiliki kerajaan yang besar. Kuda kemungkinan besar menjadi salah satu hewan yang digunakan untuk mengadakan peperangan, melakukan ekspedisi, ataupun inspeksi ke daerah-daerah yang beliau kuasai. Kuda yang tenang di waktu berhenti dan kuda yang cepat waktu berlalu pada waktu sore, kemungkinan menggambarkan barisan pasukan kuda, atau mungkin barisan kuda-kuda yang dimilikinya saat sedang diarak ke suatu tempat. Barisan pasukan yang teratur dan berbaris, mungkin dapat dianalogikan sebagai sebuah pasukan infanteri, atau mungkin barisan shaf saat kita salat. Barisan yang teratur, gerakan yang teratur dari barisan-barisan itu dapat memunculkan ketakjuban dan hal itu bisa mendorong kita untuk mengaguminya. Pernahkah teman-teman melihat barisan penari yang sangat teratur dalam gerakannya, kemudian kamu takjub melihat keindahan dan keteraturan mereka dalam tarian itu lalu memuji para penari itu? Mungkin seperti itu perasaan yang muncul dalam hati Nabi Sulaiman, ketika melihat barisan-barisan pasukan kuda yang dia miliki. Hingga kemudian perasaan hal itu membuatnya lalai dalam mengingat Tuhan sampai kemudian beliau baru bisa ingat Tuhan saat kuda-kuda itu hilang dari pandangannya. Mungkin yang dimaksud mengingat Tuhan, dalam kasus ini adalah cara beribadah yang menjadi syariat saat beliau menerima ajaran Allah, bentuknya bagaimana tidak perlu dipermasalahkan, yang jelas adalah bahwa kecintaan beliau terhadap kudanya itu membuatnya sampai melupakan diri melaksanakan apa yang seharusnya beliau laksanakan.

Kemudian beliau pun menyadarinya, lalu mengatakan bahwa kuda-kuda itu rupanya melalaikan dirinya, maka bawalah kuda itu biar ku potong kaki dan lehernya (mungkin maksudnya adalah dijadikan pengorbanan). Dari kisah Sulaiman ini menjadi data tambahan bahwa kurban itu perlu dilakukan ketika kita mencintai sesuatu secara berlebihan hingga melalaikan kewajiban yang kita miliki kepada Allah, maka untuk mengatasinya adalah dengan jalan dikorbankan (dihilangkan fungsinya untuk selamanya, dalam hal ini adalah dengan membunuh kuda itu untuk dijadikan persembahan).

Dari sudut pandang etimologi, kurban, secara bahasa artinya adalah persembahan kepada Allah. Bila dihubungkan dengan konteks sejarah di atas, maka persembahan yang diberikan adalah persembahan atas sesuatu yang kita cintai dan berpotensi melalaikan kita dari jalan Allah, yang bisa dilakukan dengan menghilangkan hal itu untuk selamanya, atau sementara. Atau bisa pula dengan merusak fungsinya (membunuh kuda perang, sehingga tidak bisa digunakan untuk perang). Ada satu hal yang menarik dan perlu menjadi perhatian menurut saya, yaitu bahwa apa yang kita korbankan itu adalah sesuatu yang sebenarnya kita cintai.

Unta atau anak laki-laki bagi orang Arab, termasuk pula pada masa Ibrahim, merupakan hal yang sangat valuable atau bernilai, dan wajar bila mereka akhirnya menjadi sesuatu yang dicintai. Unta menjadi teman orang-orang Badui berkelana, khususnya di masa Nabi Muhammad, dan kurang lebih sejak masa Qusai, atau kakek Nabi yang menjadi buyutnya Quraisy, unta sudah difungsikan sebagai teman perjalanan, berdagang, melakukan ghazwah, atau mungkin dalam kondisi khusus berperang. Anak laki-laki juga begitu berharga untuk membantu dalam berdagang ataupun mempertahankan Baninya dari serangan Bani lain, bahkan sebagaimana kisah lahirnya Abdullah, bapaknya Nabi, yang begitu ingin diselamatkan oleh kakeknya agar dia tidak perlu menyembelihnya karena menganggap bahwa Abdullah adalah seorang anak yang begitu bermakna.

