catatan

Global Warming: Waktu untuk Merevitalisasi Transportasi Umum

21.29.00

Pasca menulis di melekin.id saya sempat hiatus beberapa saat, hingga saya melihat film terbaru Leonardo DiCaprio. Leonardo Dicaprio, aktor tampan yang banyak dikenal karena berperan dalam salah satu film romantis "Titanic" itu, dalam film dokumenter terbarunya tampak berpidato di hadapan para pemimpin dunia. Artis terkenal itu rupanya ikut dalam sidang PBB. Jauh hari sebelumnya, dia sudah berkeliling dunia, ke India, Indonesia, Amerika, Eropa, dan lain-lain untuk menjadi aktor sekaligus narator dalam sebuah film dokumenter, "Before the Flood". The message here is short and simple. Global warming is real, global warming itu nyata. Melihat film itu membuat saya tergugah--meski film itu tidak lepas dari banyak kritik--. Wah, sepertinya topik ini akan bagus untuk diulas jadi sebuah tulisan. Maka jadilah tulisan ini, dan kemungkinan beberapa tulisan berikutnya, yang akan membahas tentang global warming. Pada tulisan ini saya akan membahas apa itu global warming dan salah satu solusi yang saya pikir dapat menjadi alternatif untuk mengatasi masalah global warming.

Apakah Global Warming itu Nyata?

Global warming, menurut saya dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dan sebuah keadaan. Sebagai sebuah proses, global warming adalah sebuah runtutan peristiwa atau kejadian yang menyebabkan keadaan suhu bumi meningkat, menjadi lebih hangat dan lebih panas dari pada kondisi sebelumnya. Sebagai sebuah keadaan, global warming adalah sebuah kondisi, a state, di mana suhu bumi secara umum relatif panas sehingga menyebabkan perubahan-perubahan iklim dunia. Dua definisi ini saling berkaitan, dan menurut saya saling melengkapi.

Berdasarkan dari pengamatan NASA, sebenarnya bumi kita ini memang mengalami pemanasan dan pendinginan secara teratur, alias memiliki siklus natural warming-and-cooling. Kita memiliki ‘gas rumah kaca alami’ yang ada di atmosfer bumi[1]. Bumi kita yang kecil ini mendapatkan cahaya dan energi panas dari matahari. Sekitar 30% dari cahaya dan energi panas matahari itu terpancar kembali ke luar permukaan bumi, sementara sisanya diserap oleh batu-batuan, tanaman, air, udara, gedung dan lain sebagainya. Benda-benda yang menyerap energi panas matahari di permukaan bumi ini, akan kembali memancarkan atau meradiasikan energi panas ke luar dari dalam dirinya, salah satu arah pancarannya adalah menuju atmosfer. Di atmosfer kita terdapat gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana dalam jumlah tertentu. Gas-gas pengikat energi panas ini, akan menyerap energi panas yang dipancarkan dari permukaan bumi tersebut. Saat mereka mendapatkan energi panas itu, molekul-molekul gas-gas tadi akan berubah menjadi semacam penghangat kecil, yang membuat mereka juga akan memancarkan kembali energi panas itu, sekalipun bila tidak ada api. Akhirnya kembalilah energi panas tadi ke permukaan bumi.

Bayangkan saja kita sedang bermain dakon. Biji dakon itu anggaplah sebagai energi panas, sementara cekungan-cekungan alias lubang dakon itu sebagai tempat energi panas itu dapat menetap. Anggap saja salah satu anggap saja bumi. Nah, gas rumah kaca itu, adalah tangan kita yang mengembalikan energi panas yang kita ‘ambil’ dari bumi, lalu kita kembalikan lagi ke ‘lubang’ bumi lagi setelah berkeliling dari lubang-lubang lainnya.

Bila jumlah gas rumah kaca yang ada di atmosfer sangat banyak, maka radiasi energi panas yang kembali ke bumi juga akan sangat banyak, sehingga terjadilah peningkatan suhu bumi yang cepat, alias global warming[2].
Grafik jumlah karbon dioksida dan metana dari tahun ke tahun hingga tahun 2000. Terlihat bahwa jumlah karbon dioksida dan metana terus mengalami peningkatan, kecuali metana untuk tahun 2000 terlihat mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sumber: earthobservatory.nasa.gov 
Dalam salah satu mosi debat bahasa Inggris yang pernah saya ikuti, keabsahan global warming ini sempat dipertanyakan. Dan perdebatan ini pun juga ada di dunia nyata. Dari filmnya si Leonardo itu, digambarkan ada salah satu ilmuwan yang didiskreditkan karena menyimpulkan bahwa bumi semakin memanas, dan bahwa global warming adalah sesuatu yang nyata dan berbahaya. Bila kamu browsing di dunia maya dengan keyword ‘climate change denial’ pun akan banyak fenomena yang bisa dipaparkan mbah google tentang adanya perdebatan tentang global warming itu sendiri.

Perdebatan itu tentu bukan tanpa alasan. Bila secara ilmiah diakui bahwa global warming itu nyata, maka implikasi atau pengaruhnya akan merembet pada banyak hal. Kebijakan politik, perjanjian internasional, alokasi anggaran pemerintah, dan lain-lain akan menyesuaikan dengan pengetahuan yang diakui oleh pemerintah. Seperti misalnya, terjadinya kesepakatan Paris, untuk mengurangi tingkat emisi dunia-dunia yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Dalam hal ekonomi, bahan bakar yang berkontribusi besar dalam proses global warming ini tentunya akan cenderung dihindari oleh masyarakat global. Pola konsumsi akan berubah secara masif. Sebut saja produksi C02 (karbon dioksida), CH4 (metana), N02 (nitrogen oksida), akan sebisa mungkin dihindari. Tingkat konsumsi daging sapi misalnya, pasti akan mengalami penurunan sebab bila kita banyak mengonsumsi daging sapi, begitu buang air besar maka metana yang kita keluarkan akan banyak. Dan karena itulah, salah satu saran yang diusulkan oleh ilmuwan dalam film ‘Before The Flood’ itu adalah mengganti konsumsi daging sapi dengan daging ayam bagi orang-orang di Amerika. Siapa yang rugi? Tentu saja mereka yang punya kepentingan untuk mendapatkan uang dari situ.

Sejak tahun 1920, suhu bumi kita diketahui semakin meningkat, bila pun ada penurunan, rata-rata terjadi peningkatan suhu yang lebih tinggi[3]. Dalam prediksi tingkat panas yang paling tinggi, pada abad ke 21 ini akan terjadi peningkatan suhu sampai sekitar 4.8 derajat celcius[4]. Penelitian pada tahun 2015 yang dipublikasikan di jurnal Science oleh Karl et al., menambah kuat dugaan bahwa global warming itu tetap terus terjadi hingga abad ke 21 ini, dan pemanasan global itu akan semakin meningkat apabila kita tidak bertindak[5].
Grafik peningkatan suhu dari hingga tahun 2000. Terlihat bahwa mulai dari tahun 1920 terjadi peningkatan suhu bumi, dan sempat mengalami penurunan sekitar tahun 1950, namun mulai tahun 1980 meningkat secara drastis hingga 2000. Sumber: earthobservatory.nasa.gov

Apakah Global Warming Berbahaya?

Sekarang pertanyaan berikutnya, seberapa berbahayakah global warming itu? Apakah perubahan suhu bumi yang semakin memanas itu membahayakan kita? Jawabannya, iya. Perubahan suhu bumi yang semakin memanas akan menghasilkan dampak-dampak tertentu yang buruk bagi para penghuni bumi, termasuk kita sebagai spesies manusia yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur bumi ini.

Dampak pertama adalah mencairnya es di kutub utara atau kutub selatan. Mencairnya es ini (dan sampai sekarang terus terjadi), akan meningkatkan permukaan air laut. Oleh sebab itu, maka potensi banjir di daerah tepi pantai akan semakin meningkat[6]. Pulau-pulau kecil bisa jadi tenggelam, dan lahan di daerah pantai bisa berkurang karena air laut meninggi.

Dampak berikutnya adalah daerah basah, alias sering hujan akan semakin basah, sementara daerah kering seperti daerah rawan curah hujan akan semakin kering[7]. Hal itu terjadi karena saat suhu bumi semakin panas, maka proses penguapan air akan semakin cepat. Di daerah yang curah hujannya tinggi alias tersedia banyak air di permukaan tanah, maka air akan cepat menguap, siklus hujan akan cenderung cepat terbentuk, maka hujan akan cepat turun pula. Sementara di daerah yang curah hujannya rendah, alias kering, yang memiliki jumlah air cenderung kecil, akan semakin sulit untuk menemukan air karena air di permukaan akan semakin cepat menguap. Dengan demikian, pada daerah yang basah, jumlah air akan semakin banyak, potensi banjir akan semakin meningkat. Pertanian atau perkebunan akan terpengaruhi oleh keadaan ini. Kegagalan panen akan semakin meningkat karena banjir dapat merusak tanaman mereka. Sementara pada daerah kering, air akan semakin sulit didapatkan. Kesulitan mendapatkan air ini tentu berdampak pada kesehatan dan harapan hidup orang yang berada di daerah tersebut. Memasak akan sulit, mandi akan sulit, minum pun juga pasti akan sulit.

