![]() |
Sumber: id.wikipedia.org. |
Kurang lebih satu minggu lagi hari
raya Idul Fitri akan tiba. Bagi saya, Ramadan tahun ini tidak begitu berbeda
dibandingkan tahun kemarin. Saya ya masih puasa (insyaallah) penuh satu bulan.
Sahur terus, tanpa satu kali pun ketiduran. Bahkan saya lebih sering membangunkan
orang lain untuk sahur. Semoga Ramadan Anda kali ini berhasil dijalankan dengan
sebaik mungkin. Semoga tidak sia-sia, dan mendapatkan pahala dari yang Maha
Esa. Eh, ada satu yang beda ding. Jalinan silaturahmi saya jadi lebih
baik, berkat salah satu teman yang sebenarnya nganu sekali. Siapa lagi kalau
bukan yang punya blog alkerukma.blogspot.com itu.
Ada hubungan antara Ramadan dengan
rasa malu yang kita miliki. Tentunya, rasa malu yang saya maksud berhubungan
dengan perilaku kita dengan Tuhan. Seterusnya saya akan menuliskan bahwa
menurut saya, Ramadan yang berhasil, salah satu indikatornya adalah Anda
bertambah malu terhadap Tuhan. Apa maksudnya dan bagaimana kok bisa begitu,
insyaallah juga akan saya jelaskan.
Sebenarnya baik dalam bulan Ramadan
atau di luar bulan Ramadan, rasa malu dalam beberapa pandangan yang berkembang
pada umumnya memiliki nilai yang penting. Ada hadis Rasul yang menyebutkan bahwa
perkataan para rasul yang termasuk paling awal untuk manusia adalah bila kita
tidak memiliki malu, maka berbuatlah sesukamu. Ada pula yang menyatakan bahwa
rasa malu adalah hal yang baik, karena itu menjaga seseorang dari keburukan.
Mari kita mulai dari masalah
pengertian. Dari pendekatan bahasa, rasa malu dalam bahasa arab termasuk salah
satu kata yang merupakan turunan dari kata hidup (al hayat), yaitu al-haya'.
Hubungan leksikal ini menurut beberapa penjelasan yang saya temukan menunjukkan
bahwa rasa malu itu erat kaitannya dengan kehidupan seseorang. Hidup yang
dimaksud adalah hidupnya jiwa, tidak sekedar hidup mangan-turu[1]
saja. Orang yang memiliki rasa malu adalah orang yang hidup, karena
perilakunya sesuai dengan kaidah atau norma yang seharusnya dia lakukan. Dia
akan berperilaku dengan hati-hati, supaya tidak melakukan hal yang keliru dan
merugikan, atau tidak sesuai dengan apa yang harusnya dia lakukan. Bila dia
tidak lagi memiliki rasa malu, maka hilanglah penjaganya untuk berperilaku seperti
itu, mulailah dia berperilaku sekehendak hatinya sendiri.
Sementara kalau teman-teman mencari
makna 'malu' dalam bahasa Inggris, akan menemukan lebih banyak varian lagi. Ada
shy, shame, embarrassment, ashamed, dan seterusnya.
Perbedaan istilah itu menunjukkan setidaknya perbedaan rasa malu. Atau dengan
kata lain, rasa malu itu dikategorisasi menurut beberapa rasa, begitu mungkin
biar lebih mudah diabstraksikan. Ada rasa malu yang muncul dalam hubungan
sosial, dalam bahasa Inggrisnya digunakan kata shy untuk menunjukkan
rasa malu ini. Rasa malu tipe ini menunjukkan perasaan was-was saat hendak
bertemu dengan orang lain, berkomunikasi, dan sejenisnya. Sebenarnya mereka
ingin bertemu, ngobrol, dan sejenisnya, tapi mereka was-was atau khawatir,
takut-takut, saat melakukan interaksi sosial. Kalau dalam film, paling gampang
biasanya diabstraksikan melalui cerita dua orang yang saling menyukai tapi malu
untuk bertemu. Gimana, kalau pakai contoh begini, pasti paham to?
Ada lagi rasa malu yang dilekatkan
dengan perasaan yang muncul setelah seseorang melakukan tindakan yang dianggap
keliru oleh masyarakat atau orang lain, atau dengan kelompok sosial yang dia
ikuti. Bayangan atas citra diri yang berubah menjadi negatif atau buruk,
perubahan pandangan orang terdekat yang dia miliki setelah mengetahui tindakan
tersebut, dan seterusnya diikuti dengan rasa hati yang tidak enak dan keinginan
untuk melupakan atau tidak lagi mengulangi, atau sejenisnya, adalah gambaran
wujud rasa malu yang kedua. Pernah mengalaminya kan? Misalnya ketika di
lingkungan kita biasanya ikut salat tarawih, tapi kita tidak ikut, maka kita
merasa malu sendiri, ya to?