Unta di satu sisi juga bisa dilihat sebagai sebuah harta. Orang-orang Arab secara umum sangat ingin menjaga hartanya, bahkan ada sebagian yang menakar timbangan dengan curang agar mendapat keuntungan lebih besar waktu berdagang. Sehingga hal-hal itu mungkin bisa melalaikan mereka dari kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, sebagaimana terjadi pada masa Abu Bakar ada sebagian orang yang menolak membayarkan zakat, salah satunya karena mereka tidak ingin kehilangan harta mereka. Untuk itulah apa yang dikorbankan pada orang-orang semacam ini berkaitan dengan harta.

Lalu bagaimana dengan kita yang ada di masyarakat modern saat ini? Apakah iya pengorbanan kita dengan satu ekor sapi atau satu ekor kambing itu sudah cukup? Atau jangan-jangan malah kita mengorbankan hal yang sebenarnya tidak layak kita korbankan karena tidak ada unsur kecintaan kita terhadap barang itu?

Untuk menjawab hal ini saya kembalikan pada teman-teman sendiri. Menurut saya pribadi, bila dikaitkan dengan harta, maka cara mengukurnya adalah dengan membandingkan dengan harta kita secara keseluruhan dan apakah ada gelagat kita mencintai harta secara berlebihan. Sejujurnya saya justru menangkap bahwa godaan yang kita temui atau dengan kata lain hal yang sangat mungkin kita cintai secara berlebihan hingga melalaikan diri dari jalan Allah kemungkinan besar berbentuk sangat halus dan kita secara pribadi tidak menyadarinya. Baik itu kecintaan terhadap keluarga, kecintaan terhadap pasangan, kecintaan terhadap sesuatu yang lain. Artinya, dalam pandangan saya, percuma kita berkorban kambing atau sapi kalau apa yang sebenarnya kita cintai secara berlebihan itu tidak kita korbankan. Sehingga saudara-saudara, pemetaan perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum anda memutuskan akan berkurban apa. Yohoho...

Namun bukan berarti kita meninggalkan sunah Idul Kurban yang sudah dijalani umat Islam sejak jaman Nabi Muhammad. Tidak, sama sekali tidak. Justru yang saya maksud adalah menjaga spirit pengorbanan yang telah dicontohkan oleh Nabi, dengan memberikan kurban kambing atau sapi, sampai pada titik kita mampu menundukkan kecintaan yang berlebihan terhadap apa yang selama ini kita cintai.

Saya jadi teringat sebuah kisah, kisah fiktif yang terinspirasi dari kejadian nyata dan saya gubah sendiri untuk memudahkan bercerita.

Jadi, ada seorang anak yang mengumpulkan uang sejak dia masih berada di sekolah. Uang-uang itu dia kumpulkan untuk bekal hidupnya kelak di masa depan. Dia ingin kuliah di suatu perguruan ternama. Dia ingin memiliki karier yang bagus sehingga bisa membantu dan menjadi tulang punggung menggantikan kedua orang tuanya yang sudah tua. Pada suatu saat uang itu sudah terkumpul beberapa puluh juta. Dia begitu menghemat harta tersebut hingga akhirnya dia menjadi orang yang pelit dan sulit bersedekah, tidak lagi dia membantu kakek nenek sebelah rumahnya yang ditinggal oleh anaknya sehingga hidup mereka berdua begitu susah. Untuk makan menanti kiriman dari tetangga, tidak ada air bersih karena tidak sanggup membayar listrik atau PDAM. Bila malam datang rumah mereka selalu gelap. Anak itu tiba-tiba tersadar bahwa sebenarnya uang yang dia kumpulkan itu sudah tidak lagi semata-mata untuk kuliahnya, namun sudah mulai muncul kecintaan berlebihan terhadap harta yang dia miliki. Padahal dengan sedikit saja jumlah uang yang berhasil dia kumpulkan itu dia sudah bisa membantu orang tuanya, meneruskan kuliah, dan membantu kakek nenek itu.

Maka dia pun menyedekahkan, hampir puluhan juta dari uang itu untuk sebuah lembaga amal, dan sisanya dia gunakan untuk membantu kakek dan nenek yang tinggal di sebelah rumahnya tersebut. Sekarang setiap kali dia ingin menabung, selalu dia berdoa,

“Ya Allah, aku adalah hamba yang mengabdi untukMu. Aku menabung untuk mempermudah jalanku padaMu. Maka bimbinglah hamba agar tidak menjadikan harta ini menjadi bebanku kelak di hari akhir. Mudahkanlah hati hamba untuk senantiasa mengeluarkan harta yang berlebihan dari tabunganku ini.”