Dampak berikutnya adalah potensi terjadinya heat waves, atau gelombang panas, juga akan semakin tinggi. Tidak hanya intensitasnya, kualitas dari gelombang panas yang terjadi pun juga tinggi. Heat waves adalah sebuah kondisi di mana suhu di sekitar kita terasa sangat panas, bahkan di malam hari sekalipun[8].  Bayangkan bila selama seminggu kita beraktivitas dengan kondisi lingkungan sekitar yang sangat panas, sampai 45 derajat celcius, bahkan lebih. Bayangkan bila heat waves yang terjadi di Mitribah, Kuwait[9], saat suhu lingkungan mencapai 54 derajat celcius kita alami selama satu minggu? Pernah lihat teman kita yang jatuh pingsan saat upacara bendera karena kepanasan? Kira-kira seperti itulah yang bisa kita alami. Yang paling buruk, kita bisa mati karena kepanasan.

Alhamdulillah pada tahun 2014, dalam laporan penilaian kelima Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), disimpulkan bahwa kemungkinan besar pengaruh manusialah yang menjadi faktor dominan terjadinya pemanasan (bumi) yang telah diamati sejak pertengahan abad ke 20[10]. In short, dari situ telah diakui bahwa terjadi pemanasan global, yang lebih lanjut diduga disebabkan oleh faktor manusia. Dalam Sustainable Development Goals, target ke 13 yang dicanangkan pun juga berkaitan dengan isu perubahan iklim, yang artinya, para pemuka dunia telah mengakui ada masalah perubahan iklim yang akan terjadi beberapa tahun ke depan[11]. Perjanjian Paris, yang berbicara masalah perubahan iklim dan tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasinya, juga telah disepakati oleh berbagai negara di dunia.

Global warming itu nyata, dan berbahaya. Kita adalah aktor yang menyebabkan hal tersebut, maka seharusnya kita pula yang melakukan tindakan untuk mengatasinya. Bukankah begitu?

Revitalisasi Transportasi Umum

Kota Tallinn di Estonia menerapkan transportasi publik tanpa biaya. Sumber: theguardian.com
Transportasi umum atau transportasi publik, dalam pandangan saya adalah kendaraan bukan milik pribadi atau milik pribadi yang digunakan untuk kegiatan bepergian oleh masyarakat umum dengan memberikan biaya sewa tertentu sebagai balas jasanya. Definisi ini saya ambil dengan melihat kenyataan di Indonesia, seperti penggunaan bus, taksi, ojek dan lain sebagainya. Sementara di negara lain, pengertian dengan biaya sewa tertentu itu bisa saja tidak berlaku, sebab public transportation bisa jadi gratis, seperti yang ada di Tallinn, ibu kota negara Estonia, atau Hasselt, Belgia[12].

Kendaraan yang biasa kita gunakan, seperti motor, mobil, dan lain sebagainya, merupakan salah satu sumber adanya karbon dioksida yang akhirnya berkelana ke atmosfer bumi kita. CO2 dihasilkan sebagai hasil pembakaran dari bahan bakar fosil (bensin, solar, dan seterusnya) dan aktivitas pabrik. Sekitar 65% gas rumah kaca adalah gas karbon dioksida[13]. Karbon dioksida merupakan gas rumah kaca paling banyak yang dihasilkan di dunia. Di Amerika Serikat sendiri, penyumbang terbesar kedua emisi CO2, berasal dari sektor transportasi, yaitu sebanyak 31%. Sementara dari hasil aktivitas elektronik sebanyak 37%[14]. Selain Amerika, China juga menjadi salah satu negara yang memberikan sumbangan terbesar dalam produksi CO2.

Secara prinsip, apabila kita mampu mengurangi jumlah kendaraan yang kita gunakan, atau mengganti kendaraan yang menghasilkan gas buang berupa CO2 dan sejenisnya, maka kita juga dapat mengurangi produksi CO2. Dampaknya adalah, lambat laun kita dapat mengurangi jumlah gas rumah kaca yang ada di atmosfer, dan mengembalikan atau menjaga suhu bumi kita agar tidak semakin panas lagi. Bagi saya sendiri, gagasan ini patut untuk diperjuangkan. Tentu saja dengan melakukan tindakan-tindakan lain yang juga akan berperan besar untuk mengurangi produksi gas rumah kaca, seperti mengurangi tingkat konsumsi bahan bakar fosil dan lain sebagainya.

Kendaraan di Indonesia

Di Indonesia, data terakhir dari BPS pada tahun 2015 menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 121.394.185 unit[15]. Dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, terus terjadi peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia. Sejak tahun 2009, peningkatan kendaraan bermotor kurang lebih mencapai 10 juta per tahun dan terus konsisten hingga terakhir di tahun 2015. Peningkatan paling tinggi selalu dialami oleh sepeda motor. Bahkan, sejak tahun 1996, sepeda bermotor sudah berjumlah 10 juta, paling tinggi dibandingkan dengan kendaraan lain yang didata oleh BPS. Jumlah itu secara konsisten terus mengalami peningkatan hingga tahun 2015. Walaupun demikian, jumlah mobil penumpang juga banyak, sekitar 13 juta di akhir tahun 2015. Jumlah kendaraan sebanyak itu, saya rasa menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia lebih menyukai menggunakan kendaraan pribadi untuk mendukung berbagai aktivitas kesehariannya. Bahkan sejak sekolah, anak-anak kita sudah diajari dan diperbolehkan untuk membawa motor sendiri untuk bersekolah bukan?

Melekatnya kendaraan dengan kehidupan kita sehari-hari bukanlah tanpa sebab. Di jaman modern ini, kita dituntut untuk semakin cepat, efisien, dan menghasilkan banyak karya dalam waktu yang sedikit. Kerja dari jam 8 pagi, pulang jam 5 sore, di rumah mengerjakan deadline untuk esok hari. Anak-anak yang masih sekolah pun, juga memiliki rutinitas yang sama. Tuntutan tepat waktu dan disiplin membuat kita harus memiliki teknologi yang mampu membuat kita berpindah tempat dengan cepat, dan fleksibel sesuai dengan keinginan kita. Sangat menyulitkan bukan, apabila kita harus berangkat ke sekolah atau bekerja jam 8 pagi, namun tidak memiliki kendaraan dan harus mengantre lama di bis? Beruntung kalau sampai di kantor atau sekolah tepat waktu, kalau sudah menunggu dan antre dari pagi namun sampainya kesiangan, ya itu namanya cobaan hidup. Efisiensi dan kemudahan itulah yang membuat kendaraan pribadi, khususnya motor di Indonesia menjadi pilihan utama bagi mayoritas masyarakat kita.

Mewujudkan Transportasi Umum yang Menarik

Apa yang membuat masyarakat mau dan senang menggunakan transportasi publik? Tentunya apabila mereka juga mendapatkan kemudahan dan efisiensi yang serupa dengan apabila mereka menggunakan kendaraan pribadi. Semakin jauh jarak yang harus mereka tempuh, rata-rata masyarakat akan memilih untuk menggunakan kendaraan umum seperti kereta api, pesawat, dan lain sebagainya. Kecuali apabila mereka memiliki mobil sendiri, biasanya masyarakat kita akan lebih memilih menggunakan mobil itu untuk bepergian. Hal ini menunjukkan bahwa kenyamanan dan fleksibilitas masih menjadi pilihan utama dari masyarakat kita.

Bagaimana caranya, agar masyarakat mau mengubah pola berkendara mereka?

Tentunya, transportasi publik harus menjadi nyaman untuk masyarakat. Kenyamanan itu bisa datang dari banyak hal, baik dari segi fisik kendaraan itu sendiri, atau dari segi pelayanan yang diberikan, atau yang lain. Dari segi fisik, misalnya, tempat duduk harus nyaman. Jarak antar penumpang tidak boleh terlalu sempit. Ruang kendaraan juga harus bersih, bahkan wangi, dan juga adem alias tidak gerah. Sopir harus ramah, bahkan kalau bisa lebih ramah dari mbak-mbak penjaga kasir di pasar-pasar. Faktor harga juga tidak kalah penting. Harga boleh mahal asalkan pelayanannya nyaman, tapi secara alami, semakin murah pasti akan semakin banyak orang yang membeli.