Ada lagi rasa malu tipe berikutnya. Sebenarnya
perasaan malu ini tipe ketiga ini tidak berbeda jauh dengan tipe kedua. Bila dalam
tipe kedua rasa malu itu muncul setelah melakukan tindakan yang berlainan
dengan norma, maka yang ketiga ini sifatnya muncul sebelum seseorang melakukan
perilakunya tersebut. Pernah merasakannya to? Misalnya saat kalian ingin
menyontek waktu ulangan, kemudian sebelum benar-benar menyontek kalian jadi
ragu, takut kalau ketahuan dan membayangkan bagaimana nanti kalau orang lain
tahu ternyata kita berperilaku seperti ini, dan seterusnya. Inilah rasa malu
yang kita perlukan agar tetap berperilaku sesuai dengan norma yang kita miliki.
Tapi, bukankah ukuran rasa malu itu
berbeda? Bagaimana kalau di lingkungan sekitar kita sudah terbiasa menyontek,
dan semua orang tahu dan biasa saja dalam melakukan hal itu, apakah mungkin
rasa malu itu bisa muncul? Yap, saya termasuk orang yang meyakini bahwa mungkin
terjadi perbedaan ukuran rasa malu di masyarakat atau kelompok sosial yang
berbeda. Dan ini adalah hal yang wajar mengingat mungkin terjadi pengalaman
yang berbeda dan menghasilkan sebuah tata aturan yang berbeda antara masyarakat
satu dengan yang lainnya. Namun demikian, sebagai umat muslim, sudah terdapat set
of rules atau norma atau kaidah etika yang berlaku bagi setiap umat muslim.
Saya tidak akan membahasnya lebih jauh agar tidak menggeser topik bahasan kali
ini. Pokoknya kita sudah punya pegangan, dan pegangan itulah yang harus kita
terapkan dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. Benar to? Artinya, gak
patek’en[2],
entah kamu orang Indonesia, Belanda atau londo, Jepang atau Nippon, Korea
Selatan maupun Korea Utara, Afghanistan, Turki, Syria, Aljazair, Suriname,
bahkan Kampung Durian Runtuh rumahnya Upin dan Ipin pun, selama kamu muslim, ya
kamu tetap harus berpegang pada peraturan itu.
Sekarang coba kita lihat di bulan
puasa ini, apa yang terjadi. Anda puasa, betul? Tapi siapa yang benar-benar
tahu kalau Anda puasa? Misalnya setelah sahur, Anda pergi ke kamar mandi lalu
ngemil kerupuk atau nyeruput air bak, siapa yang tahu? Setelah itu tinggal ke
luar dan macak kelaparan dan kehausan saja. Misalnya Anda pergi ke
tempat terpencil, buka situs-situs nganu, setelah itu kembali ke teman-teman Anda
dengan berwajah seperti menahan beban bisul tujuh turunan, juga tidak ada yang
tahu. Inilah ibadah yang paling bisa Anda sembunyikan kalau batal. Salat, kalau
Anda kentut, wah siapa saja bisa langsung tahu Anda batal. Kalau Anda tidak
khusyuk, ya kita semua sama-sama tahulah. Zakat juga bisa diidentifikasi kalau Anda
belum membayar, tinggal didatangi saja semua panitia zakat yang ada di sekitar Anda
kalau kita mau repot, biar benar-benar tahu apakah Anda sudah zakat atau belum.
Tapi kalau puasa, tanpa perlu keahlian menyembunyikan bukti apa pun Anda sudah
bisa batal tanpa orang tahu. Maka di situlah rasa malu Anda yang berperan untuk
menjaga agar tidak batal dan kehilangan nilai ibadah puasa ini.
Selama 30 hari kita dilatih untuk
senantiasa malu kepada Tuhan. Kita dilatih untuk menyadari bahwa Tuhan selalu
melihat waktu kita celingak-celinguk mencari makanan, tanpa sengaja (atau
disengaja) lihat lawan jenis yang menggoda, saat Anda ngamuk-ngamuk dan
mencak-mencak misuh ke pengendara yang ugal-ugalan di tengah jalan, dan saat Anda
mengabaikan hak orang lain yang terus saja kelaparan sepanjang bulan Ramadan. Gusti
Allah ngerti, dan kalau Anda mawas diri dan benar-benar melakukan puasa, kamu seharusnya
malu dan menjadi lebih hati-hati. Memang secara tekstual Allah sudah
menyebutkan kalau kita puasa di bulan Ramadan ini agar kita menjadi bertakwa. Dan
saya pikir, memiliki rasa malu kepadaNya bila berperilaku yang tidak senonoh
adalah salah satu dari wujud takwa kepadanya.
Dengan demikian, meningkatnya kadar ‘kemaluan’
(baca: rasa malu yang ada dalam diri kita saat hendak berperilaku menyimpang)
dapat dianggap sebagai berhasilnya kita dalam menjalani ibadah puasa ini. Memang
malu kepada Tuhan itu susah-susah gampang. Iya, susah memulainya, tapi gampang
hidup Anda kalau sudah berhasil melakukannya. Karena setiap perjalanan dan
langkah yang Anda tempuh, tidak pernah lepas dari petunjuk yang diberikan
oleh-Nya.
Sekian.