Dan bagi saya, itulah pengorbanan yang sesungguhnya.

Sebagai penutup, semoga yang berkorban tahun ini, semuanya, baik muda ataupun tua, bisa kembali mendekatkan dirinya kepada Allah dan kembali berjuang sesuai dengan kehendakNya.


* Sebagian besar tulisan ini terinspirasi dari hasil diskusi, kuliah, dan pemaknaan pribadi. Diubah pada tanggal 12 September 2016, setelah berdiskusi dengan seseorang yang memberikan masukan terhadap tulisan ini. Terima kasih buat sang pemberi masukan yang malu-malu(in) dan nggak mau disebutin namanya, hahaha. 

cerpen

Lebaranmu

18.57.00

Selama masih bisa terbangun, masih mungkin saling berjumpa. Bila tidak, kau harus merelakanku pulang.

--

Terhitung hingga hari ini, sudah 835 hari, 20040 jam, lebih 350 detik kita tidak bertemu. Walau sudah selama itu, aku masih ingat bagaimana jalan kita berpisah. Siapa pula yang mampu melupakan hal semacam itu. Kita memang manusia yang lemah. Atau, lebih tepatnya, aku memang manusia yang lemah. Sambil mengingatmu dan membaca koran pagi ini, kopi yang masih hangat-hangat kuku ini kuhabiskan. Tak berselang lama aku keluar dari kedai kopi pinggir perempatan lampu merah tempat kita dulu mengawali pembicaraan menuju stasiun kereta api. Di tempat itu pertama kalinya kita berbicara dengan keadaan yang lebih pantas.

Menyusuri trotoar jalan, dari kejauhan, aku melihat jalanan masih nakal seperti biasanya. Bunyi klakson terus bersahutan, menggerutu supaya pengendara di depannya segera menginjak pedal gas, padahal lampu lalu lintas belum mengizinkan mereka pergi. Para pemusik jalanan itu masih memakai topi lusuh yang saban hari terbang tertiup angin lalu hinggap di kepala pak polisi. Betapa baik pak polisi itu, topi itu dibuangnya ke tempat sampah. Memang tempat sampah adalah tempat yang lebih layak untuk topi kusam itu. Tapi memang anak kecil di ujung jalan yang lain itu sangat jahil, dengan pakaiannya yang tampak bagus dia tega mengotorinya untuk mengambil topi kusam itu. Kemudian, dengan langkah kecilnya dia kembali pada para pemusik itu untuk mengembalikannya. Kau bisa lihat bagaimana mereka kemudian bersedih, sambil membungkuk pada anak kecil itu dan membiarkan air mata yang mereka miliki berbicara. Duh, kurang ajar betul anak itu. Sia-sia kebaikan pak polisi.

Kau tahu, Ningsih? Setiap akhir bulan Ramadan tiba, aku selalu teringat saat kita pergi ke pantai berdua saja. Untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Waktu itu, kita memutuskan pergi ke pantai untuk liburan, serta mengenang pelarian yang kau lakukan ini. Kita berdua naik motor, sambil berusaha untuk menjaga jarak. Mau bagaimana lagi, naik taksi terlalu mahal, sementara berjalan sepertinya bukan pilihan yang paling bijak. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kau berbicara tentang masa lalumu dan memikirkan masa depan yang mungkin kita tempuh, di pinggir pantai itu. Hari itu gerimis datang beberapa saat setelah kita tiba. Memaksa kita untuk lekas pergi sebelum puas menikmati pantai yang seumur-umur baru saat itu kutemui.

Menjadi seorang pelarian sepertimu pasti bukan hal yang mudah. Tanpa memiliki keluarga, saudara, atau pun teman yang bisa kau percaya. Semakin jauh kau melarikan diri dari kejaran orang yang mengejarmu, semakin kau tak tahu akan ke mana kau berlabuh. Apalagi, tanpa adanya rumah sebagai tempat kembali. Walau demikian, aku tetap berusaha menghibur dan meyakinkan akan masa depan yang cerah. Aku yakin kau pasti mampu menemukan tempat yang merindukanmu untuk segera pulang, sejauh apa pun kau pergi. Aku harus seperti itu, agar kau tidak semakin jatuh dalam kebimbangan.