Berikutnya adalah masalah tata kota. Banyak orang menggunakan kendaraan itu untuk bekerja, belanja, mengantarkan anaknya sekolah, dan lain sebagainya. Untuk memangkas faktor jarak, maka posisi kantor, sekolah, tempat berbelanja, dan lain sebagainya dapat ditata sedemikian rupa sehingga tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh sekali jalan. Memang untuk merealisasikannya dapat dipastikan membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun sebaiknya pemerintah yang merintis pembangunan di daerahnya memerhatikan penempatan ruang-ruang publik tersebut.

Untuk menjembatani masalah di atas, maka perusahaan atau sekolah dapat memberikan fasilitas antar jemput dengan menggunakan kendaraan yang dimiliki oleh sekolah atau perusahaan itu. Apabila di tengah kerja mereka harus pergi mendadak, dapat dijembatani dengan memberikan kendaraan umum yang dapat disewakan pada para karyawannya. Dengan demikian mereka masih tetap dapat bepergian dengan fleksibel walaupun di tengah jam kantor.

Fleksibilitas memang faktor paling utama yang membuat masyarakat memilih kendaraan pribadi untuk menunjang kenyamanannya berkendara. Namun, saya percaya sebagian besar masyarakat kita masih memiliki kesadaran yang tinggi dan masih memiliki kepedulian yang besar untuk menjaga lingkungan kita agar tidak rusak. Sosialisasi dan penyadaran, melalui lembaga-lembaga pendidikan, sosial media, peraturan pemerintah, dan jalan lain saya ras mampu untuk meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga lingkungan kita agar tidak terjadi kerusakan alam.

Secara prinsip, ada banyak pihak yang harus berperan. Pemerintah menyediakan infrastrukturnya, perusahaan atau sekolah atau ruang publik lain dengan kebijakannya masing-masing, serta masyarakat dengan kerelaannya untuk mengubah gaya hidup saat ini menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai salah satu manusia yang mengemban amanah untuk mengelola lingkungan, saya berpikir inilah saatnya untuk menjaga keseimbangan alam.

----

[1] Global Warming, 20:24 WIB, 5 April 2017.
[2] Global Warming, 20:24 WIB, 5 April 2017.
[3] Global Warming, 20:20 WIB, 5 April 2017.
[4] IPCC Fifth Assesment Report, 2013, hlm. 20. Diakses dari 20:00 WIB, 5 April 2017.
[5] Karl et al., "Possible artifacts of data biases in the recent global surface warming hiatus", Jurnal Science, vol. 348, isu 6242, hlm. 1469-1472, 26 Juni 2015. Didapatkan dari sini, diakses pada 20:33 WIB, 5 April 2017.
Penelitian ini, menurut John J. Bates adalah penelitian yang tidak absah karena menggunakan data-data yang ‘terlalu dipaksakan’. Pembaca bisa melihat pendapat beliau di sini. Namun peneliti lain membela hasil penelitian Thomas R. Karl ini, pembaca dapat melihat di sini.
[6] Global Warming 101, 19:40 WIB, pada 6 April 2017.
[7] Are effects of global warming really bad? 19:53 WIB, pada 6 April 2017. 
[8] Heat Waves Details, diakses pukul 20:08 WIB, pada 6 April 2017.
[10] IPCC Fifth Assesment Report, 2013, hlm. 16, 20:00 WIB, 5 April 2017.
[11] Sustainable Development Goals, 20:34 WIB, 5 April 2017.
[13] Global Emissions by Gas, 21:17 WIB, 6 April 2017.
[14] Overview of Greenhouse Gases, 21:21 WIB, 6 April 2017. 


catatan

Persistency

16.55.00

SMP kelas 2, saat itu saya pertama kali mengenal gitar.

Om Bambang, adik laki-laki ibu waktu itu membelikan sebuah gitar nilon 300 ribuan. Sejak awal kami bersepakat bahwa saya, ponakannya yang bandel ini harus bisa bermain gitar. Tujuannya cuma satu, supaya bisa naik panggung di acara sekolah. 

Impian itu tercapai. Dengan catatan penting; setiap kali saya naik panggung, saya selalu lupa kunci yang harus saya mainkan, kalau tidak begitu, suara saya yang sudah jelek ini bertambah jelek karena bergetar sebab grogi. Jadilah saya tampil memukau. Membuat muka kawan-kawan malu.


Awal kali saya belajar kunci G. Sekitar tiga jam, saya belajar kunci itu terus menerus, bergantian dengan kunci C dan F. Walaupun senar yang digunakan senar nilon, tangan saya yang masih unyu waktu itu tetap merasa kesakitan. Senar nilon adalah senar yang terbuat dari nilon. Dibandingkan senar berjenis string, senar ini lebih 'ramah' bagi tangan. Sehari mengenal gitar, ujung jari tengah dan jari manis saya lecet dan berdarah. Selepas om meninggal, saya belajar sendiri, berbekal buku kord 5 ribuan yang bisa dibeli di pasar malam.

Hari-hari berikutnya saya habiskan dengan belajar gitar. Saya belajar sendiri, dengan niat menjadi musisi. Bahkan saya sampai berkoar-koar akan masuk institut seni di Yogyakarta. Cita-cita yang tidak berdasar ini saya bawa terus sampai SMA, dan karena itulah saya tiap hari rajin belajar gitar, walaupun di tengah-tengah sering sekali saya merasa jengah dan malas. Saya merasa, dari jaman SMP sampai SMA kok ya gak ada perubahan, lama sekali, males banget belajar gitar ini. 

Kalau tidak karena sering diajak membantu kawan untuk recording (halah), saya sudah pasti akan jarang bersentuhan dengan gitar karena dunia tulis-menulis waktu itu mulai menjajah batin saya yang masih labil ini. Sesekali saya masih bermain gitar, hitung-hitung melepas penat, walau niat untuk mengasah skill sampai saya ahli seperti Slash sudah tidak lagi membumi di relung hati. 

*

Masa-masa kuliah adalah masa yang menurut saya, jauh lebih indah dibanding masa sekolah. Saya tidak sepakat dengan Chrisye. Iya sih, kuliah itu ya sekolah, tapi ya tidak sama. Sebutannya saja sudah beda. Ya to?

Nah di masa kuliah ini, ternyata, saya tetap tidak bisa melepaskan 'kutukan' untuk selalu dekat dengan gitar. Beberapa kali saya membantu teman yang akan tampil untuk menjadi pengiring musik di panggung belakang, makanya sering kali saya juga berlatih walaupun sifatnya situasional saja. Ada satu hal yang baru saya sadari, ternyata kemampuan menggitar saya jauh lebih baik dibandingkan saat saya SMP, bahkan saat saya SMA. 

Indikasinya, saya sedikit lebih peka dengan nada. Kedua, jari-jari saya jadi lebih lincah berpindah-pindah kord walau kadang-kala ya masih keserimpet-serimpet. Ketiga, berpindah-pindah nada dasar menyesuaikan rentang nada vokalis juga jadi lebih mudah saya lakukan. 

Pernah suatu ketika, saat hendak mengisi acara tertentu, ya tetap saya sebagai pengiring saja, kami hanya memiliki waktu 1 hari, bahkan kurang dari dua belas jam untuk mencari kord. Alhamdulillah, dengan terbatasnya waktu, saya bisa membantunya mempersiapkan acara tersebut. Saya jadi bersyukur, untung saya masih bisa bermain gitar dengan cukup baik.
*

Sampai saat ini saya masih belajar bermain gitar.

Satu hal yang saya sadari, bahwa kemampuan menggitar saya yang masih amburadul ini saja saya miliki dengan proses yang cukup lama. Artinya, seandainya saya konsisten, rutin dan rajin belajar gitar tiap hari, latihan terus-menerus, tidak peduli dengan rasa malas dan bosan, sudah pasti kemampuan gitar saya akan lebih tinggi.

Ini sudah hukum alamiah, menurut saya. Repetisi akan meningkatkan keahlian. Sudah berkali-kali ini saya dengar hingga saya bosan mendengarnya, namun nyatanya, sulit sekali menerapkan nasihat ini. Sulit sekali konsisten dalam belajar. Saya yakin bukan saya sendiri yang mengalami hal ini, tapi pasti kamu juga iya. Benar kan? Ngaku saja deh lu.

In the end, persistence is the key to mastery. Only they who persist can get the skills.

Selamat belajar, dan bersabar.


catatan

Koridor

19.21.00

*
Beberapa hari yang lalu, di suatu sore, saya yang belum mandi sejak pagi tidak memiliki seorang kawan pun untuk di ajak berbicara. Hanya aku dan diriku sendiri, huu. Mau mengajak ngobrol seseorang lewat media sosial, juga tidak bisa saya lakukan karena rupa-rupanya akun media sosial saya tidak bisa dibuka. Saya lupa kata kunci dan nama akun saya sendiri. Kalau dipikir-pikir lagi, di media sosial pun saya juga tidak punya kawan untuk diajak bicara sih. Sebabnya, di saat sore hari macam kemarin, saya yakin banyak orang yang sedang repot untuk menyiapkan acara tahun baruan. Maklum, walaupun saya (sedikit) tua, kawan-kawan saya (hampir) semuanya merupakan anak-anak muda yang tidak jengah juga untuk terus mengikuti tren walaupun kadang hanya sepintas saja berlalu di dalam angan, tanpa ada hikmah yang didapatkan. 