Pertemuan pertama kita, ah, bagaimana ya, sangat sulit untuk dikatakan sebagai pertemuan yang romantis. Dirimu yang kabur dari rumah majikanmu, tiba-tiba begitu saja bertemu denganku. Dengan tangan kecilmu yang gemetar itu kau memintaku untuk menolongmu pergi dari rumah besar dengan patung Pegasus, hewan dari mitologi Yunani itu, di depannya sebagai hiasan dan simbol kekayaan yang dimiliki oleh sang pemilik rumah. Dari kejauhan dua orang berpakaian satpam beserta laki-laki yang tampak lebih muda mengejarmu sambil meneriakkan kata-kata serapah. Langsung saja aku bergegas mengendarai motor menjauhi tempat itu. Niat awalku untuk meminta bantuan dana pada pemilik rumah langsung saja sirna. Tidak mungkin pemilik rumah itu orang yang baik.

“Mbak, namanya siapa?”

“Ningsih, Mas.”

“Rumahnya di mana mbak? Mari saya antar ke sana.”

“....”

“Kenapa, Mbak?”

“Saya tidak punya rumah, Mas.”

Kemudian air matamu mengalir lagi. Duh, aku pun membawamu ke kedai kopi agar engkau dapat menenangkan diri. Sebenarnya aku sendiri tidak yakin apakah itu tempat yang pantas untuk menenangkan diri. Apalagi kali ini dengan seorang perempuan. Maklum, aku tak pernah banyak bergaul dengan perempuan seumur hidupku. Kencan saja tidak pernah. Kau hanya memesan air putih segelas saja waktu itu. Sementara aku memesan roti lapis yang pada akhirnya kuberikan untukmu juga.

Seiring waktu kita mulai saling membuka diri. Mungkin karena terpaksa. Aku membawamu ke kontrakanku, mengaku-ngaku bahwa engkau adalah sepupuku dari jauh yang ingin mencari kerja di kota tua ini. Seminggu pertama kau mulai menceritakan banyak hal. Tentang asalmu, ceritamu di kota ini, apa yang sedang kau lakukan dan mengapa kemudian pada hari itu kau melarikan diri, dan mengapa kau sangat menolak untuk pergi ke tempat penampungan orang yang disediakan pemerintah, padahal terdapat perlindungan penuh di sana. Memang aku yang menuntutmu untuk menceritakan hal semacam itu. Agar aku bisa lebih percaya dan mengenalmu.

“Aku tidak bisa pergi ke sana, Mas. Terlalu berbahaya. Mbok Roro pasti mencariku saat ini, karena aku membawa sesuatu yang berharga dari rumahnya. Tempat penampungan seperti itu, sangat mencolok...”

Sejujurnya aku cukup terkejut, akan dua hal. Pertama, tentang barang berharga yang kau bawa itu ternyata adalah sebuah permata seberat 0,17 kg yang berasal dari luar negeri sana. Namun tak pantas pula kalau aku bilang kau adalah seorang pencuri, mengingat selama ini ternyata kau diperlakukan begitu kejamnya oleh orang yang kau sebut Mbok Roro itu. Jadi, sepertinya apa yang kau lakukan lebih mirip upaya mendapatkan kembali hak yang direbut oleh Simbok itu, walaupun ya pada akhirnya tetap saja itu namanya pencurian sih. Tapi masa bodoh, toh tampaknya kita masih bisa mengembalikan permata itu lagi. Kedua, tentang bagaimana jalan berpikirmu yang sangat visioner itu. Entah apakah kau sudah berpengalaman dengan hal semacam ini atau memang rasa ketakutanmu yang mendorong kemampuan berpikirmu itu. Pada akhirnya aku mengiyakan, dan karena aku satu-satunya yang tahu keadaanmu, mau tidak mau aku harus membantumu. Aku tahu betapa hidup akan menjadi sangat susah bila segalanya harus kau bebankan pada pundakmu sendiri.

Pada akhirnya kita memulai hidup satu atap. Kita mulai saling berbagi, banyak hal. Tentang diri kita sendiri ataupun makanan, minuman, dan sejenisnya. Selang 2 minggu kau kunyatakan sebagai sepupu yang pindah ke kota ini, kau sudah punya pekerjaan menjadi guru ngaji di masjid desa. Anak-anak di sana menyukaimu, bahkan ibu-ibu dan bapak-bapak mereka juga lebih akrab denganmu dibandingkan denganku. Syukurlah, dengan begini kau bisa menyembuhkan diri, sementara kita memikirkan bagaimana masa depanmu dan masa depanku. Tidak mungkin kau bersembunyi terus di kontrakan ini. Toh, aku juga tidak selamanya tinggal di sini. Tidak mungkin tiba-tiba aku pulang ke rumah membawamu, dan tidak mungkin pula aku membiarkanmu sendirian. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.

Satu hal yang sangat membuatku khawatir adalah bagaimana kau mudah sekali lupa dan kadang kala terbatuk-batuk hingga lama. Kau terlihat kesakitan. Pada mulanya kau melupakan hal-hal kecil, tapi kemudian kau mulai melupakan banyak hal. Termasuk masa kecilmu, bahkan jalan pulang menuju ke rumah pun kau melupakannya. Untungnya kau selalu mengingat bahwa orang-orang desa ini baik, sehingga mereka senantiasa mengantarkanmu pulang kembali. Memang ini hanya terjadi kurang dari lima kali saja, setelah hampir 2 tahun lebih kita hidup bersama. Apa mungkin karena kau sering minum pil kecil itu? Atau karena kau menderita penyakit yang lainnya? Sejauh ini kau belum pernah bercerita kepadaku.

--

“Mas Galih, pulang jam berapa?”

“Mungkin jam 8 malam Mbak Ningsih. Ada apa mbak?”

“Ah, tidak. Tadi Pak RT datang ke mari, katanya mau ada kondangan di rumah Pak Ahmed. Aku sudah bilang kalau sepertinya Mas tidak bisa datang, jadi sebagai gantinya aku membantu memasak di rumah Pak Ahmed. Tidak papa, ‘kan?”

“Ah, begitu ya. Wah, terima kasih sekali Mbak! Tentu saja tidak papa, selama Mbak baik-baik saja tentu tidak masalah buatku. Pak Ahmed adalah orang yang baik, dan orang di desa ini juga begitu kok..”

“Baiklah.. Dan, satu lagi, bagaimana kalau kita saling memanggil dengan nama kita saja? Umur kita tidak berbeda jauh, bahkan hanya berbeda 3 tahun saja. Tapi sesekali aku akan tetap memanggil dengan sebutan ‘Mas’, karena Mas yang lebih tua, hehe.”

“Ah, boleh-boleh, hahaha...”

--

Ningsih, kau tahu, orang-orang sudah pada mudik ke kampung halaman masing-masing, bahkan ketika lebaran masih berjarak satu minggu lagi. Tiket kereta api tanggal 3 Juli yang selama ini kuburu, juga sudah habis diambil orang. Sebagai gantinya aku harus naik bis, tapi sepertinya itu pun tidak mungkin. Terlalu berdesak-desakan, selain itu juga berbahaya. Biasanya aku tak sepusing ini memikirkan bagaimana cara pulang. Ibu sangat pengertian padaku. Dia juga yang mengajarkanku untuk lebih memilih hal yang lebih penting daripada keluarga, yaitu perjuangan meraih hidup yang lebih layak. Tapi, berkat pertemuan kita, aku jadi menyadari betapa keluarga itu memiliki arti yang lebih dari sekedar tempat untuk pulang. Apalagi aku memiliki keluarga, dalam hal ini Ibu, satu-satunya keluargaku yang masih tersisa dari amuk rezim Presiden Lukas, yang sangat mendukungku, melalui banyak cara.

Ibu pernah, suatu ketika menyisihkan uangnya lalu dikirimkan kepadaku. Jumlahnya tidak begitu besar, namun sebenarnya cukup untuk makan satu minggu lebih. Begitu menerimanya aku langsung menghubungi ibu melalui telepon, kukatakan padanya untuk menyimpan uang seperti ini bagi kebutuhan hidup di rumah saja. Aku sudah menemukan pekerjaan yang cukup layak untuk hidup di sini. Sementara ibu hanya menjawab dengan lugas.

“Pakailah uang itu untuk menambah apa yang kurang darimu.”

Waktu itu kau tampak terharu.

“Kau sungguh beruntung, Mas Galih. Aku iri padamu.”

--

“Kalau lebaran datang, apa yang biasa engkau lakukan?”

“Tidak banyak, Mas. Hanya membantu di rumah pemilikku, ah, maksudku majikanku. Atau membantu di masjid, atau ya mengabdikan diriku di panti asuhan yang banyak ditinggal saat lebaran seperti ini. Aku tidak memiliki kegiatan apa pun selama lebaran.”