Karena tak ada kegiatan, pikiran juga sudah suntuk bila mau terus membaca Behavior Anaysis and Behaviour Modification karya Richard Mallot, Mary Tillema & Sigrid Glenn, maka saya memilih untuk jalan-jalan keliling kota. Jangan salah, saya jalan-jalan betulan lo, alias menggunakan kedua kaki saya ini untuk menyusuri setiap jengkal lahan di kota Madiun yang sudah banyak mengalami perubahan. Em, ya tidak setiap jengkal juga sih, hanya melewati beberapa jalan di kota saja. Dengan jaket hitam dan celana OSIS SMA yang masih saya pakai buat sekalipun, dan kebetulan juga sudah saya pakai lima hari berturut-turut, perjalanan sore itu saya mulai. Ada banyak hal yang saya temui di jalanan, dari kucing yang sedang mengamati manusia yang sliwar-sliwir di depannya, sampai beberapa polisi yang mengawasi dan sepertinya mencurigai saya sebagai teroris yang hendak ngebom markas polisi karena kejadian yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini.

*

Mendung memayungi saya, sore itu. Tampaknya sebentar lagi akan hujan. Namun itu tidak menghentikan saya untuk merasakan kenikmatan yang saya rasakan saat berjalan kaki. Pertama, saya bisa berolahraga dan menjaga badan ini setelah seharian penuh duduk dan tidur-tiduran. Pekerjaan saya sehari-hari memang lebih banyak berkutat dengan laptop ataupun meja tulis. Saya pun jarang menggerakkan badan saya. Dari satu jam saya duduk, paling hanya sekitar satu menit saja saya berdiri dan berjalan kaki. Semakin lama saya jadi merasa seperti pohon, batang dan daunnya hanya bergerak bila tertiup angin sementara akarnya hanya bergerak untuk mencari makan. Padahal bila tidak dijaga dengan betul, di masa tua saya yakin saya bisa mati karena penyakit komplikasi. Entah itu kanker prostat campur jantung koroner, entah itu paru-paru jebol campur multiple sklerosis, entah itu kanker kulit, panu, gagal jantung, dan gagal ginjal. Sebagai sosok yang penakut dan inginnya bahagia di masa tua, saya tidak ingin merasakan penderitaan-penderitaan semacam itu. Saya putuskan untuk banyak bergerak. Bahkan resolusi saya di tahun 2017 adalah saya harus rajin olahraga setiap hari. Entah resolusi itu akan bertahan atau tidak. Bukankah banyak resolusi yang hanya sekedar ucapan? 

Angin kota yang bertiup tidak terlalu kencang pada sore hari itu pun membuat saya terasa dimanjakan. Badan saya yang sudah berhari-hari tidak tersentuh air, serasa seperti habis minum larutan penyegar. Pikiran saya terasa sejuk, dan masalah-masalah yang sebelumnya saya pikirkan sampai beberapa helai rambut saya jadi putih untuk beberapa saat terasa ringan. Mungkin saya belum bisa menemukan solusi saat itu juga. Namun bila otak saya rileks dan tenang seperti itu, berpikir menjadi lebih mudah dan jiwa juga bisa lebih optimis menatap masa depan, halah. Di tambah dengan jalanan kota yang sudah mulai sepi, saya bisa menikmati keheningan lebih dalam, seolah-olah keheningan sore itu memeluk saya dari belakang. 

Saya pun menyadari, ada pula keuntungan berjalan kaki lainnya. Kita jadi lebih leluasa dan lebih jeli mengamati jalanan yang kita lalui. Sungai yang saya kira kotor karena airnya cokelat dalam sekilas pandang itu, ternyata di dalamnya terdapat ikan-ikan kecil yang menari-menari mengikuti arus air. Walaupun berwarna cokelat, masih saja ada ikan yang bisa hidup, rupanya. Apa memang biasanya seperti itu? Saya pun tidak mengerti. Mungkin ikan-ikan itu sebagaimana beberapa orang jaman sekarang. Mereka terus menerus mencari rezeki di tengah impitan hidup. Kalau tidak dimakan ikan yang lebih besar, mereka bisa mati karena tidak kebagian udara.

Selain itu, ternyata arus sungai di sekitar jalan Setia Budi ini lumayan deras walaupun volumenya sedikit. Di pojok bawah jembatan banyak sampah yang entah kapan akan dipindahkan oleh dinas kebersihan. Saluran air kotor atau got bawah tanah yang selama ini saya kira tidak lagi digunakan ternyata sudah ditempati oleh para tikus yang tergusur dari kantor. Dan di tengah itu semua, Kota Madiun sudah semakin ramai dengan orang-orang dan industri, namun semakin sepi dari anak-anak kecil yang main bola sepak di tanah lapang seperti saya dulu. Yah, tapi masa lalu memang masa lalu. Saya harus bisa move-on dari kenangan indah waktu SD saat menendang bola sampai berhasil masuk ke rumah orang waktu mereka sedang masak, misalnya. Walaupun saya sangat ingin anak-anak saya kelak bisa main bola tanpa harus masuk stadion.

*

Karena jalan-jalan kemarin itulah, saya baru tahu bahwa saluran air di pinggir jalan dekat markas brimob itu memiliki dua tingkatan. Yang paling bawah adalah saluran untuk mengalirkan air dari barat ke timur, atau sebaliknya. Jadi semacam sungai kecil begitulah. Kebetulan saat saya lihat kemarin, tidak ada air yang mengalir, justru tumbuh rindang rumput-rumput dan lumut-lumut di sepanjang saluran. Sementara di pinggir saluran itu terdapat bangunan semacam dinding yang tampaknya menjadi tempat mengalirnya air yang datang dari seberang jalan sebelum ikut dalam arus lapisan yang paling bawah itu. Tidak ada lapisan yang menutupinya, karena itulah saya bisa berjalan di dalam got tersebut. Lumut yang berwarna hijau gelap dan jaring laba-laba banyak sekali di sana. Lubang-lubang yang terdapat di lapisan kedua itu sepertinya akan menjadi saluran mengalirnya air dari saluran di seberang jalan. Atau bisa jadi sebaliknya, saluran itu adalah tempat mengalirnya air menuju sungai bila debit air yang masuk sudah terlalu besar dan tidak dapat lagi di tampung di saluran kecil itu. 

Sembari berjalan di tengah got itu, mata saya terpikat akan pemandangan para (sepertinya) polisi yang tengah bermain sepak bola. Diam-diam saya kepingin merasakan sensasi menendang bola dan menjebol gawang, atau menepis tendangan dari lawan lagi. Jangan salah, dulu-dulu saya termasuk pemain sepakbola yang ahli dalam berlari. Ya, berlari saja, lainnya saya tak ahli. Dari jauh, di sebelah timur, empat orang petugas tampak mengamati saya. Saya pun segera melanjutkan perjalanan agar tidak dicurigai sebagai orang yang tidak-tidak. Singkatnya saya pun lolos dari kecurigaan mereka setelah melenyapkan diri saya dari tempat itu, untuk menuju sebuah jalan kecil yang letaknya tak jauh dari situ. 

*

Kaki saya terus berjalan; dan mata saya terus memandang sekeliling. Kabel dan tiang pancang rupanya kian banyak; dinding-dinding bangunan sering membuat saya tak bisa memandang lebih dari 20 meter. Semoga pandangan hati saya tidak sependek itu, sehingga saya buta akan kearifan yang dulu sempat kami tinggalkan. Semoga selalu ada koridor-koridor yang masih terbuka sebagai jalan kembali pada keheningan di tengah hiruk pikuk jaman ini.

catatan

Lima Belas Ribu untuk Simbah

18.43.00

‘Kota’ Caruban semakin hari semakin berkembang. Pembangunan jalan tol, alun-alun kabupaten, hingga pembangunan kantor pemerintah. Tak jauh dari sekolah SMA saya dulu, lahan sawah di sebelah utara jalan yang semula luas membentang harus mengalah sedikit dengan kemajuan zaman. Sejak saya masih kelas 11, lahan sawah yang ada di utara jalan itu sudah mulai diubah untuk mengikuti tata ruang pembangunan daerah.

Walaupun perubahan semakin menjadi, ada pula yang masih tetap seperti dulu. Perubahan-perubahan lainnya antara lain; adanya lampu merah di perempatan sesudah toko buah, dekat dengan lapangan yang sering dibuat untuk pasar malam; di dekat pertigaan jalan di samping kiri SMAN 1 Mejayan sekarang pun juga sudah dibangun lampu merah; sebagian tempat yang dulu merupakan pasar Caruban, sekarang sudah disulap menjadi taman kota. Sepertinya tak lama lagi Caruban akan menjadi pusat ekonomi di Kabupaten Madiun. Sepertinya sih begitu. 