“Tidak ada teman yang bisa kau kunjungi?”

“Ada, tapi mereka terlalu jauh.”

“Di mana?”

“Di Arab, Thailand, dan lainnya Mas. Mereka tidak bisa pulang karena tidak ingin kehilangan uang gaji. Keluarga mereka bergantung pada itu, Mas.”

--

Beberapa kali aku mengajakmu pulang ke kampung halaman, menemui Ibu dan menjadi temanku pulang. Awalnya kau selalu menolak, menanyakan padaku alasan apa yang akan kukatakan pada Ibu bila aku membawamu pulang. Waktu itu yang terbesit dalam pikiranku hanya satu, tinggal bilang saja bahwa dirimu adalah pacarku. Tentu saja, bukan berarti aku memaksanya menjadi pacarku. Kita bisa saja kemudian mengatakan pada ibu bahwa kami putus karena merasa tidak cocok, namun masih menjadi sahabat dan karena itu aku meminta Ibu memperbolehkannya tinggal di rumah kami, sebagai tempat tinggal sementara sebelum dia mendapatkan pekerjaan di desa. Kenapa ingin menetap di desa ini? Karena dia betah dan nyaman dengan suasana desa, tinggal bilang begitu saja. Dan memang di desa yang kucintai ini, kondisinya lebih baik lagi dibandingkan suasana di perantauan. Gotong royong, rasa kekeluargaan, semua hal yang berbau masa lalu namun baik untuk perkembangan kejiwaan seseorang, ada dengan lengkap di sini.

Bisa kulihat dari raut wajahmu kau tampak malu-malu, sebelum akhirnya menolak dengan alasan kau tidak ingin membohongi ibuku. Kau memintaku untuk menceritakan tentangmu kepada ibuku, sedikit demi sedikit kemudian baru akan mengikutiku pulang setelah ibu mengetahui yang sebenarnya terjadi. Tidak ada lagi kebohongan karenaku, katamu. Sayangnya, sebelum aku sempat mengatakan akan pulang bersamamu kali ini, kita sudah berpisah cukup lama.

Sejujurnya aku merasakan kesedihan yang amat saat kau pergi begitu saja, hanya meninggalkan sepucuk surat dan permata yang dulu berasal dari rumah Mbok Roro itu. Sampai saat ini aku masih belum bisa menemukan alasan atas kepergianmu. Apakah karena diriku, apakah karena engkau sudah menemukan rumah, atau bagaimana, aku sangat sulit menemukannya. Dan lagi, untuk apa pula permata ini kau tinggalkan? Sekalipun harganya selangit, cukup untuk membiayai hidupku sampai mati sekalipun, tidak akan sebanding dengan perasaan yang kurasakan karena kepergianmu. Memang kita bukan kekasih, tapi bagiku kau sudah menjadi sahabat, keluargaku di sini. Setan apa gerangan yang membuatmu memutuskan untuk pergi? Selama satu bulan lebih aku memikirkannya, hingga kemudian perlahan aku mulai merelakan keputusanmu.

Hari ini aku pulang. Aku terlambat satu hari dari janjiku pada Ibu. Pada akhirnya aku pulang sehari setelah lebaran. Tidak banyak yang kubawa pulang, hanya beberapa pakaian dan peralatan lain yang kuperlukan untuk mengerjakan tugas. Perjalanan kali ini kutempuh menggunakan kereta bisnis. Tiketnya tidak terlalu mahal. Beserta dengan barang-barangku yang lain, aku membawa serta surat perpisahanmu. Entah kenapa, aku ingin membacanya di tengah perjalanan. Siapa tahu aku akan terhibur dengan suratmu yang sedih itu.

--

Assalamualaikum.

Mas Galih, saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah tidak lagi ada di sekitarmu. Aku sendiri tidak tahu mas, saat ini aku akan berada di mana. Mungkin aku akan melupakanmu, ketika kau sudah membaca surat ini. Mungkin aku juga tak akan pulang lagi. Sebagai gantinya, kutinggalkan permata itu mas. Terserah Mas Galih, mau di apakan. Dikembalikan ke Mbok Roro lebih baik, disedekahkan juga sama-sama mulia. Toh, orang seperti Mbok Roro tidak mungkin pusing memikirkan hal sesederhana itu Mas.

Selamat lebaran Mas, hehe. Maaf kalau saat membaca surat ini di sana belum lebaran. Tapi bagiku hari ini sudah lebaran. Karena aku sudah pulang kembali ke rumah. Walaupun sebenarnya itu rumahmu, tapi aku akan menganggapnya sebagai rumahku. Dengan begitu aku bisa membanggakannya pada orang-orang. Aku bisa berlebaran! Karena aku sudah punya rumah, dan kakak yang baik. Walaupun tidak ada kue kering, nastar, ataupun madu mangsa di meja tamu untuk menyambut kedatangan tamu-tamu kita. Tak apa, aku masih bisa membuatnya lain waktu. Aku jago memasak lo, jangan lupakan itu.

Akhir-akhir ini aku semakin pelupa Mas, hehe. Kata mereka aku tua terlalu cepat. Mungkin benar, aku memang sudah terlalu tua. Walaupun umurku masih muda, tapi jiwaku sudah lelah menempuh perjalanan hidup. Kalau saat itu tidak bertemu dengan dirimu Mas, aku rasa mungkin aku akan berakhir dengan bunuh diri. Ada banyak hal yang tidak bisa kuceritakan kepadamu Mas walaupun aku sangat ingin melakukannya. Bukan karena apa, tapi karena aku sudah melupakan banyak hal Mas. Bahkan untuk memakai jilbab saja, aku memakan waktu yang sangat lama bukan?

Setelah ini mungkin kau akan sedih Mas, mungkin juga akan marah kepadaku. Tak apa, itu lebih baik daripada Mas melupakanku. Bagiku engkau adalah tempatku untuk pulang Mas. Ibumu mungkin juga akan menjadi tempatku pulang, kalau saja kita sempat bertemu. Walaupun saat ini, saat menulis surat ini saja, aku sudah banyak melupakan wajah dan kenangan yang kita lalui selama kurang lebih 3 tahun hidup bersama.

Terima kasih Mas. Atas kebaikan dan pertolonganmu. Aku mampu memiliki tenaga untuk hidup lebih lama dan menjadi orang yang bermanfaat lebih lama. Terima kasih telah menjadi rumahku selama tiga tahun ini. Walaupun lebaran sudah tiga kali kita rayakan bersama, di lebaran keempat dan seterusnya mungkin aku tak akan lagi bisa meramaikan suasana. Namun tetap saja, engkau adalah keluargaku yang menjadi tempatku pulang.

Cepat dewasa Mas, temukan pasangan hidup dan segera menikah. Jangan menunggu terlalu tua, nanti kau menyesal tidak segera menikah. Tapi juga jangan terburu menikah, karena selagi masih muda kau harus mengejar asa setinggi mungkin.

Jangan makan sembarangan, istirahat yang cukup. Jangan melupakan agama, seperti yang selama ini kau katakan kepadaku.

Terakhir, aku sangat berharap kita bertemu kembali Mas. Bila aku mampu melakukannya, bila aku masih ada kesempatan, aku harap kita bertemu kembali. Tapi bila tidak, relakan aku untuk pulang ya Mas. Terima kasih, terima kasih, terima kasih...

Adikmu, Ningsih.

--

Ningsih, aku sudah menyiapkan kue kering dan beberapa kue lainnya untuk menyambut lebaran kali ini. Aku sudah memberikan alamat rumah ibuku kepadamu, jadi aku berharap kau akan mampir ke sini. Tapi kalaupun kau tidak pulang, maka bagianmu akan kumakan. Salah sendiri, tiba-tiba pergi begitu saja. Dan lagi, permata itu akhirnya kusedekahkan seperti yang kubilang. Kalau ternyata kita berdosa, aku tidak mau menanggung sendirian, kau juga harus ikut.

Begitulah yang ada dalam pikiranku saat ini. Di atap rumah Ibu, sambil memandang langit, ternyata aku memang harus menghabiskan kue milikmu Ningsih. Ya sudahlah, mungkin esok kau akan datang, atau esoknya lagi. Kalaupun pada akhirnya kau tak datang, tak masalah, aku sudah merelakanmu pulang. Walaupun pada awalnya sulit.

Selamat lebaran, semoga kau merayakannya dengan bahagia.


* Kesamaan nama, tempat, alur, adalah ketidaksengajaan yang tidak direncanakan. Cerita ini adalah fiksi.