Sementara yang masih tetap keadaannya pun tak kalah banyak. Jalan Raya Ngawi di depan RSUD Caruban, masih ramai dengan truk dan bis. Di jalan Raya Ngawi itu ada sebuah kompleks pertokoan. Berjejer-jejer dari ujung ke ujung berbagai macam toko; dari toko telepon genggam, pakaian, sablon, dan lain sebagainya. Ada pula pedagang kaki lima yang mengadu nasibnya dengan berjualan di depan kompleks toko yang sedang tutup. Memanfaatkan tiadanya pemilik toko itu untuk menyulap kompleks pertokoan yang saya kira pasti mahal harganya itu, menjadi sebuah atap dadakan bagi para pembeli.

Siang tadi, setelah pulang dari Madiun melalui jalan raya Wonoasri yang juga tak luput dari pembangunan, saya sempat mampir di salah satu toko telepon genggam  di jalan raya Ngawi itu untuk membeli sim card baru. Kartu sim yang saya pakai selama ini, sangat sulit mendapatkan sinyal bila saya sedang berada di rumah. Akibatnya aktivitas-aktivitas yang memerlukan koneksi internet sangat sulit saya lakukan. Padahal, saya termasuk orang yang tergantung dengan internet. Tanpa internet hidup saya hampa, halah. Tidak seekstrem itu juga, sih. Tapi memang tanpa internet saya agak kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Sambil menunggu mas-mas yang sedang mengaktifkan kartu sim yang baru saya beli, kedua mata saya tergiur oleh segarnya es oyen yang sedang dibungkusi oleh si kakek penjual untuk pembelinya. Porsinya cukup besarlah, tidak terlalu sedikit. Dengan harga 5000, lebih murah seribu rupiah dari pedagang di tempat lain, saya rasa sudah cukup pantas. Kakek itu merupakan salah satu pedagang keliling yang sepertinya cukup sering berada di tempat ini. Sebabnya yang membeli cukup banyak; ada tiga orang seingat saya yang sedang antre ketika saya mengamati beliau. Kalau tidak sering berada di sini, tidak mungkin ada banyak orang yang antre. 

Namun tidak berhenti di situ mata saya jelalatan. Di samping kakek ini, ternyata terdapat pedagang asongan lainnya yang juga tengah mengadu nasib dengan berjualan banyak hal; kerupuk beras, tape, singkong, dan lainnya. Beliau mengenakan baju khas perempuan Jawa (seperti batik itu, aduh lupa namanya) berwarna biru laut. Dengan jarik cokelatnya dia duduk bersandar di pintu geser toko yang sedang tertutup. Di kepalanya terlilit sebuah kain berwarna abu-abu. Saya menduga itu adalah sebuah selendang, atau entah apa.

Kulit nenek itu sudah berwarna cokelat kehitam-hitaman. Wajahnya sudah sangat keriput, tulang pipinya sampai terlihat. Rambutnya juga sudah banyak beruban, bahkan tidak tersisa warna hitam di kepalanya. Semua rambutnya berwarna putih keabu-abuan. Bibirnya berwarna merah pucat, bahkan cenderung abu-abu hitam. Giginya sudah banyak yang ompong, tersisa sekitar empat atau lima gigi di sisi depan yang terlihat seperti tombak runcing yang sudah rapuh. Barang-barang yang ia jual di letakkan di atas sebuah kardus minuman gelas yang sudah tidak terpakai.

“Piroan mbah?” 

Ujar saya dalam bahasa Jawa Ngoko. Artinya kurang lebih berapaan Nek?. 

“Opone le?”

Balasnya dengan sedikit menyipitkan matanya sambil melihat ke arah saya. Apanya Nak, kira-kira begitu yang beliau katakan. Dia menggeser tubuhnya mendekati saya. Mungkin suara saya terlalu lembut sehingga beliau sulit mendengar apa yang saya ucapkan. 

Dengan telunjuk tangan kanan saya menunjukkan bahwa yang saya maksud adalah kerupuk beras yang beliau jual. Bukannya menjawab berapa harganya, saya malah ditanya tersisa berapa. Maka saya pun menghitung jumlah bundelan kerupuk beras yang ada. Rupanya jumlahnya sepuluh bungkus. 

“Sepuluh Mbah.”

“Oooh, sepuluh.”

Setelah itu beliau malah terdiam. Karena bingung apa yang mesti saya lakukan, maka langsung saja saya bertanya, “Sepuluh ribu Mbah?”

“Wooh, ya jangan.”

“La terus berapa Mbah?”

“Seperti biasanya. Kalau yang buat perempuan, seribu lima ratus satu bungkus. Berarti sepuluh dikali seribu lima ratus.”

“Lima belas ribu berarti ya Mbah?”

Saya baru mengerti bahwa sebenarnya nenek ini berharap saya akan membeli seluruh kerupuk beras yang ia jual. Saya berpikir, jangan-jangan memang hanya sepuluh bungkus ini saja yang ia jual. Sebab dari tali rafia yang ia gunakan untuk mengikat bungkus-bungkus kerupuk beras itu, terlihat sangat pas untuk sepuluh bungkus kerupuk. Dan tidak ada tanda-tanda ada bungkusan kerupuk yang sudah diambil sebelumnya. 

“Rumahmu di mana lo?”

“Saya? Saradan Mbah. La kalau Simbah di mana?”

“Ooh, aku Dumpil le. Sudah pernah ke sana?”

Saya tidak asing dengan kata ‘Dumpil’, namun saya lupa tempat itu ada di mana. Menurut adik saya yang lebih familier dengan daerah sekitar Caruban. Rupanya Dumpil adalah salah satu nama daerah di Balerejo. Balerejo dengan tempat ini, saya kira jaraknya lumayan jauh. Paling tidak kalau berjalan kaki bisa pegal lah. 

“Hahaha. Belum Mbah. Ya nanti kapan-kapan saya ke sana ya Mbah.”

Saya merogoh saku kanan jaket hitam saya. Ternyata hanya terdapat selembar sepuluh ribuan dan beberapa koin yang tidak terdefinisikan jumlahnya. Tidak enak karena sudah membuat beliau berharap, maka saya pun mencari-cari uang lain di dalam tas kecil yang saya bawa. Alhamdulillah, ada satu lembar lima ribuan yang sudah sangat kumal seperti wajah saya. 

“Lima belas ribu ya Mbah.”

Kemudian saya menyerahkan dua lembar uang itu. 

Oleh karena beliau tidak memastikan lagi berapa jumlah bungkus kerupuk beras yang saya beli, maka saya sendiri yang menghitung ulang benarkah jumlah kerupuk beras yang ada di hadapan saya itu berjumlah sepuluh bungkus. Satu per satu saya hitung kembali, dan untungnya tepat sepuluh sebagaimana yang saya bilang sebelumnya. Dari situ, maka saya menduga nenek yang saya hadapi saat ini juga menderita rabun. Dari bola matanya yang sudah sayu itu, memang kelopak mata hitamnya cenderung berwarna abu-abu, tidak hitam sepenuhnya. Dengan kata lain, nenek itu sebenarnya tidak tahu betul berapa jumlah kerupuk beras yang ada dan memercayakan sepenuhnya pada saya untuk menghitungnya. Waduh saya jadi khawatir, kalau-kalau saya salah menghitung, sudah pasti nenek itu akan terdzalimi. 

“Nggak beli tapenya sekalian Nak? Satu saja deh, delapan ribu gitu.”

Sekejap saya langsung menolak. Bukan karena tidak ingin membeli, namun karena saya sudah tak punya uang. Dua ratus ribu pemberian ibu sudah lenyap saya belikan bensin; kartu sim; dan headset yang harganya lumayan menguras kantong. Setelah itu kami sedikit tawar menawar; berapa saja deh, itu yang ada di kantong sini buat simbah; nggak usah ya mbah; dan seterusnya. Pada akhirnya, perdebatan saya menangkan. Hohoho. 

“Sudah itu saja ya Mbah. Saya pamit dulu.”

“Iya le. Iya.”

Dengan membawa sepuluh bungkus kerupuk beras itu saya pulang. Sementara nenek itu masih terus berjuang menunggu dagangannya laku terjual. Semoga modernisasi kota Caruban ikut pula membawa jaminan hari tua yang lebih layak bagi mereka yang saat ini kesulitan menyambung hidup. Semoga ada orang lain yang segera membeli tapemu, Nek.

catatan

Hidayah

13.11.00

id.wikipedia.org

Saat SMA, suatu ketika saya pernah berbincang dengan seorang teman. Katanya waktu itu, dia ingin berubah, menjadi seseorang yang lebih baik. Tak tahu saya apa yang menghampirinya waktu itu, mengingat teman saya ini, layaknya teman-teman saya yang lain, dan juga seperti saya sendiri, agak nggak bener tingkahnya. Mungkin ada beberapa bagian sel otaknya yang lambat diregenerasi, atau mungkin ada sinapsis yang putus dan selubung mielin yang terbuka di antara sel-sel otaknya sehingga dia gagal menghubungkan data dengan seharusnya.

Teman saya itu suka menyanyi-nyanyi dengan keras di depan kelas waktu jam pelajaran kosong, dia punya teman khayalan, seperti ‘Samirin’, teman gelembung, dan seterusnya. Kadang kala dia juga bercanda sampai di luar batas dengan orang tuanya sendiri. Maka tak pelak, ketika dia bilang begitu, sisi nyinyir saya tampak kaget. Ini anak kenapa kok tiba-tiba ngomong begini? Tapi di sisi lain saya juga merasa senang, akhirnya berkurang satu orang jiwa-jiwa yang tersesat di kelas saya waktu itu.
Namun perkataan berikutnya membuat saya harus menarik kembali harapan yang telah pupus.

“Tapi tunggu hidayah dari Tuhan dulu.”

*

Tidak sekali saja saya dikecewakan oleh seseorang. Dan tidak sekali pula saya mengecewakan orang lain.

Tapi dalam kesempatan ini, mari kita fokus dulu pada kekecewaan saya.

Tidak sedikit sebenarnya, orang-orang yang menggunakan kata hidayah itu untuk ‘mempertahankan’ perilaku-perilakunya yang bikin sebel orang lain. Misalnya saja saya, selalu menggunakan kata tersebut ketika teman saya bertanya, ‘Kapan kau tobat dari menghutang tanpa mengembalikan Bim?”

“Aku menanti hidayah Tuhan, bro.”

Sambil mengeluarkan air mata dari kedua mata yang kata seseorang indah ini (baca: diri sendiri waktu bercermin), saya  memegang pundak sahabat saya itu, lalu berlutut seolah-olah meminta ampunan pada Tuhan. Dan berikutnya selalu mudah tertebak, dengan rasa sebal yang ditahan dan dengan berbesar hati, dia mengatakan pada saya, “Ya sudah, sudah, cukup sudah.” Mungkin dalam hati dia juga berkata bahwa sakitnya dia itu di sini.

Dari kejadian itu saya jadi penasaran untuk mengetahui apa sebenarnya hidayah itu. Sebab bila tidak diluruskan, seolah-olah untuk menjadi baik itu harus menanti instruksi dulu dari Tuhan. Bila diperdalam, seolah-olah Tuhanlah yang menghendaki apakah seseorang itu jadi baik atau buruk. Dan bukan manusia yang menanggung perilaku yang dia lakukan itu, sebab bila Allah ingin dia baik, ya pasti dia memberikan hidayah to? Padahal saudara-saudara, perilaku seperti ini, pernah dilakukan oleh orang-orang Quraisy yang menantang dakwah Muhammad saat di Mekkah, dengan maksud untuk menantang Allah dan Rasulnya. Apa respons Allah? Woho, silakan liat di Al Qurang, bagaimana Allah mengecam dan mencela orang-orang itu.

Sebenarnya dari pernyataan itu secara implisit juga ada anggapan bahwa hidayah merupakan sebuah bentuk perilaku Allah untuk mengubah kondisi hati atau jalan hidup manusia agar menuju pada kebaikan. Oleh karenanya mereka menunggu hidayah Tuhan, dalam arti menunggu tindakan Allah untuk mengubah keadaan mereka yang katakanlah masih berada dalam keburukan menjadi baik. Apakah betul demikian? Menurut saya tidak. Masalah inilah yang akan saya angkat pada tulisan ini. Bagi yang sudah agak pusing silakan menepi sebentar, supaya tidak bertambah pusingnya. Jangan lupa makan ya? *Kok nyambung ke sini?

Nah sekarang kembali ke hidayah lagi. Sebenarnya, ketika saya mengok kamus besar Bahasa Indonesia, pengertian hidayah itu seperti ini.
Hidayah (n), petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.
Dari sini ada satu hal yang kita tahu bahwa hidayah merupakan sebuah petunjuk atau bimbingan, namun subjek yang memberikan hal ini, spesifik yaitu Tuhan. Artinya, petunjuk atau bimbingan yang tidak datang dari Tuhan tidak dapat disebut sebagai hidayah. Jadi misalnya temanmu memberikan petunjuk tentang bagaimana memasak risoles yang baik dan benar, itu tidak dapat disebut dengan hidayah. Baru misalnya bila kita mendapatkan petunjuk masak risoles langsung dari Allah, itu bisa disebut dengan hidayah.

Mari kita perdalam. Karena hidayah adalah petunjuk atau bimbingan dari Tuhan, apakah petunjuk atau bimbingan itu sebenarnya?

Petunjuk menurut mbah kamus lagi artinya adalah:
1. sesuatu (tanda, isyarat) untuk menunjukkan, memberi tahu, dan sebagainya:
Dalam pengertian pertama ini makna ‘petunjuk’ dekat dengan sebuah tanda atau isyarat, di mana isyarat atau tanda itu berfungsi untuk menunjukkan, memberi tahu, atau yang lain. Artinya, petunjuk adalah sesuatu berupa tanda atau isyarat yang bila kita lihat atau kita tahu akan mengantarkan kita pada sebuah pengetahuan yang diwakili dari sesuatu itu. Misalnya penggunaan kata ‘petunjuk’ dalam pengertian pertama ini adalah pada kalimat seperti ini.

Lampu-lampu di lapangan itu dipakai sebagai petunjuk pesawat terbang yang akan mendarat pada malam hari.

Kata petunjuk dalam kalimat di atas merupakan keterangan fungsi dari kata ‘lampu-lampu di lapangan itu’. Artinya, lampu-lampu di lapangan itu memiliki sebuah makna yang dapat dipahami bagi pesawat terbang yang akan mendarat di lapangan tersebut, seperti menjadi tanda batas lebar lintasan, panjangnya, dan lain sebagainya sehingga pesawat itu dapat mendarat dengan aman.
2. ketentuan yang memberi arah atau bimbingan bagaimana sesuatu harus dilakukan; nasihat;
Pada pengertian yang kedua ini kata ‘petunjuk’ lebih dekat pada pengertian pengetahuan mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu hal. Misalnya kalau kita sedang masak nasi goreng lalu kita lihat buku resep, di sini buku resep tersebut berfungsi sebagai ‘petunjuk’, atau sebuah buku yang mengandung ketentuan mengenai bagaimana kita harus memasak nasi goreng itu. Atau misalnya bila kita sedang masak nasi goreng sambil di awasi Ibu kita, dan beliau berkata, “eh minyaknya kurang itu, seharusnya kamu tambahi biar enak Dek”. Nah, perkataan Ibu itu juga merupakan sebuah ‘petunjuk’, dalam arti bisa menjadi nasihat atau bimbingan yang beliau berikan pada kita untuk memasak nasi goreng itu.
3. ajaran
Dalam pengertian ketiga ini, kata “petunjuk” lebih dekat pada makna ajaran, atau sebuah pengetahuan normatif tentang bagaimana kamu harus hidup, apa yang harus kamu lakukan, apa yang harus kamu cita-citakan, dan seterusnya. Misalnya adalah “petunjuk Tuhan” yang dapat berarti ajaran dari Tuhan.
4. tuntunan; ilham
Nah di sinilah uniknya. Pada pengertian ini kata petunjuk lekat dengan ilham, yang dalam makna kamusnya adalah petunjuk yang timbul di dalam hati manusia. Saya menduga kemungkinan besar inilah yang seringkali menjadi alibi untuk mempertahankan perilaku yang kita lakukan. Kita merasa belum muncul petunjuk dalam hati kita untuk berubah. Namun untuk tulisan kali ini, akan saya fokuskan pada tiga pengertian di atas, sementara untuk pembahasan ilham ini saya akan mengalokasikan waktu dan tulisan tersendiri untuk membahasnya. Oke, deal ya?

Sejauh ini maka secara besaran ada tiga makna kata petunjuk yang bisa disimpulkan. Yaitu petunjuk yang merujuk pada sebuah tanda atau isyarat, petunjuk yang merujuk pada suatu bimbingan atau ketentuan atau nasihat mengenai bagaimana melakukan suatu hal, dan petunjuk yang bermakna ajaran.

Dengan demikian, maka ‘hidayah’ dapat kita maknai sebagai sebuah tanda atau isyarat, bimbingan atau ketentuan atau nasihat mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu, serta ajaran yang berasal dari Tuhan.

Dari sini sudah jelas bahwa hidayah itu bukan perilaku.

Oke baiklah, tapi itu menurut saya masih kurang untuk menjawab ‘tunggu hidayah dari Tuhan’, karena artinya dia sedang menunggu adanya tanda atau isyarat, bimbingan atau nasihat mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu atau ajaran yang berasal dari Tuhan. Pertanyaan berikutnya yang akan saya ajukan oleh karenanya adalah, apakah iya hidayah dari Tuhan itu memang belum datang pada manusia, atau bila sudah datang apakah ia hanya berlaku untuk satu orang tertentu atau dapat berlaku bagi semua manusia?

Ada satu pendekatan yang akan saya gunakan untuk menjawab masalah ini. Yaitu merujuk pada kitab ajaran agama yang datang pada kita. Oleh karena saya seorang muslim, saya akan melihat Al Quran.
Adakah petunjuk yang datang pada manusia?








Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Al Baqarah:2)

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa Kitab yang dijelaskan, atau yang dibacakan kepada Muhammad pada waktu turunnya merupakan sebuah petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Artinya kitab Al Quran itu merupakan sebuah tanda atau isyarat, bimbingan atau nasihat atau ketentuan mengenai bagaimana kita melakukan sesuatu serta ajaran dari Allah untuk orang-orang yang bertakwa atau mereka yang muttaqiin.






Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al Baqarah:5)

Pada ayat ini dapat diketahui bahwa orang-orang yang disebutkan pada ayat sebelumnya, yaitu pada ayat 1 sampai 4 merupakan orang yang tetap mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Artinya orang-orang yang demikian (mereka yang percaya pada apa yang tidak terlihat, melaksanakan salat, dan seterusnya) tetap mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Artinya bila kita ingin mendapatkan petunjuk dari Tuhan, berdasarkan teks ini, maka kita juga perlu menjadi orang-orang yang disebutkan pada ayat ini.






(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (Ali ‘Imran:138)

Dari ayat ini dapat diketahui, bahwa Al Quran (dalam penafsiran) adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Memang secara teks Al Quran adalah sebuah penerangan bagi seluruh manusia. Namun menurut saya sendiri, kata 'penerangan' bermakna sebuah kiasan. Sebab Al Quran secara materiilnya bukanlah sesuatu yang mampu menghasilkan cahaya untuk menerangi kegelapan, misalnya. Sehingga makna kata penerangan ini tentunya merupakan makna konotatif atau kiasan. Apa yang dirujuk dengan kata ini, menurut saya juga tidak berbeda jauh bahwa Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh manusia. Ada yang menarik sebenarnya, mengapa Allah menjelaskan Al Quran untuk seluruh manusia adalah 'penerangan', sementara bagi mereka yang bertakwa disebutkan sebagai 'petunjuk' dan 'pelajaran'. Namun saya tidak akan membahas hal itu di sini.





Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (Ali ‘Imran:96)

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa Baitullah atau lebih tepatnya Ka’bah dalam bahasa kita sekarang ini juga menjadi petunjuk yang diberikan bagi semua umat manusia.





Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf:112)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mencantumkan kata huda/hudan (petunjuk), dan seterusnya.[1]
Sejauh ini pertanyaan apakah datang petunjuk pada manusia, sudah terjawab. Dalam beberapa ayat juga sekaligus dijelaskan bahwa petunjuk itu adalah untuk mereka yang bertakwa, beriman, dan lain sebagainya. Namun ada pula petunjuk yang berlaku untuk manusia secara umum, seperti pembangunan kakbah.

Bila dicari dengan kata kunci 'tanda' atau isyarat', maka kita juga dapat menemukan bahwa Allah telah memberikan tanda bagi manusia di luar hal-hal yang telah disebutkan di atas. Misalnya terlihat dari ayat ini,

Already there has been for you a sign in the two armies which met - one fighting in the cause of Allah and another of disbelievers. They saw them [to be] twice their [own] number by [their] eyesight. But Allah supports with His victory whom He wills. Indeed in that is a lesson for those of vision. (3:13)

Ayat ini menunjukkan adanya tanda pada pertemuan dua pasukan yang saling bertarung. Tanda di sini dalam pandangan saya merujuk pada bantuan Allah dalam bantuan yang diberikan oleh Allah dalam pertempuran yang dialami oleh umat Muslim pada waktu itu. Melihat dari kronologis dan sejarah, ayat ini kemungkinan besar turun di masa sekitar perang Uhud. 

Atau, 


And how many a sign within the heavens and earth do they pass over while they, therefrom, are turning away. (12:105)

Ayat ini lebih bermakna umum, maksudnya tanda di sini dijelaskan oleh Allah tersebar di antara langit dan bumi, di mana pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang melihat tanda-tanda itu setelah melewatinya berpaling ke belakang. 

Dari sini hidayah itu kita identifikasi dalam berbagai bentuk (sejauh data yang saya paparkan), yaitu:
  • Al Quran
  • Tanda yang tersebar di antara langit dan bumi
  • Pertolongan Allah (pada kaum muslim yang berperang)
  • Kakbah 
Bila ditelusuri dalam ayat-ayat yang lain, saya meyakini kita akan menemukan bentuk-bentuk hidayah yang lebih banyak lagi. 

Dari beberapa penelusuran di atas dapat saya menyimpulkan bahwa hidayah Tuhan itu sudah tersedia di sekitar kita. Artinya, kita sudah tidak perlu lagi menunggu adanya 'hidayah' itu. Sebab hidayah itu sendiri sudah tersebar di sekitar kita. Dengan demikian, tanggung jawab untuk mengubah perilaku kita, dengan demikian, ada pada diri kita sendiri. 

Saya meyakini bawa selama pintu hati kita masih kita buka, sekali lagi, masih kita buka, kesempatan untuk berhijrah ke jalan yang lebih baik selalu tersedia.

Sebab hanya mereka yang ‘tuli’, ‘bisu’, dan ‘buta’ yang tidak dapat kembali. Ada pula ayat yang menyebutkan tentang ‘tertutupnya pintu hati’ yang kemudian membuat manusia tidak dapat memahami jalan yang benar.

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ 
(Al Baqarah, 18) 


Lalu bagaimana dengan hidayah sebagai ilham? Tunggu tulisan berikutnya.


[1] Lebih lengkapnya teman-teman bisa melihat di http://corpus.quran.com/search.jsp?q=guidance, atau bisa juga silakan dilihat di Al Quran masing-masing. 

catatan

Kolam Renang dari Misil

20.09.00


ibtimes.co.uk

*

In memory of my grandpa, who taught me that one kindness can fill a whole heart. 
And for you my best friend, I am sorry and thank you.

*

Sebenarnya saya tidak sering membaca berita, khususnya berita-berita internasional. Namun karena beberapa kali ikut membantu persiapan debat teman sejawat, sebagai lawan sparring yang setidaknya harus bisa mengimbangi saat latihan, maka mau tidak mau saya harus membaca-baca berita juga. Hal itu karena mau tidak mau saya harus punya bahan untuk dapat membuat argumen baik jadi tim yang pro atau yang kontra dengan topik yang sedang didebatkan. Ada banyak topik, yang secara menyeluruh sampai sekarang pun masih sulit saya pahami. Oleh karena selain luasnya topik yang diperdebatkan, juga karena sedikitnya waktu untuk benar-benar mendalami tiap bidangnya. Salah satunya berkaitan dengan masalah hubungan internasional. Salah satu tema yang menurut saya sendiri, benar-benar susah bila dijadikan motion debat karena biasanya menyangkut banyak sekali wawasan baik politik, ekonomi, relasi negara, militer, dan lain sebagainya. Motion secara sederhana adalah topik yang akan didebatkan. Tim government memiliki tugas untuk mendukung topik itu apapun caranya, dan tim opposition memiliki tugas untuk menjatuhkan topik itu apapun caranya.

Kasus-kasus konflik internasional, seperti yang terjadi di Suriah saat ini, menjadi salah satu motion debat internasional yang sering muncul dan menjadi momok. Pada tahun 2011, seingat saya, motion dengan judul This House Would invade Zimbabwe, menjadi  motion yang didebatkan World Universities Debating Championship. Viktor Finkel, debater favorit saya dengan timnya mampu memenangkan kompetisi tersebut. Kasus Zimbabwe, secara prinsip tidak sederhana. Ada kemiskinan struktural, tekanan pemerintah, kasus kesehatan, dan lain sebagainya. Di topik ini kita harus berperan layaknya organisasi nonpemerintah kelas dunia yang hendak bertindak mengatasi kasus yang ada di Zimbabwe, atau bisa juga berperan layaknya perkumpulan negara-negara tertentu atau suatu negara tertentu. Jadi misalnya kita berperan sebagai Indonesia, dari mosi itu kita meyakini bahwa Indonesia harus menginvasi Zimbabwe. Pertanyaan yang harus dijawab, apa yang menjadi dasar invasi layak dilakukan dan bagaimana bentuk invasi yang dilakukan itu?

Tapi saya tidak ingin membahas itu lebih jauh, karena selain masih minim pengetahuan saya tentang hal tersebut, sebenarnya saya lebih ingin menunjukkan kepada pembaca tentang apa yang terjadi di luar sana. Barang kali akan menunjukkan kepada para pembaca, sisi-sisi dunia yang mampu menjadi pemicu untuk merumuskan apa yang sebaiknya kamu lakukan di tempatmu sekarang.

Jadi sejak beberapa saat yang lalu saya memfollow sebuah akun yang sering memberikan reportase mengenai bagaimana keadaan orang-orang sipil di kota Aleppo, Suriah. Aleppo merupakan kota yang dikuasai oleh para oposisi pemerintahan Bashar Al-Assad. Pemerintah Suriah ingin menggempur para pasukan oposisi yang sebenarnya terdiri dari berbagai kelompok yang juga memiliki kepentingan masing-masing. Mereka disebut oposisi karena tujuannya secara prinsip memiliki kesamaan yaitu menggulingkan pemerintah Bashar Al-Assad. Kelompok-kelompok oposisi ini secara tidak langsung didukung oleh Amerika, yang memandang sang pemerintah Suriah tidak lagi menghormati hak-hak demokratis warganya dan harus dilengserkan sementara pemerintah Suriah sendiri didukung oleh Rusia. Masih banyak lagi kelompok yang terlibat, seperti para pejuang Kurdistan, Iran, dan lain sebagainya. 

Jadi ceritanya, kota-kota di Suriah itu berada dalam kekuasaan berbagai kelompok yang berbeda. Pemerintah Suriah, kelompok oposisi, pejuang Kurdistan, ISIL/ISIS, Jabhat Fathah al Sham, dan lain sebagainya. Mereka saling berebut wilayah, terutama menguasai jalur-jalur atau tempat-tempat yang penting untuk dimanfaatkan sebagai media mendapatkan bantuan dari pihak luar yang mendukung mereka. Nah ceritanya, menurut beberapa informasi yang saya baca, para oposisi di Aleppo pun mendapatkan suplai dari eksternal, dan karena itulah pemerintah Suriah membumi hanguskan jalur-jalur yang berpeluang untuk menjadi media pengiriman bantuan bagi para kelompok oposisi yang ada di situ.

Aleppo menjadi kota yang mungkin menjadi saksi bagaimana peperangan berbagai kelompok itu pada akhirnya menyengsarakan penduduk yang masih ada di sana. Saya sendiri masih belum tahu mengapa para penduduk di Aleppo tidak segera pindah begitu saja dari kota tersebut. Kenapa tidak pindah saja dari kota yang menjadi battleground pemerintah dan para oposisi itu? Mungkin saya terlalu naif, sebab terbatasnya data yang saya tahu dan pisau analisis yang saya punya, pertanyaan itu sampai sekarang belum terjawab. Yang ada hanya sebatas dugaan saja. Mungkin ada yang tahu? Saya sangat berterima kasih bila ada yang mampu menunjukkan hal tersebut.

Tapi yang jelas, para penduduk di sana, menurut beberapa surat kabar internasional, sebut saja Deutsche-Welle, Reuters, CNN, Guardian, Associated Press, Independent, dan lain-lain, ikut terlibat menjadi pihak yang terkena serangan, atau dalam pemaknaan saya pribadi, menjadi korban perang. Bangunan yang ada di sekitar rumah mereka luluh lantah karena rudal. Rumah sakit[1] dan saluran air[2] juga ikut hancur karena serangan militer pemerintah yang ingin sesegera mungkin melenyapkan kelompok oposisi. Bantuan internasional dari berbagai macam pihak yang ingin membantu, sebut saja PBB kesulitan masuk ke sana pada masa genjatan senjata karena tidak mendapat izin seperti yang dinyatakan oleh PBB[3]. Bahkan pada masa akhir gencatan senjata selama satu minggu kemarin pun, konvoi pembawa bantuan sipil malah hancur karena serangan udara yang entah dijatuhkan oleh siapa.[4] Ada yang bilang Rusia, ada yang bilang milik pemerintah Suriah. Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas kegetiran yang terjadi.

Mereka kehilangan banyak hal; rumah, pasangan, keluarga, aset-aset penting, bahkan mungkin kebahagiaan dan waktu untuk sekedar tidur nyenyak pun hilang. Hari-hari mereka, saya bayangkan dipenuhi dengan kekhawatiran akan keselamatan diri mereka sendiri. Makanan enak, kalaupun ada, pasti sulit untuk dirasakan kebahagiannya. Memang betul, kondisi lingkungan pun mempengaruhi apakah bisa kita merasakan kebahagiaan atau tidak. 

Tapi di tengah-tengah hal itu, di timeline instagram saya, dari sebuah akun yang fokus pada perkembangan konflik Suriah, terdapat sebuah video yang membuat saya terkagum-kagum pada para penduduk yang masih ada di sana, khususnya pada para anak-anak. Dalam video tersebut diperlihatkan bagaimana, anak-anak, yang kebanyakan masih muda belia itu, bermain di tengah kolam yang terbentuk dari bekas jatuhnya misil dari serangan udara. Air yang berasal dari pipa bawah tanah yang patah menggenangi lubang tersebut, mengalir sedikit demi sedikit hingga kemudian membentuk sebuah kolam kecil. Di tengah kolam berdinding tanah itu, anak-anak itu bermain dengan riang.

Mereka bahkan bisa menjelaskan dengan lugas, bagaimana kolam itu terbentuk. Sebuah misil jatuh ke sini, kata mereka. Sebelumnya satu keluarga mati di sebelah sana, katanya sambil menunjuk ke bagian kanan dari tempat ia diwawancarai. Begitu dia ditanya apakah dia merasa bahagia, sambil tersenyum menunjukkan gigi-giginya yang putih (gigi saya kuning, by the way), dia berkata bahwa tentu dia merasa bahagia. Sampai detik ini saya masih terngiang akan kata-kata tersebut.

Saya jadi merasa linglung. Sepertinya saya terlalu sempit dalam melihat sesuatu. Sepertinya saya masih terlalu naif, memandang bahwa segalanya baik-baik saja hanya karena saat ini saya bisa merasakan kebahagiaan, sementara di sisi yang lain banyak terjadi konflik yang butuh solusi. Baru saja kemarin saya membaca berita Suriah ini, eh tahu-tahu hari berikutnya saya membaca konflik di perbatasan Kashmir antara India dan Pakistan yang juga sudah menelan korban. Itu belum selesai, saya juga baru tahu ada kasus penggusuran Bukit Duri di Jakarta yang menurut beberapa berita dan opini yang saya baca melawan keputusan pengadilan negeri alias melanggar hukum. Dan baru minggu lalu saya juga baru tahu tentang kisah perlawanan masyarakat Sedulur Sikep, alias Masyarakat Samin, di daerah Kendeng, melawan pendirian pabrik semen yang berpotensi menghancurkan daerah mereka. 

Saya cukup memahami paradigma pembangunan industrialisasi yang dipakai pemerintah. Kemungkinan besar paradigma pembangunan yang dibangun berasal dari teori modernisasi. Akumulasi kapital dipandang perlu dan menjadi prasyarat perkembangan ekonomi yang berkelanjutan, karenanya kran investasi dan barang-barang kapital alias alat-alat produksi yang mampu menghasilkan barang produksi yang penting seperti misalnya pabrik, jalan raya, dan lain sebagainya harus segera didirikan. Alam harus bisa dieksploitasi sedemikian rupa karena manusia menggunakan hal itu untuk membuat barang-barang ekonomi yang bisa dikonsumsi. Tapi, terlepas dari itu semua, ada orang-orang yang disakiti. Duh, kok saya malah berganti topik pembahasan.

Kembali ke kolam renang kecil tadi. Sepertinya saya perlu belajar pada mereka bagaimana bisa menikmati hidup di tengah kondisi seperti itu. Dari mereka, saya bisa belajar untuk menerima keadaan dan menertawakannya; ikuti saja permainan para pemimpin yang zalim itu sambil berjuang untuk terus hidup; lalu meruntuhkan dan mengubah keadaan sedikit demi sedikit.

Sementara di sisi lain, buat kamu yang sedang belajar, belajarlah yang rajin. Karena ilmumu dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang hadir dan nyata di luar sana; sekalipun sekarang kamu belum merasakannya.

Sekian.

*


[1] Russian, Syrian missiles pound Aleppo, destroy hospital: rebels and aid workershttp://www.reuters.com/article/us-mideast-crisis-syria-idUSKCN12133Z
Lihat juga, “Syria's war: Aleppo hospital bombed again
[3] Patrick Wintour, Julian Borger, “Syrian regime is blocking aid from entering eastern Aleppo, claims UN” 
[4] Julian Borger, Spencer Ackerman, “Russian planes dropped bombs that destroyed UN aid convoy, US officials say”